
Raden Mas Tirto Adhi Soerjo lahir pada tahun 1880 di Blora, Jawa Tengah. Ia merupakan tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional yang dikenal sebagai pelopor organisasi elite prijaji Jawa dengan nama organisasi Sarikat Dagang Indonesia.
Tirto berasal dari keluarga bangsawan yang ia dapatkan dari mendiang ayahnya, keturunan Bupati Bojonegoro yang mendapatkan gelar tertinggi dari pemerintah Belanda. Keturunan ningrat ini juga ia dapatkan dari ibunya, dan menjadikannya sebagai keturunan Mangkunegara I sekaligus keturunan ke-4 Bupati Blora.
Setelah kedua orang tuanya meninggal, Tirto diasuh oleh neneknya. Neneknya tidak suka dengan perlakuan pemerintah kolonial yang banyak menindas rakyat, khususnya pribumi. Dari didikan neneknya inilah kemungkinan watak Tirto yang berani terhadap pemerintah mulai terbentuk.
Tirto dikenal sebagai “Bapak Pers Indonesia” karena sumbangsihnya yang fundamental. Melalui penanya, Tirto mengubah haluan narasi berita yang pada saat itu terfokus pada pencetakan ulang surat kabar pemerintah, menjadi tulisan yang mengeraskan suara jeritan rakyat yang tertindas.
Dalam tangannya, pers menjelma bagai belati, membangkitkan persatuan untuk melawan kolonialisme. Menurut Tirto, jurnalis memiliki tanggung jawab lebih. Jurnalis tidak sekadar menulis lalu menyebarkan, tetapi lebih jauh dari itu, jurnalis adalah “Pengawal Pikiran Publik dan Pembangun Kesadaran Bangsa”.
Tidak ada tanggal pasti kapan gelar tersebut disematkan kepada Tirto, gelar ini diberikan secara informal sebagai pengakuan atas karya dan tulisannya yang mengawali pergerakan pers di Indonesia. Tepatnya pada tahun 1973, Dewan Pers Republik Indonesia secara sah memberikan gelar tersebut.
Umumnya, keturunan ningrat memilih untuk menempuh pendidikan di sekolah pegawai negeri agar setelah lulus dapat dengan mudah memperoleh posisi yang baik di pemerintahan. Namun, Tirto mengambil keputusan yang berbeda dengan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dokter Jawa STOVIA (School tot Opleiding van Indlandsche Artsen) pada tahun 1894. Akan tetapi, tirto tidak berhasil menyelesaikan pendidikan kedokterannya karena dicurigai telah memberikan resep tanpa izin kepada sahabatnya yang berasal dari kalangan Tionghoa miskin.

Tirto mulai berkecimpung di dunia surat kabar sejak menjadi penulis di Pembrita Betawi. Dan tak butuh waktu lama, setahun kemudian Tirto sudah dipercaya menjadi pimpinan redaksi Pembrita Betawi. Barulah pada tahun 1903, Tirto mulai menerbitkan surat kabarnya sendiri, yaitu Soenda Berita. Berjalan 3 tahun, Soenda Berita ditutup karena mengalami kebangkrutan pada tahun 1906.
Tahun 1907, Tirto melakukan perlawanan melalui penerbitan koran “Medan Prijaji” sebagai kritik atas kolonialisme Belanda di Nusantara. Surat kabar inilah yang dikenal sebagai surat kabar nasional pertama yang menggunakan bahasa Melayu. Yang mana seluruh pengelolaannya mulai dari percetakan, penerbitan, bahkan wartawannya adalah pribumi asli Indonesia.
Seiring bertambahnya gelombang keberanian, hadirlah surat-surat kabar lain milik pribumi, bahkan tak jarang didominasi oleh kaum perempuan. Tujuannya agar perempuan tetap ikut andil dan tetap memiliki ruang, di tengah patriarki yang masih kental.
Surat Kabar Soeloeh Keadilan (1907) adalah pendamping Medan Prijaji, yang lebih fokus pada berita seputar hukum dan peraturan ketatanegaraan. Ada juga Poetri Hindia (1908) sebagai media pertama konten perempuan, garda terdepan untuk memuliakan para perempuan.
Tirto sering kali terkena kasus akibat tulisannya yang tajam terhadap siapa saja yang dianggapnya bersalah. Tanggal 7 Desember 1918, Tirto menghembuskan nafas terakhirnya setelah menjalankan 2 kali pengasingan di Lampung.
38 tahun yang dijalani Tirto selama hidupnya terasa singkat, bahkan untuk membersamai perjuangan panjang menuju kemerdekaan Indonesia. Tirto memang tidak semasyhur Soekarno sang proklamator, namanya jarang terekspos masyarakat luas. Namun melalui tulisan-tulisannya, Tirto bagai hidup kembali beriringan dengan suara keadilan yang kian bergema. Sang pena harapan telah menghantarkan Indonesia pada kemerdekaan yang abadi.
Penulis: Anisa Aulia Putri
Proofreader: Adilah Hidayati