Hari Kebaya Nasional: Mengenang Sejarah, Menyulam Bangga

Indonesia, dengan kekayaan budayanya yang beragam, telah lama dikenal sebagai tanah kelahiran produk budaya yang memukau. Salah satu mahakarya budaya yang paling berharga adalah kebaya. Dengan segala keanggunan dan sejarah panjangnya, kebaya telah menjadi simbol identitas perempuan Indonesia dan warisan budaya yang tak ternilai. Sebagai bentuk pelestarian dan kebanggaan terhadap warisan budaya yang mendalam ini, […]

Read More

Kantor Tipuan, Rutinitas Serius: Cara Anak Muda China Menyiasati Pengangguran

Setiap pagi, deretan kursi di sebuah ruang kantor di China mulai terisi. Ada yang membuka laptop, ada pula yang sibuk mengetik sambil menyeruput kopi. Suasananya seperti kantor pada umumnya, namun tidak satu pun dari mereka memiliki pekerjaan sungguhan. Mereka datang ke kantor palsu, tempat yang sengaja dirancang menyerupai ruang kerja profesional, lengkap dengan Wi-Fi, meja […]

Read More

Liburan Mahasiswa ke Bandung: 3 Hari 3 Malam Cuma Rp600 Ribuan, Ini Itinerary & Tipsnya!

“Dari mie instan, Golesat mandek di tengah jalan, sampai petik stroberi sambil dilahap, semua kami nikmati pakai bujet mahasiswa.” Kami berlima, berangkat dari Pesantren Takhasus IIQ Jakarta, membuktikan bahwa liburan berkesan tak harus menguras dompet. Dengan bujet sekitar Rp600.000 per orang, kami berhasil menjelajah Lembang dan Ciwidey selama tiga hari tiga malam. Semua dirancang dengan perencanaan matang, mulai […]

Read More

Suara Dibalik Bayangan: Akun Anonim yang Menguak Sisi Kelam SMAN 4 Kota Serang

Di balik keberanian akun anonim @savesmanfourkotser yang mengguncang publik, tersembunyi sosok atau mungkin banyak sosok yang menulis dengan tangan gemetar danmengunggah dengan rasa takut. Mereka melawan ketidakadilan sambil terus menatap kebelakang, karena mereka tahu: sewaktu- waktu bisa diseret, dihilangkan, bahkan dikorbankan. Akun ini muncul di Instagam sebagai bentuk perlawanan diam yang akhirnya bersuara. Dengan keberaniannya, mereka mengungkapkan sisi kelam SMAN 4 Kota Serang, sebuahinstitusi pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman untuk bertumbuh, justru berubah menjadi ruang gelap yang penuh tekanan. “Sudah cukup suara-suara dipaksa diam, sudah terlalu lama siswa dipaksa tunduk oleh sistembusuk, yang berlindung dibalik label “pendidikan”. Dan sekarang lah waktunya membukasuara,” tulis akun tersebut dalam salah satu unggahannya. Dengan nama yang disembunyikan, wajah yang disamarkan, tapi hati yang hancur tiap kali kebenaran diinjak-injak di depan mata, mereka tetap tegar bersuara. Bukan karena tak punyarasa takut, tapi karena dunia perlu tahu, bahwa mereka sudah muak terus diam – dipaksamewajari hal-hal yang sebenarnya tak wajar. Bagaimana jadinya jika sosok guru yang semestinya menjadi pendidik, pelindung, danpanutan, justru menjadi pelaku pelecehan terhadap siswanya sendiri? Lebih tragis lagi, ketikasekolah yang seharusnya menciptakan ruang aman bagi proses tumbuh kembang anak, malahmelindungi pelaku pelecehan tersebut? Itulah yang terjadi di SMAN 4 Kota Serang. Dilansir dari banpos.co, mantan kepala sekolah SMAN 4 Kota Serang, Ade Suparman, angkat bicara terkai isu ini, ia mengakui adanya kasus pelecehan yang dilakukan oleh seorangguru laki-laki terhadap siswi perempuan. Ia menjelaskan bahwa kasus tersebut sudah lama “diselesaikan secara kekeluargaan” dan kedua belah pihak pun sudah berdamai. Namun respon kepala sekolah tersebut justru menyulut kemarahan publik, khususnyawarganet. Bagaimana bisa pelecehan seksual terhadap anak bisa dianggap selesai hanyadengan “perdamaian”? Lantas di mana posisi keadilan bagi korban? Bagaimana dengan lukapsikologis yang tak terlihat namun sulit untuk disembuhkan? Apakah benar sebuahperdamaian cukup untuk memberi efek jera? Dan yang lebih penting lagi, apakah itu dapatmenjamin si pelaku tidak akan mengulanginya pada korban lain? Kejadian ini bukanlah kasus tunggal. Dari angkatan ke angkatan, hingga alumni, banyak yang mengeluhkan pengalaman dan keresahan yang sama, dan semua tertuju pada satu nama yang sama. Dengan banyaknya pengakuan dari saksi dan korban ini, munculah satu pertanyaanbesar: mengapa oknum yang sudah berulang kali disebut melakukan perbuatan keji tersebut, hingga kini masih dibiarkan mengajar? Apakah karena demi menjaga “citra baik” sekolah? Di balik diamnya institusi, ada banyaksuara yang dipaksa redup. Saat mereka mencoba bersuara untuk meminta keadilan, merekadiancam, dipanggil ke ruangan, dan dipaksa untuk bungkam. Padahal rusaknya nama baik sekolah bukanlah karena mereka yang bersuara, melainkanmereka yang menutup mata dan membungkam kebenaran. Tidak hanya kasus pelecehan seksual, akun tersebut juga mengungkap dugaan adanyapungutan liar dan bisnis dalam sekolah, ekstrakulikuler yang semestinya menjadi wadahpengembangan bakat dibiarkan mati tanpa dana, intoleransi dengan keberagaman agama, ruang kelas yang tidak memadai, hingga adanya eksploitasi guru honorer.  Tudingan-tudingan tersebut di tanggapi oleh pihak sekolah. Dikutip dari Banten.viva, pihaksekolah menegaskan semua tuduhan tersebut tidak sepenuhnya benar, dan mereka telahmengambil langkah tegas dan transparan. Untuk kasus pelecehan seksual pun sekolah telahmelapor ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Kepegawaian Daerah ProvinsiBanten untuk dapat ditindak lanjuti. Mengambil pelajaran dari isu tersebut, @Savesmanfourkotser bukan sekadar akun anonim. Iaadalah cermin dari keresahan yang selama ini dikubur dalam-dalam oleh banyak siswa, danmungkin oleh banyak sekolah lainnya. Ketika institusi tak lagi mampu melindungi, ketikasistem hanya menjaga citra dan bukan kebenaran, maka suara-suara seperti ini harus terusmuncul, bahkan dari balik ketakutan. Kini, publik tidak lagi bisa menutup mata. Kebenaran meski datang dari akun tanpa nama, tetaplah kebenaran. Pertanyaannya bukan lagi apakah sekolah ini bersalah atau tidak, melainkan: mengapa suara korban selalu terlambat didengar? Mengapa harus menunggusebuah akun viral agar keadilan mulai dibicarakan? Perlu kita pahami, perubahan tidak akan datang jika suara terus dibungkam, jika pelanggaran dibalut dengan “perdamaian”, dan jika citra lebih penting dari nurani. Pendidikan seharusnyamenjadi ruang yang membebaskan, bukan menekan. Penulis: Aisyah Humaira Proofreader: Anisa Aulia Putri

Read More

Tirto Adhi Soerjo: Sang Pena Harapan di Tengah Ketidakadilan

Raden Mas Tirto Adhi Soerjo lahir pada tahun 1880 di Blora, Jawa Tengah. Ia merupakan tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional yang dikenal sebagai pelopor organisasi elite prijaji Jawa dengan nama organisasi Sarikat Dagang Indonesia. Tirto berasal dari keluarga bangsawan yang ia dapatkan dari mendiang ayahnya, keturunan Bupati Bojonegoro yang mendapatkan gelar tertinggi dari pemerintah […]

Read More

AS Berlakukan Tarif 32% untuk Produk Indonesia: Negosiasi Dikebut

Jakarta, 10/7/2025 — Pemerintah Amerika Serikat mengonfirmasi akan memberlakukan tarif impor sebesar 32% untuk seluruh produk asal Indonesia mulai 1 Agustus 2025. Kebijakan ini menjadi bagian dari tarif resiprokal yang sempat ditunda selama 90 hari sejak April lalu. Kronologi Singkat 7 Juli 2025: Presiden Donald Trump menandatangani surat resmi kepada Presiden RI Prabowo Subianto yang […]

Read More

KKL IIQ Jakarta 2025: Merajut Ilmu dan Pengabdian dalam Spirit Al-Qur’an, Perempuan, dan Konservasi Lingkungan

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta tahun ini kembali hadir dengan semangat pengabdian yang kuat dan tujuan yang bermakna. Mengangkat tema besar “Al-Qur’an, Perempuan, dan Konservasi Lingkungan,” KKL 2025 menjadi wadah implementasi ilmu sekaligus ruang tumbuh bagi para mahasiswa untuk mengenal langsung dinamika sosial, budaya, dan ekologi masyarakat desa.Bagi Lubna Syhahira […]

Read More

Bukan Hanya Rebahan, Ini Gaya Healing Mahasiswa IIQ Jakarta yang Penuh Arti!

(1/7/2025) Akhirnya, liburan datang juga! Setelah berminggu-minggu sibuk dengan tugas yang menumpuk serta ujian yang tidak ada habisnya, kini mahasiswa bisa menarik napas lega. Momen yang paling dinanti pun tiba. Saatnya memberi jeda untuk diri sendiri, rehat sejenak dari padatnya rutinitas akademik yang menguras pikiran. Ada banyak cara healing yang bisa dilakukan mahasiswa Institut Ilmu […]

Read More