Dalam berbagai momentum yang biasa diperingati, saya sering kali berharap agar kita bisa turut menyelami hari tersebut. Misalnya Hari Anak Sedunia ini. Hari Anak Sedunia tidak terlepas dari hak-hak anak yang harus diwujudkan dan dibuka ruang empati seluas-luasnya.
Ringkasnya, hak ini meliputi kemerdekaannya dalam belajar dan berkembang (growth), pemenuhan welas asih (love language), kebutuhan materil (finance), hingga jembatan menuju ketakwaan (faith), yang dibina oleh si pendidik, entah orang tua, walinya, ataupun tenaga pendidiknya seperti guru di sekolah.
Melihat kondisi saat ini, pemenuhan hak di atas justru kerap bertolak belakang. Banyak orang tua yang mendidik dan membesarkan anaknya dengan pernyataan yang tidak logis, seperti saat anak jatuh maka benda di sekitarnyalah yang menjadi objek akar masalah. Misalnya, “Cup-cup, kursinya nakal ya!,” atau bahasa cinta orang tua yang tidak bisa menghangatkan anak, justru terkadang protektif, sehingga orang tua justru menjadikan anak itu tertekan, dan berimbas pada hubungan sosialnya.
Dapat kita temui pula dari hak materil sang anak, kurangnya perhatian dalam hal ini maka akan memungkinkan dua hal; pertama, sang anak berupaya keras memenuhi kebutuhannya (survive) yang menguras waktu dan tenaganya, sehingga membuat tubuhnya rentan, merasa lelah dan tidak fokus dalam tingkat akademiknya. Kemudian yang kedua, bahkan lebih naasnya lagi memungkinkan keadaan anak yang memiliki hasrat untuk mengambil hak orang lain, contohnya mencuri atau merampas barang milik temannya.
Terakhir, keimanan (faith). Tanpa sadar, keimanan dan ketakwaan sebenarnya menjadi puncak dari beberapa hal di atas. Tanpa keimanan, kita kerap kesulitan dalam menyelaraskan segala kebutuhan dalam kehidupan kita.
Saya melihat realitas anak-anak di sekitar saya yang pertumbuhannya dibangun dengan fondasi keimanan. Shalat subuh dan isya, misalnya. Maka yang melekat dalam hal ini menjadikan anak tersebut memiliki respon terhadap kewajiban. Singkatnya, kedisiplinan belajar dan sikap telah terbentuk dari pemenuhan kewajiban fardu syar’i. Kredibilitas dalam intelektualitas seorang anak pun meningkat beriringan. Mengapa demikian? Sebagaimana kita ketahui, fadilah atas pelaksana ibadah di atas akan memenuhi personalia dari segi rasionalitas, spiritualitas, dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana dengan sikap anak? Tentu terbentuk menjadi insan yang arif.
Dalam aliran kalam mengenai proyeksi keimanan, salah satu hasil ibadah adalah dengan terbentuknya insan yang berjiwa tenang, penuh tanggung jawab, solutif, inovatif, adaptif, dan kritis. Tentu komponan tersebut dibutuhkan dalam perkembangan di anak.
Maka dari itu, mari menjadi pendidik yang terdidik. Kita perlu belajar untuk mengajar. Mari beraras jiwa yang penyayang, demi tumbuhnya seorang anak yang kelak menjadi manifestasi maha indah ciptaan Tuhan.
Penulis: Hamidah Nuroh