Dulu Wajib, Kini Dipertanyakan: Nasib Film G30S/PKI di Mata Generasi Muda

INTERPRETATIVE
source images: serayunews.com

Setiap akhir September, generasi 80-an dan 90-an banyak yang masih ingat ritual menonton film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Film besutan Arifin C. Noer ini pertama kali dirilis pada 1984 dengan durasi sekitar 271 menit (lebih dari 4 jam). Pada masa Orde Baru, film tersebut bukan hanya tayangan televisi, tetapi juga diwajibkan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari penanaman sejarah.

Memasuki era Reformasi, film ini berhenti diputar secara rutin di televisi nasional. Banyak sejarawan kemudian mengajukan kritik. Bonnie Triyana, misalnya, menyebut film ini sarat propaganda politik, sementara Asep Kambali, pendiri Komunitas Historia Indonesia, menekankan bahwa film tersebut lebih tepat dipandang sebagai karya sinema daripada satu-satunya sumber sejarah.

Survei Tirto.id bekerja sama dengan Jakpat (23 September 2025) menunjukkan bahwa 59,60% anak muda pertama kali mengenal peristiwa G30S/PKI dari pelajaran sekolah. Menariknya, 37,76% dari mereka mencari informasi tambahan dari sumber lain, sebuah tanda bahwa generasi sekarang lebih kritis dalam menelaah sejarah.

Berikut Fun Fact yang jarang diketahui:

  1. Film termahal di masanya: produksi film ini menelan biaya sekitar Rp800 juta pada 1984, angka yang sangat besar untuk ukuran industri film Indonesia saat itu.
  2. Durasi super panjang: dengan waktu tayang lebih dari 4 jam 30 menit, film ini menjadi salah satu film Indonesia terpanjang yang pernah diputar di televisi nasional.
  3. Monumen Lubang Buaya Yogyakarta: selain di Jakarta, Yogyakarta juga memiliki monumen “Lubang Buaya”, lokasi ditemukannya jenazah Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono yang menjadi korban peristiwa 1965.
  4. Generasi baru kritis: banyak mahasiswa kini menonton film ini bukan untuk “takut”, melainkan untuk membandingkan dengan literatur sejarah yang lebih beragam.

Bagi Gen Z, Pengkhianatan G30S/PKI bukan lagi tontonan wajib, melainkan ruang diskusi. Mereka mempertanyakan keakuratan adegan, nasib keluarga korban yang jarang diangkat, hingga bagaimana peristiwa 1965 dipahami secara lebih luas.

Sejarah, pada akhirnya, tidak berhenti pada satu versi. Ia hidup melalui keberanian generasi untuk bertanya, meneliti, dan memastikan bahwa ingatan kolektif bangsa tidak hanya diwariskan, tetapi juga dipahami dengan lebih jernih.

Penulis: Sufa Alwafiah Jamyza

Proofreader: Anisa Aulia Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *