Tegap Mengibarkan Merah Putih: Paskibraka Nasional 2025 di Panggung 80 Tahun Indonesia Merdeka

Peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2025 diwarnai dengan berbagai persiapan, salah satunya kehadiran Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional yang selalu menjadi sorotan. Bukan sekadar seremonial atau gimik belaka, pasukan ini terdiri dari putra-putri terbaik dari setiap provinsi di Indonesia yang terpilih melalui proses ketat, sehingga keberadaannya menjadi simbol kebanggaan […]

Read More

Fakta-Fakta yang Jarang Terungkap di Balik 17 Agustus

Tanggal 17 Agustus selalu identik dengan upacara, lomba rakyat, dan nuansa merah putih di mana-mana. Tapi di balik kemeriahan itu, ada kisah-kisah kecil yang jarang sekali dibahas bahkan nyaris terlupakan. Di tahun 1945, suasana Jakarta sedang tegang. Jepang baru saja menyerah kepada sekutu pada 15 Agustus. Para tokoh nasional sadar, inilah momen yang tidak boleh […]

Read More

BM Diah: Sang Jurnalis di balik Selamatnya Naskah Asli Proklamasi

Mengenang perjuangan kemerdekaan Indonesia tak lepas dari kisah-kisah heroik gerakan para pejuang. Berjuang tidak selalu soal mengangkat senjata, namun banyak perjuangan dengan jalan yang berbeda. Salah satu perjuangan datang dari pemuda bernama Burhanuddin Mohammad Diah atau yang lebih dikenal dengan BM Diah. BM Diah merupakan tokoh pers nasional pejuang kemerdekaan. Ia seorang wartawan yang menyelamatkan […]

Read More

Penggemar One Piece: Pengibaran Bendera Jolly Roger Bukan Penghinaan, Tapi Ekspresi Kekecewaan Publik

Menjelang peringatan HUT RI ke-80, pemandangan tak biasa muncul di sejumlah daerah. Bendera Jolly Roger bergambar tengkorak bertopi jerami, simbol kelompok bajak laut dalam anime One Piece berkibar di tengah jalan, terpasang di kendaraan, bahkan berdampingan dengan Merah Putih. Aksi ini dipicu gelombang kekecewaan sebagian sopir truk dan warga terhadap kebijakan pemerintah, khususnya larangan truk […]

Read More

Resensi Buku: A Child Called ‘It

Judul Buku: A Child Called ‘It’: Sebuah Kisah Nyata Perjuangan Seorang Anak untuk Bertahan Hidup Penulis: Dave Pelzer Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit: 2001 Tebal Buku: 184 Halaman Pendahuluan Apakah kita benar-benar memahami apa yang dialami oleh anak-anak korban kekerasan? Buku ini tidak hanya menyuguhkan kisah, ia menjadi cermin pedih dari realita yang […]

Read More

Rekening Pasif, Risiko yang Terabaikan

Banyak pemilik rekening di Indonesia membiarkan uangnya mengendap di rekening bank tanpa aktivitas selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Padahal, rekening pasif menyimpan berbagai risiko yang kerap luput dari perhatian, mulai dari saldo yang terkikis oleh biaya administrasi hingga penutupan otomatis oleh pihak bank (Hukumonline). Saldo dalam rekening dapat terkikis karena biaya administrasi, denda saldo minimum, serta […]

Read More

Hari Kebaya Nasional: Mengenang Sejarah, Menyulam Bangga

Indonesia, dengan kekayaan budayanya yang beragam, telah lama dikenal sebagai tanah kelahiran produk budaya yang memukau. Salah satu mahakarya budaya yang paling berharga adalah kebaya. Dengan segala keanggunan dan sejarah panjangnya, kebaya telah menjadi simbol identitas perempuan Indonesia dan warisan budaya yang tak ternilai. Sebagai bentuk pelestarian dan kebanggaan terhadap warisan budaya yang mendalam ini, […]

Read More

Kantor Tipuan, Rutinitas Serius: Cara Anak Muda China Menyiasati Pengangguran

Setiap pagi, deretan kursi di sebuah ruang kantor di China mulai terisi. Ada yang membuka laptop, ada pula yang sibuk mengetik sambil menyeruput kopi. Suasananya seperti kantor pada umumnya, namun tidak satu pun dari mereka memiliki pekerjaan sungguhan. Mereka datang ke kantor palsu, tempat yang sengaja dirancang menyerupai ruang kerja profesional, lengkap dengan Wi-Fi, meja […]

Read More

Suara Dibalik Bayangan: Akun Anonim yang Menguak Sisi Kelam SMAN 4 Kota Serang

Di balik keberanian akun anonim @savesmanfourkotser yang mengguncang publik, tersembunyi sosok atau mungkin banyak sosok yang menulis dengan tangan gemetar danmengunggah dengan rasa takut. Mereka melawan ketidakadilan sambil terus menatap kebelakang, karena mereka tahu: sewaktu- waktu bisa diseret, dihilangkan, bahkan dikorbankan. Akun ini muncul di Instagam sebagai bentuk perlawanan diam yang akhirnya bersuara. Dengan keberaniannya, mereka mengungkapkan sisi kelam SMAN 4 Kota Serang, sebuahinstitusi pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman untuk bertumbuh, justru berubah menjadi ruang gelap yang penuh tekanan. “Sudah cukup suara-suara dipaksa diam, sudah terlalu lama siswa dipaksa tunduk oleh sistembusuk, yang berlindung dibalik label “pendidikan”. Dan sekarang lah waktunya membukasuara,” tulis akun tersebut dalam salah satu unggahannya. Dengan nama yang disembunyikan, wajah yang disamarkan, tapi hati yang hancur tiap kali kebenaran diinjak-injak di depan mata, mereka tetap tegar bersuara. Bukan karena tak punyarasa takut, tapi karena dunia perlu tahu, bahwa mereka sudah muak terus diam – dipaksamewajari hal-hal yang sebenarnya tak wajar. Bagaimana jadinya jika sosok guru yang semestinya menjadi pendidik, pelindung, danpanutan, justru menjadi pelaku pelecehan terhadap siswanya sendiri? Lebih tragis lagi, ketikasekolah yang seharusnya menciptakan ruang aman bagi proses tumbuh kembang anak, malahmelindungi pelaku pelecehan tersebut? Itulah yang terjadi di SMAN 4 Kota Serang. Dilansir dari banpos.co, mantan kepala sekolah SMAN 4 Kota Serang, Ade Suparman, angkat bicara terkai isu ini, ia mengakui adanya kasus pelecehan yang dilakukan oleh seorangguru laki-laki terhadap siswi perempuan. Ia menjelaskan bahwa kasus tersebut sudah lama “diselesaikan secara kekeluargaan” dan kedua belah pihak pun sudah berdamai. Namun respon kepala sekolah tersebut justru menyulut kemarahan publik, khususnyawarganet. Bagaimana bisa pelecehan seksual terhadap anak bisa dianggap selesai hanyadengan “perdamaian”? Lantas di mana posisi keadilan bagi korban? Bagaimana dengan lukapsikologis yang tak terlihat namun sulit untuk disembuhkan? Apakah benar sebuahperdamaian cukup untuk memberi efek jera? Dan yang lebih penting lagi, apakah itu dapatmenjamin si pelaku tidak akan mengulanginya pada korban lain? Kejadian ini bukanlah kasus tunggal. Dari angkatan ke angkatan, hingga alumni, banyak yang mengeluhkan pengalaman dan keresahan yang sama, dan semua tertuju pada satu nama yang sama. Dengan banyaknya pengakuan dari saksi dan korban ini, munculah satu pertanyaanbesar: mengapa oknum yang sudah berulang kali disebut melakukan perbuatan keji tersebut, hingga kini masih dibiarkan mengajar? Apakah karena demi menjaga “citra baik” sekolah? Di balik diamnya institusi, ada banyaksuara yang dipaksa redup. Saat mereka mencoba bersuara untuk meminta keadilan, merekadiancam, dipanggil ke ruangan, dan dipaksa untuk bungkam. Padahal rusaknya nama baik sekolah bukanlah karena mereka yang bersuara, melainkanmereka yang menutup mata dan membungkam kebenaran. Tidak hanya kasus pelecehan seksual, akun tersebut juga mengungkap dugaan adanyapungutan liar dan bisnis dalam sekolah, ekstrakulikuler yang semestinya menjadi wadahpengembangan bakat dibiarkan mati tanpa dana, intoleransi dengan keberagaman agama, ruang kelas yang tidak memadai, hingga adanya eksploitasi guru honorer.  Tudingan-tudingan tersebut di tanggapi oleh pihak sekolah. Dikutip dari Banten.viva, pihaksekolah menegaskan semua tuduhan tersebut tidak sepenuhnya benar, dan mereka telahmengambil langkah tegas dan transparan. Untuk kasus pelecehan seksual pun sekolah telahmelapor ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Kepegawaian Daerah ProvinsiBanten untuk dapat ditindak lanjuti. Mengambil pelajaran dari isu tersebut, @Savesmanfourkotser bukan sekadar akun anonim. Iaadalah cermin dari keresahan yang selama ini dikubur dalam-dalam oleh banyak siswa, danmungkin oleh banyak sekolah lainnya. Ketika institusi tak lagi mampu melindungi, ketikasistem hanya menjaga citra dan bukan kebenaran, maka suara-suara seperti ini harus terusmuncul, bahkan dari balik ketakutan. Kini, publik tidak lagi bisa menutup mata. Kebenaran meski datang dari akun tanpa nama, tetaplah kebenaran. Pertanyaannya bukan lagi apakah sekolah ini bersalah atau tidak, melainkan: mengapa suara korban selalu terlambat didengar? Mengapa harus menunggusebuah akun viral agar keadilan mulai dibicarakan? Perlu kita pahami, perubahan tidak akan datang jika suara terus dibungkam, jika pelanggaran dibalut dengan “perdamaian”, dan jika citra lebih penting dari nurani. Pendidikan seharusnyamenjadi ruang yang membebaskan, bukan menekan. Penulis: Aisyah Humaira Proofreader: Anisa Aulia Putri

Read More