Kini kota tertua itu menjadi arena game online dunia nyata. Suara dentuman rudal, peluru bersenjata dan lemparan-lemparan batu dari pemilik tanah yang dizalimi menambah riuh suasana. Tepat sepertiga malam, pukul dua. Saat setiap hamba sedang bermesra dengan Kekasih dalam mihrabnya. Seorang wanita hebat sedang bertaruh nyawa. Dua puluh tulang patah seketika.
Wanita hebat itu bernama Syahidah. Nama yang telah mengklamufasenya sebagai sebaik-baik Syahidah di dunia. Guratan takdir yang sudah termaktub dalam naskah-Nya. Peluh keringat. Jantung berdetak cepat. Dalam tempat persalinan yang runtuh sebagian. Dengan mayat-mayat terkubur diantara bebangunan bercatkan merah darah segar para korban. Ulah kebiadaban manusia yang tak berkemanusiaan.
Tepat saat kata “falah” terdengar di seantero negeri. Jeritan bayi merah mungil pecah, lantang sekali. Bayi tampan beralis tebal, bermata coklat mirip seperti sosok Abi. Abi yang tak kunjung membuka matanya sedari tadi.
“Allah, Duhai Sang Maha Kasih. Di rumahmu yang sudah runtuh sebagian ini, Aku bersimpuh. Di tanahmu yang sudah tak rata setiap sudutnya ini, Aku berkeluh. Di kiblat yang sudah dipenuhi pasir dan bebatuan ini, Aku menga…”
Bum. Dentuman rudal menghentikannya. Benda bulat seukuran semangka berkekuatan besar itu menembus rumah sakit.
•••
“Kak, mengapa mereka selalu perangi Kita? Anak kecil yang tak mengerti apa-apa akan dunia. Tak dipungkiri, aku memang suka bermain perang-perangan, tapi hanya sebatas di permainan online, bukan sungguhan. Aku memang suka bermain perang-perangan, tapi dengan teman sebaya, bukan tentara yang jelas bukan tandingan. Aku memang suka bermain perang-perangan, tapi dengan senjata rakitan kreatif ala kadarnya, bukan senjata rakitan industri ternama yang dapat menghancurkan segalanya.” Celoteh polos Alesha.
“Alesha, lihat itu! Bulannya indah ya. Bulat sempurna.” Zein berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Wah iya, berarti sudah masuk pertengahan bulan Syaban. Yeayy, Alhamdulillah sebentar lagi Ramadhan. Aku jadi ingat, dulu kakak pernah bercerita tentang Ramadhan.” Sambung Alif.
“Wah ceritakan pada Alesha kak! Alesha juga mau dengar.”
Zein dan Alif memang selalu ahli membuat adik kecilnya terpana dengan berbagai kisah. “Sebelumnya, coba sekarang Alesha tebak sejak kapan penamaan bulan-bulan Hijriyah?”
Tanya Zein.
“Hmm, sejak turunnya Al-Qur’an kak. Ayat yang Alesha sudah hafalkan ada kata Ramadhan disana.” Lugas Alesha.
“Wah sedikit lagi mendekati benar. Jadi, penamaan bulan-bulan hijriyah itu sejak zaman jahiliyah dan dipertahankan sampai saat ini, Alesha. Penamaan itu juga nggak sembarangan, ada latar belakangnya. Alesha tahu tidak?” Tanya Zein.
“Tidak Kak. Ummi belum pernah cerita.” Jawabnya.
“Jadi, orang Arab saat itu keheranan, mengapa dalam setahun mereka selalu temui satu bulan yang panasnya sangat ekstrim. Bertahun-tahun mereka mengamati, Alesha. Dan ternyata betul, setiap tahun tepatnya setelah bulan Syaban terdapat satu bulan yang amat panas. Panas yang benar-benar terik membakar. Sehingga mereka menjuluki satu bulan itu sebagai bulan dengan panas yang amat menyengat. Makna itu terangkum dalam satu kata dalam bahasa Arab yakni ‘Ramadhan’. Alesha bisa tebak hikmah dibalik ini?” Tanya Zein.
“Alesha belum tahu kak.” Jawab dengan wajah murungnya.
“Gapapa, kakak kasih tau ya. Sebelumnya Kak Zein mau tanya Alesha dulu nih. Kalau Alesha ingin menghanguskan barang, Alesha apakan barang tersebut?” Tanya Zein
“Alesha akan minta tolong ummi bakar barang tersebut, Alesha bilang ke ummi pakai api yang sangat panas. Lalu Alesha tunggu jadi abu. Terakhir Alesha buang deh.” Jawab Alesha dengan kata yang sedikit tertahan sembari berfikir.
“Nah, ber..” Kata Zein yang terpotong sebab tangan Alesha sudah meluncur di depan mulutnya.
“Kak, Alesha tahu sekarang. Allah seakan memberi pesan pada kita. Bahwa di Ramadhan yang amat terik ini, Allah akan menghanguskan dosa-dosa kita selayaknya Alesha menghanguskan barang dengan api yang amat panas. Betul tidak kak?” Tanya Alesha dengan semangatnya.
“Yap, betul banget sayang.” Jawab Zein.
“Lalu mengapa ya kak, diantara banyaknya ibadah yang bisa dilakukan, Allah memilih puasa sebagai ibadah utama di bulan Ramadhan?” Tanya Alesha penasaran.
“Kenapa hayo?” Jawab Zein meledek.
“Kakak mah! Jangan buat Alesha penasaran!” Gerutu Alesha.
“Nanti kakak jawab ya. Sekarang kita sholat tahajjud dulu. Sembari menunggu adek Halabi lahir.” Jawab Zein.
“Kakakkkk” Teriakan Alesha.
•••
Mata kembali terbuka. Tangan mampu bergerak sebagaimana mestinya. Telinga sudah bisa mendengar suara yang ada. Lisan pun mulai mengucap sepatah demi kata. Tertatih meminta secarik kertas beserta pena.
“Dokter, ia sudah tiada.” Ucap salah seorang perawat.
“Benarkah? Sepertinya baru saja beberapa menit yang lalu ia pulih. Cobalah Kau cek ulang!” Jawab Dokter Arum.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, ya Allah Dokter!” Teriak histeris perawat.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, ya Allah! Tolong kabarkan kepada istrinya di kamar persalinan Kak!” Perintah Dokter Arum.
“Baik Dok.” Jawab perawat.
“Kak, Ada surat di tangannya! Tolong berikan kepada pihak keluarganya yaa! Titip salam belasungkawa juga dariku! Aku belum bisa menemui keluarganya, masih ada puluhan pasien gawat darurat yang harus ditolong secepatnya.” Pesan Dokter Arum.
•••
“Istriku tercinta, ada masa dimana jiwa kembali pada pencipta. Beristirahat untuk selama-lamanya sampai waktu yang ditentukan tiba. Duhai bidadariku, titip keempat mujahid ya! Bimbing mereka agar selalu dekat dengan Tuhan dan Kalam-Nya. Kutunggu di taman Syurga-Nya yang indah dan mempesona! Kita lanjutkan bincang dan canda tawa disana. Lanjutkan perjuanganmu sayang!”
– Suamimu tercinta
•••
“Zein, ummi minta tolong adzankan dik Halabi ya! Lalu Alif, Ummi minta tolong adzankan Abi ya.” Pinta Ummi.
“Ummi..” Gemetar jawaban kedua mujahidnya.
Pagi itu, banjir air mata. Terkecuali Alesha yang sedang lelap tertidur dengan mushaf kecilnya.
•••
“Ummi, Abi sedang apa dibalik kain putih itu? Mengapa Abi diam saja, tak menanggapi Alesha sedari tadi? Abi marah pada Alesha ya? Maafkan Alesha yang masih kurang lancar surat Al Maun, Bi. Entah mengapa Alesha selalu terlupa ayat 2. Tapi Alesha janji, besok akan
bawakan Abi piala besar. Lupakan soal boneka, Bi. Alesha sudah tidak ingin hadiah boneka itu, Alesha hanya ingin Abi bangun.” Ucap sendu Alesha.
“Alesha, belum lihat Dik Halabi kan? Yuk kakak ajak lihat Dik Halabi, ia tampan sekali seperti Abi” Bujuk Zein.
“Yuk, kak! Abi, Alesha ke Dik Halabi dulu ya! Nanti Alesha ke Abi lagi! Abi bangun dong! Alesha ingin bercerita banyak sekali.” Ucap Alesha sebelum meninggalkan ruang tamu.
•••
“Alesha, kesini sebentar.” Bujuk Zein.
“Baik, sebentar Alesha rapikan sajadah dulu.” Jawabnya spontan.
“Langit malam ini indah sekali ya, Dik?” Tanya Zein memulai percakapan.
“Iya kak, MasyaAllah ya ciptaan-Nya. Kak Zein tumben mengajak Alesha berbincang. Padahal besok waktunya Alesha lomba. Biasanya Kakak akan meminta Alesha mempersiapkan hafalan di sepertiga malam ini.” Tanya Alesha.
“Tak apa, Kakak ingin menepati janji dengan Alesha. Kakak akan menjawab pertanyaan Alesha tempo lalu.” Jawab Zein.
“Mengapa harus sekarang Kak? Kita masih punya waktu besok bukan?” Sanggah Alesha.
“Kan Kakak maunya mengobrol dengan adik kakak paling cantik dan lucu ini sekarang, hehe.” Ledek Zein sambil mencubit pipi gembulnya.
“Ah kakakk” Jawab Alesha tersipu malu.
“Duh, makin lucu adik kakak kalau sedang merona pipinya. Sebentar, kemarin Alesha tanya mengapa puasa bukan ibadah lain, kan?” Tanya Zein.
“Betul kak” Jawab Alesha.
“Okey, sebenarnya manusia tak berbeda dengan hewan lainnya yang memerlukan makanan dan minuman. Namun mengapa ya Allah justru meminta manusia menghentikan makan, minum bahkan berhubungan seks dengan mahram sekalipun, pada saat tertentu? Khususnya bulan Ramadhan yang amat terik ini? Tujuannya hanya satu dik. Yakni, agar manusia lebih dekat dengan Allah. Memang dalam puasa kita tidak melakukan gerakan seperti halnya sholat. Karna pada dasarnya, kita melakukan aktivitas seperti biasa. Hanya saja kali ini tidak boleh makan, minum, dsb. Peristiwa menahan lantaran patuh yang dilaksanakan atas perintah-Nya inilah yang menimbulkan efek positif bagi “dhamir” si pelakunya. Kabar baiknya, jika dhamir ini selalu aktif dalam waktu 30 hari karena Allah belaka, maka sinyal motoriknya semakin halus, semakin peka, bahwa daya redam hawa nafsu pun berkurang. Inilah puncak spiritualitas manusia. Itulah mengapa, dalam QS Al-Baqarah ayat 183, ayat yang Alesha sudah hafal disebutkan kata taqwa. Seakan akan Allah berkata, “Kuberi suatu amalan, untuk menaikkan derajatmu menjadi manusia yang lebih bertaqwa. Bagaimana keren kan?” Tanya Zein.
“MasyaAllah, Alesha mau rajin belajar agar pintar seperti kakak! Berarti kalau puasa baiknya mengurangi maksiat ya kak? Karena kita sedang dzikir khofi saat itu?” Tanya Alesha yang mulai kritis.
“Pintarnya adik Kakak. Betul sayang, karena puasa adalah kegiatan ingat kepada Allah terus menerus sepanjang hari. Akankah dalam keadaan berdzikir kita sembari bermaksiat, tentu tidak bukan?” Tanya Zein.
“Iya juga ya Kak.” Jawab Alesha
“Oiya dik, semangat ya besok lombanya. Apapun yang akan terjadi, Alesha harus tetap menjadi muslimah kuat. Mujahid hebat. Tuntaskan hafalannya ya. Kakak bangga punya adik seperti Alesha!” Kata Zein.
“Kakakkk..” Jawabnya singkat sambil memeluk erat sang Kakak.
•••
Rupanya naskah tuhan tak berhenti disana. Para mujahid pun menjadi sasaran empuk selanjutnya zombie yang haus darah ini. Para mujahid yang sedang berusaha menyelesaikan soal ujian Bahasa Arab di Daar El Muslim. Sekolah ternama di Syam saat itu.
Salah satu mujahid disana bernama Zein. Sosok yang pintar. Anak emas setiap pengajar. Kritis, berwawasan tinggi, beradab lagi berbudi luhur. Menjadi kebanggaan setiap orang yang mengenalnya.
•••
“Ummi, siapa sosok disamping ummi? Ia bersih, putih dan sedang tersenyum pada Zein sekarang. ” Tanya Zein.
Ummi yang merasa hanya berdua dengan Zein di puing sekolah tersebut kaget bukan kepalang. Ditengok Nya kanan, kiri, depan dan belakang.
“Bismillah, InsyaAllah Ummi ikhlas Nak.” Jawab Ummi dengan linangan air mata. “Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah..” Lirih Zein.
“Zeinn..” Teriakan diwarnai tangisan Ummi.
•••
“Ummi, Alesha kali ini menang lomba hafalan Qur’an. Mana kak Zein? Ia janji akan memberi Alesha boneka, Abi juga.” Kata Alesha.
“MasyaAllah hebatnya anak Ummi, kita berbuka dulu ya!” Jawab Ummi.
“Baik Mi, Ummi Alesha saat sepertiga malam tadi diceritakan banyak hal mengenai puasa oleh Kak Zein. Sedalam itu ternyata makna puasa dihadapan Allah. Sekarang Alesha jadi tahu, mengapa Allah sendiri yang memberi pahala khusus orang berpuasa. Besok kita berbagi makanan untuk berbuka kepada orang-orang sekitar yuk Mi. Eh tapi, harus pakai uang Alesha ya! Alesha kan punya uang banyak dari lomba tadi! Biar pahalanya untuk Alesha semua, hehe.” Kata Alesha.
“Yah. Ummi, Kak Alif dan Dik Halabi tidak dapat pahala dong! Sudah diambil Alesha semua.” Jawab Ummi.
“Engga dong Mi, Kak Zein dan Abi juga dapat. Oiya kemana Abi, sejak tertutup kain putih Alesha tidak melihatnya Mi? Kak Zein juga, tumben sekali belum pulang sekolah?” Tanya Alesha.
Penulis: Winda Arum Sari