Lebaran Idul Fitri 1443 H: “Kembalinya Tradisi Mudik”

HARI BESAR

“Setelah berpuasa satu bulan lamanya

Berzakat fitrah menurut perintah agama

Kini kita beridul fitri berbahagia

Mari kita berlebaran bersuka gembira”

-Lirik lagu “Lebaran” Tasya Kamila

Hai, Sobat LPM!! Siapa nih, yang nggak sengaja ikut nyanyi waktu baca penggalan lagu di atas? tak terasa ya, sudah satu bulan penuh kita banyak melakukan amal kebaikan seperti berpuasa di bulan Ramadhan, tadarus Al-Qur’an, menahan hawa nafsu dan sekarang saatnya kita menyambut hari nan fitri.

Tahun ini, pemerintah memperbolehkan masyarakatnya untuk melakukan tradisi mudik, pulang ke kampung halaman masing-masing. Hal tersebut menjadi kabar yang menggembirakan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Setelah dua tahun silam, pemerintah menetapkan larangan untuk mudik saat Lebaran Idul Fitri dikarenakan kondisi pandemi Covid-19 yang waktu itu masih tergolong ganas.

Diperbolehkannya tradisi mudik kali ini tentu saja mendapatkan respon yang sangat baik dari masyarakat. Antusiasme masyarakat yang tinggi, melihat sudah dua tahun kehilangan momen merayakan tradisi mudik yang menjadi salahsatu ciri khas tersendiri dari lebaran.

Pemerintah tetap menghimbau kepada masyarakat agar selalu mematuhi prokes dengan disiplin. Beberapa syarat yang harus dipenuhi pemudik di antaranya, sudah melakukan vaksinasi lengkap, yaitu: dosis pertama, kedua, dan booster. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga kondisi kesehatan masyarakat selama libur lebaran, dan juga mencegah penyebaran Covid-19 antar pemudik maupun anggota keluarga di kampung halaman.

“Secara khusus hindarilah kontak-kontak fisik yang tidak perlu dalam perjalanan. Jaga dan pertahankan suasana batin yang gembira, tetap jaga dan pertahankan suasana kekerabatan dan keakraban dalam perjalanannya.” Himbau Menteri Kominfo, Johnny G. Plate.

Masyarakat berbondong-bondong menyiapkan transportasi yang akan digunakan untuk mudik. Baik transportasi pribadi maupun umum. Menempuh jalur darat, udara, maupun laut. Bantuan transportasi mudik berupa program “Mudik Gratis” juga banyak diadakan dari berbagai instansi pemerintah maupun swasta. Sebagai bentuk dukungan dan euforia menyambut lebaran tahun ini.

Dilansir dari laman Liputan6.com, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memprediksi sekitar 85,5 juta orang akan melakukan perjalanan mudik Lebaran 2022. Jumlah tersebut didominasi oleh para pemudik dengan menggunakan kendaraan roda empat sebanyak 23 juta. Kemudian sepeda motor sebanyak 11 juta dan sisanya menggunakan transportasi umum.

Puncak arus mudik yang terjadi pada tanggal 28 April kemarin menyebabkan kemacetan dan penumpukan kendaraan yang cukup padat. Ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mudik tahun ini.

Jika dua tahun sebelumnya pertemuan atau silaturahmi dan saling sapa banyak dilakukan secara daring, lain halnya dengan tahun ini. Silaturahmi akan kembali dilakukan secara tatap muka. Berkumpul bersama sanak saudara, saling mengunjungi, makan bersama, dan saling memaafkan secara langsung.

Maka ada baiknya, sejenak kita lepas genggaman Hp dan gadget dari tangan kita. Mari kita manfaatkan kesempatan kali ini untuk berbincang akrab dan bersilaturahmi agar menjadi lebih bermakna, sehingga mampu melepas rasa rindu yang sudah lama tidak tersampaikan.

Perlu digaris bawahi bahwa meskipun pandemi mereda tetapi hal ini belum usai sepenuhnya. Maka protokol kesehatan yang selama ini sudah menjadi gaya hidup baru bagi  kita, harus tetap dijaga. Agar seluruh anggota keluarga sehat hingga waktunya kembali ke perantauan nanti.

Penulis: Hilma Rosyida Ulya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *