Resensi Buku: A Child Called ‘It

INTERPRETATIVE

Judul Buku: A Child Called ‘It’: Sebuah Kisah Nyata Perjuangan Seorang Anak untuk Bertahan Hidup

Penulis: Dave Pelzer

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2001

Tebal Buku: 184 Halaman

Pendahuluan

Apakah kita benar-benar memahami apa yang dialami oleh anak-anak korban kekerasan? Buku ini tidak hanya menyuguhkan kisah, ia menjadi cermin pedih dari realita yang kerap tersembunyi di balik dinding rumah, tempat yang semestinya menjadi ruang paling aman bagi tumbuh kembang seorang anak.

Dengan gaya bahasa yang sederhana namun menghunjam, penulis mengajak pembaca menyelami dunia seorang anak yang tersesat dalam siklus kekerasan. Dari sudut pandang bocah yang kebingungan, tak berdaya, namun tetap menggenggam harapan, kita diajak menyaksikan betapa rapuhnya jiwa yang tumbuh di tengah bayang-bayang penderitaan.

Lebih dari sekadar kisah pribadi, buku ini adalah peringatan keras bahwa penyiksaan bisa terjadi di mana saja, bahkan di balik pintu rumah sendiri. Namun di balik kelamnya kisah, terselip cahaya tentang keberanian untuk bertahan, dan tekad untuk menjadi terang meski harus berjalan dalam gelap.

Sinopsis

Buku ini menceritakan kisah nyata seorang anak kecil bernama David Pelzer yang mengalami kekerasan fisik maupun psikologis yang ekstream dari ibunya. Kisah tersebut merupakan pengalaman pribadi sang penulis pada saat umur 4 sampai 12 tahun.

David memiliki ayah yang gagah dengan berprofesi sebagai petugas pemadam kebakaran, sang ibu yang penyayang, serta beberapa saudara laki-laki. Awalnya, kehidupan berjalan normal dan bahagia. Namun segalanya berubah drastis ketika ibu mulai menunjukkan perilaku kejam. Tanpa alasan yang jelas, David mulai menjadi sasaran tunggal dan mendapat berbagai siksaan secara fisik maupun psikologis. Sementara saudara lainnya tidak diperlakukan demikian.

Kekerasan yang dialami David tidak berhenti pada larangan makan atau dikurung di kamar mandi. Seiring waktu, penyiksaan itu semakin brutal. Ia dipukul, dicekik, dibakar, hingga dipindahkan ke ruang bawah tanah yang dingin tanpa selimut. David bahkan pernah dikunci di kamar mandi yang dipenuhi gas beracun, dan suatu hari ditikam secara tidak sengaja oleh ibunya yang dilanda amarah.

Penderitaannya tak hanya menyiksa fisik, tetapi juga merenggut martabatnya sebagai manusia. Ia dipaksa memakan muntah dan kotoran sendiri. Identitasnya sebagai anak pun dilucuti. Sang ibu memanggilnya bukan dengan nama, melainkan hanya dengan sebutan “It”, layaknya sebuah benda tak bernyawa.

Ironisnya, kekejaman itu terjadi di depan mata keluarga sendiri. Ayah dan saudara-saudaranya memilih bungkam, tak ingin menjadi sasaran amarah sang ibu. Ketika akhirnya sang ayah memutuskan pergi meninggalkan rumah, David benar-benar terisolasi, menanggung luka seorang diri di tempat yang seharusnya memberinya perlindungan: rumah.

Baginya, hanya sekolah yang menjadi satu-satunya tempat pelarian lebih aman. Tubuh David yang kurus dan menyimpan berbagai luka, mengundang perhatian para guru untuk mencari tahu lebih lanjut.

Di tengah siksaan yang terus didapati, David menyimpan keinginan kecil yang tak pernah padam: keinginan untuk hidup. Ia tetap berdiri dengan berbagai luka yang hinggap di tubuhnya. Di setiap halaman, terdapat keberanian dan kekuatan untuk bertahan. Harapan, kecerdikan, dan keteguhan menjadi senjata untuk melawan kerasnya siksaan yang didapat.

Kelebihan

Dengan bahasa yang lugas dan menyentuh, buku ini mengajak pembaca memahami luka terdalam korban kekerasan anak. Di balik kisah yang menyayat, tersimpan pesan tentang harapan dan daya juang untuk bertahan. Lebih dari sekadar narasi pribadi, buku ini menjadi pengingat bahwa kekerasan semacam ini masih nyata dan dekat. Sebuah bacaan yang penting untuk membangkitkan kesadaran, khususnya bagi orang tua, pendidik, dan siapa pun yang peduli pada masa depan anak-anak.

Kekurangan

Kisah yang sangat emosional dan penuh kekerasan dalam buku ini bisa memicu trauma atau ketidaknyamanan bagi sebagian pembaca. Cerita disampaikan sepenuhnya dari sudut pandang David, tanpa eksplorasi lebih jauh terhadap latar belakang pelaku maupun dinamika keluarga lainnya. Selain itu, penyelesaian cerita terasa belum tuntas karena hanya mencakup sebagian kecil dari perjalanan hidup David, yang kemudian dilanjutkan dalam seri buku berikutnya: The Lost Boy dan A Man Named Dave.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, buku ini bukan hanya kisah tentang kekerasan, tetapi juga tentang kekuatan seorang anak untuk bertahan di tengah keterpurukan. Melalui pengalaman pahit yang dituturkan tanpa dramatisasi, pembaca diajak menyelami realitas yang kerap tak terlihat oleh mata publik. A Child Called “It” menjadi suara bagi mereka yang tak bersuara, sekaligus pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam kasih, bukan ketakutan. Buku ini layak dibaca, tidak hanya sebagai bentuk empati, tetapi juga sebagai langkah awal untuk membangun kesadaran dan kepedulian terhadap perlindungan anak.

Penulis : Mayang Fauni Amalia

Proofeader : Ayfia Amireyl Fotrothy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *