
Rahmah El-Yunusiyah, ulama perempuan dan pelopor pendidikan perempuan di Indonesia.
Pada peringatan Hari Pahlawan tahun ini, Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Rahmah El-Yunusiyah, tokoh pendidikan perempuan yang namanya sejak lama tercatat dalam sejarah Islam Nusantara. Gelar ini bukan sekadar penghormatan, melainkan pengakuan negara atas kontribusinya membela hak-hak perempuan melalui pendidikan Islam. Dengan tercatatnya Rahmah, jumlah Pahlawan Nasional perempuan kini bertambah menjadi 18 dari total 237 pahlawan nasional per November 2025.
Penghargaan ini memunculkan satu pertanyaan penting: Apa yang membuat Rahmah El-Yunusiyah begitu istimewa?
Pelopor Pendidikan Islam Perempuan Pertama di Indonesia
Mengutip situs resmi Suara Muhammadiyah, Rahmah El-Yunusiyah lahir di Padang Panjang, Sumatra Barat pada 29 Desember 1900, masa ketika perempuan belum memperoleh akses setara dalam pendidikan. Ia belajar di Diniyyah school yang didirikan kakaknya, Zainuddin Labay El-Yunusy. Pengalaman belajar itu justru membuatnya resah, karena sistem koedukasi membuat pelajar puteri tidak bebas bertanya dan mengemukakan pendapat di ruang kelas karena didominasi laki-laki.
Berangkat dari keresahan tersebut, setiap sore Rahmah mendatangi ulama-ulama Minangkabau untuk mendalami agama. Tentu langkah tersebut adalah langkah yang sangat tidak lazim bagi perempuan di awal abad ke-20. Selain mengasah ilmu agama, Rahmah juga terampil dalam keterampilan rumah tangga, hingga kebidanan.
Rahmah meyakini bahwa pendidikan perempuan tidak boleh berhenti pada peran domestik. “Mendidik laki-laki berarti mendidik seorang manusia, tetapi mendidik perempuan berarti mendidik seluruh keluarga,” begitu filosofinya.
Dukungan dari sang kakak menguatkannya untuk mendirikan Diniyyah Puteri Padang Panjang, lembaga pendidikan khusus perempuan pertama di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Sekolah ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga kepemimpinan, keterampilan hidup, dan wawasan kebangsaan. Pada masa pergerakan, Diniyyah Puteri bahkan menjadi dapur umum dan pusat logistik bagi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Sumatra Barat pada saat itu.
Pemikiran Rahmah jauh melampaui zamannya. Ia percaya bahwa perempuan harus memiliki akses untuk berkembang dan menentukan arah hidupnya. Pendidikanlah yang menjadi kunci agar perempuan dapat berdiri tegak, membina keluarga, dan berperan di tengah masyarakat.
Gelar Syaikhah dan Pahlawan Nasional: Dua Legitimasi Perjuangan Rahmah El-Yunusiyah
Pada tahun 1955, para petinggi Universitas Al-Azhar Mesir, mengunjungi Sekolah Diniyyah Puteri milik Rahmah. Mereka kagum melihat sistem pendidikan yang dibangun Rahmah. Menurut mereka, sekelas Al-Azhar Mesir yang lebih unggul secara keilmuan, masih tertinggal jauh dalam pendidikan perempuan.
Dua tahun kemudian, Rahmah diundang ke Kairo dan memperoleh gelar kehormatan Syaikhah, menjadikannya perempuan pertama di dunia yang menerima gelar tersebut dari Al-Azhar.
Sistem dan pola pendidikan Diniyyah Puteri Padang Panjang menginspirasi Universitas Al-Azhar hingga mendirikan Kulliyah Al-Banat, fakultas perempuan Al-Azhar yang masih berdiri hingga kini.
Pengakuan negara melalui gelar Pahlawan Nasional datang dari perjuangan Rahmah dalam Revolusi Nasional. Pada masa Agresi Militer Belanda, kompleks Diniyyah Puteri berubah menjadi markas TKR sekaligus dapur umum bagi para pejuang.
Rahmah memimpin langsung unit perbekalan, menjadikan lembaga pendidikan yang ia dirikan sebagai benteng pertahanan negara. Murid-muridnya pun tampil sebagai kader perjuangan, salah satunya H.R. Rasuna Said yang membuktikan bahwa visi pendidikannya melahirkan perempuan yang tidak hanya cerdas secara spiritual, tetapi juga berani berjuang demi bangsa.
Keteladanan Rahmah untuk Generasi Perempuan
Rahmah El-Yunusiyah meninggalkan warisan besar bagi pendidikan perempuan Indonesia. Rahmah mengajarkan bahwa menguasai Al-Qur’an dan ilmu agama harus dibarengi dengan kemampuan untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan modern dan sosial.
Gelar Pahlawan Nasional yang disematkan kepada Rahmah El-Yunusiyah adalah puncak pengakuan atas dua sumbangsih utama: Pengaruhnya terhadap dunia pendidikan Islam di kancah Internasional dan perjuangannya dalam membela negara. Meski namanya belum setenar pahlawan perempuan lain, jejak perjuangannya begitu dalam bagi dunia pendidikan Islam. Kini, rumah kediamannya menjadi Museum Rahmah El-Yunusiyah, sementara cita-cita yang belum terwujud, yaitu mendirikan rumah sakit khusus perempuan, terus menjadi inspirasi generasi berikutnya.
Keteladanan Rahmah El-Yunusiyah menjadi pesan hidup bagi perempuan Indonesia hari ini. Keberaniannya membuka akses pendidikan perempuan dan pengakuannya sebagai syaikhah pertama di dunia menunjukkan bahwa ilmu adalah bentuk perjuangan. Gelar Pahlawan Nasional menegaskan luasnya jasa tersebut. Warisan dan semangatnya terus hidup sebagai ajakan bagi setiap perempuan untuk belajar, berperan, dan berkontribusi dengan ilmu yang bermanfaat bagi bangsa.
Penulis: Nur Aulia Reski
Proofreader: Anisa Aulia Putri