
Siti Roehana Koeddoes, yang lebih dikenal sebagai Rohana Kudus, lahir pada 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, dari sebuah keluarga yang gemar membaca dan menghargai ilmu. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan huruf dan kata karena ayahnya mengajarkan abjad Latin, Arab, dan Arab Melayu. Kecerdasan dan semangat belajarnya tampak sejak usia dini, ketika teman-temannya ikut belajar membaca dan menulis di dekat rumahnya. (Kompas)
Perjalanan hidup Rohana menghadapkannya pada tantangan besar bagi perempuan di zamannya. Pada awal abad ke-20, akses perempuan terhadap pendidikan masih sangat terbatas. Kondisi itu mendorong Rohana berpikir bahwa perempuan Indonesia harus punya kesempatan yang sama untuk belajar dan menyuarakan pikiran mereka. Hambatan-hambatan sosial inilah yang menjadi alasan utama baginya untuk menciptakan ruang baru bagi perempuan. (Kompas)
Pada tanggal 11 Februari 1911, ketika usianya 27 tahun, Rohana mendirikan sebuah perkumpulan bernama Kerajinan Amai Setia di kampung halamannya yang kemudian berkembang menjadi sekolah. Melalui sekolah ini, perempuan diajarkan keterampilan kerajinan tangan, baca tulis, dan pengetahuan umum yang jauh dari sekadar kerja rumah. Sekolah ini menjadi tempat perempuan berhimpun, belajar, dan memperkuat kepercayaan diri mereka di tengah struktur sosial yang saat itu masih sangat patriarkal. (merdeka.com)
Rohana tidak berhenti di ranah pendidikan. Ia melihat bahwa banyak gagasan dan aspirasi perempuan yang tidak pernah sampai kepada khalayak luas karena tidak ada media yang menjadi suara mereka. Untuk menjawab kebutuhan itu, pada 10 Juli 1912, berdirilah surat kabar Soenting Melajoe, sebuah koran bahasa Melayu yang ditujukan khusus untuk perempuan di Minangkabau dan Nusantara. Dalam surat kabar ini, seluruh tim redaksi mulai dari pemimpin redaksi hingga penulisnya adalah perempuan. Keberadaan Soenting Melajoe menjadi tonggak penting dalam sejarah pers Indonesia karena koran ini merupakan wadah di mana perempuan menulis dan berbicara tentang pengalaman, ide, dan harapan mereka kepada dunia. (Agustiningsih, 2019)
Lewat tulisan-tulisannya, Rohana mengulas banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan perempuan, termasuk keterampilan, pendidikan, hak, dan peran sosial mereka. Ia juga mengajak perempuan untuk menyebarkan gagasan mereka dan berani tampil dalam ruang publik yang selama ini didominasi laki-laki. Perjuangan jurnalistiknya tidak hanya berhenti pada Soenting Melajoe. Rohana kemudian berperan dalam surat kabar lain seperti Perempoean Bergerak, Radio, dan Cahaya Sumatera, memperluas jangkauan pesan pemberdayaan. (detik.com)
Mengapa karya Rohana begitu penting? Karena pada zamannya, perempuan hampir tidak punya akses terhadap media cetak dan publikasi gagasan. Lewat langkah-langkah yang ia ambil, perempuan tidak hanya menjadi subjek tetapi juga menjadi agen penyebar informasi dan perubahan. Ia membuka peluang bagi perempuan untuk berdiri sejajar dalam ranah intelektual dan sosial (Agustiningsih, 2019).
Rohana Kudus meninggal pada 17 Agustus 1972 di Jakarta, namun warisannya terus hidup. Pengakuan atas jasanya semakin nyata ketika pada tahun 2019 Presiden Joko Widodo menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Sebuah penghormatan yang mengakui kontribusi besar Rohana dalam pers dan pendidikan nasional. (kesbangpol.sumbarprov.go.id)
Jejak Rohana Kudus menunjukkan bahwa pembaharuan sosial bisa lahir dari pena dan keberanian untuk berkata. Ia bukan hanya membuka ruang bagi perempuan di media dan pendidikan, tetapi juga menandai awal sebuah gerakan yang kemudian menginspirasi banyak perempuan di Indonesia untuk bersuara dan berkarya.
Penulis: Adilah Hidayati
Proofeader: Ayfia Amireyl Fitrothy