
“Sebentar saja.” Kalimat sederhana itu sering kali menjadi awal dari waktu yang tanpa terasa berubah menjadi berjam-jam di depan layar. Satu video berganti video lain, satu unggahan disusul unggahan berikutnya. Namun, ketika mushaf dibuka untuk murajaah, beberapa menit terkadang sudah terasa cukup lama. Di tengah kebiasaan digital yang membuat perhatian mudah berpindah, persoalannya bukan semata-mata tentang ketiadaan waktu, melainkan tentang ke mana waktu dan perhatian kita lebih sering diberikan.
Al-Qur’an sendiri mengajak manusia untuk melihat waktu dengan lebih serius. Allah Swt. berfirman dalam (QS. Al-‘Ashr; 1-3);
وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya: ” Demi masa; sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian; kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran. ”
Berdasarkan penafsiran Kementerian Agama Republik Indonesia, Surah Al-‘Ashr memberikan panduan bagi seorang Muslim untuk memperkuat iman dan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Pesan tersebut mengingatkan bahwa waktu perlu dimanfaatkan untuk hal-hal yang bernilai, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. (Kementerian Agama RI, 2020).
Pesan tersebut semakin relevan ketika kehidupan sehari-hari tidak pernah benar-benar jauh dari layar, yang perlahan turut membentuk cara manusia menghabiskan waktunya.
Media sosial menawarkan arus informasi yang terus bergerak, sehingga seseorang dapat berpindah dari satu konten ke konten lain tanpa merasa sedang menghabiskan banyak waktu. Sementara itu, interaksi dengan Al-Qur’an membutuhkan ritme yang berbeda. Membaca, memahami, dan mengulang ayat memerlukan perhatian yang lebih tenang dan tidak terburu-buru.
Di sinilah hubungan dengan Al-Qur’an menarik untuk dilihat kembali. Al-Qur’an tidak hadir semata sebagai bacaan yang perlu diselesaikan atau hafalan yang perlu dipertahankan. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 2, Allah swt. berfirman :
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ
Artinya:“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
Melalui kandungan ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an tidak hanya dapat dilihat dari seberapa banyak ayat yang dibaca, tetapi juga dari bagaimana pesan yang dibaca perlahan menemukan tempat dalam kehidupan.
Menariknya, teknologi sendiri tidak selalu menjadi lawan aktivitas tersebut. Gawai yang sama dapat digunakan untuk membuka media sosial, tetapi juga untuk mendengarkan murottal, mencari tafsir, atau mengulang hafalan. Yang membedakan bukan semata-mata perangkatnya, melainkan bagaimana perhatian digunakan.
Karena itu, persoalan scrolling dan murajaah tidak selalu harus berakhir pada pilihan untuk meninggalkan salah satunya. Ada ruang untuk bertanya lebih sederhana: mengapa kita bisa begitu larut pada sesuatu yang terus berganti, tetapi sulit memberi beberapa menit perhatian penuh kepada ayat yang ingin kita jaga?
Pertanyaan itu mungkin memiliki jawaban yang berbeda bagi setiap orang. Namun, fenomena ini mengajak kita merenungkan kembali cara menggunakan waktu dan menentukan prioritas di tengah kesibukan sehari-hari. Ketika Al-Qur’an hadir sebagai petunjuk, yang berharga bukan sekadar kemampuan meluangkan waktu untuk membacanya, melainkan juga kesediaan untuk memahami dan menerapkan pesannya. Dari beberapa menit yang diluangkan bersamanya, kita dapat belajar memandang waktu, memilih prioritas, dan menjalani hari dengan lebih baik.
Penulis: Firda Husnia Rahmah (Anggota Magang)
Proofreader: Kamila Nurisa’adah (Anggota Magang)