
(1/3/2026) – Timur Tengah terguncang setelah Amerika Serikat dan Israel menghantam Iran pada Sabtu (28/2/2026). Konflik ini memicu kekhawatiran global karena Selat Hormuz, jalur vital minyak dunia, kini berada dalam bayang-bayang ancaman.
Serangan ini merupakan buntut dari kegagalan diplomasi. Putaran ketiga negosiasi nuklir di Jenewa pada Kamis (26/2/2026) yang berakhir tanpa kesepakatan. Pada perundingan tersebut, Washington bersikeras pada tuntutan 0% pengayaan uranium, sementara Teheran hanya bersedia menurunkannya hingga 20% (gazaupdate).
Begitu serangan dimulai, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membalas dengan menghujani pangkalan militer AS di Bahrain, Qatar, Jordan, Kuwait, UEA, serta wilayah Israel (tempoenglish). Ledakan mengguncang kota-kota besar, kepulan asap terlihat dari jarak jauh. Sirene peringatan meraung-raung, menandakan bahwa ketegangan kini meluas ke wilayah Teluk dan Israel. Warga panik, sementara beberapa fasilitas militer mengalami kerusakan signifikan. Reaksi internasional pun beragam. Menteri Luar Negeri Norwegia, Espen Barth Eide, seperti dikutip Reuters pada Minggu (1/3/2026), menilai serangan ini tidak sesuai dengan hukum internasional. “Serangan pencegahan membutuhkan ancaman yang segera dan nyata,” ujarnya. Sementara itu, para pemimpin dunia lainnya, Rusia, Kanada, Australia, hingga Uni Eropa juga menyampaikan pernyataan dari dukungan hingga kecaman.

Yang membuat pasar global gelisah bukan hanya ledakan di medan tempur, melainkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mengingat Iran memiliki senjata geografis: Selat Hormuz, jalur selebar 21 mil yang dilalui hampir 20% minyak dunia – sekitar 20 juta barel per hari (kompas.com). Gangguan di jalur tersebut bisa langsung memengaruhi harga minyak, dari pompa bensin di Indonesia hingga pabrik-pabrik di Eropa. Jika Iran diserang, dampaknya tidak akan berhenti di kawasan, melainkan akan berskala global. Ini bukan sekadar perairan biasa, melainkan titik cekik ekonomi dunia.
Kabar terbaru yang datang Minggu (1/3/2026) pagi memastikan kekhawatiran itu. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Sabtu (28/2/2026) malam resmi menutup Selat Hormuz untuk seluruh lalu lintas kapal melalui siaran radio VHF. Pengumuman ini dikonfirmasi oleh misi angkatan laut Uni Eropa, Operation Aspides, yang menyatakan kapal-kapal di kawasan menerima pesan radio secara langsung. “Tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz.” Badan operasi perdagangan maritim Inggris juga mengaku telah menerima sejumlah laporan dari kapal-kapal yang sedang berlayar di Teluk, bahwa mereka menerima pesan yang berisi penutupan Selat Hormuz (blitz_publisher).
Peringatan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam pidatonya di Teheran pada (1/2/2026) kini seolah kembali bergema. Meski beliau telah wafat pada 28 Februari 2026, pesannya masih terasa sangat nyata. “Jika mereka memulai perang, ini akan menjadi perang regional.” Prediksi itu kini terbukti, membuat dunia menahan napas, khawatir konflik ini benar-benar menyeret Selat Hormuz dan ekonomi global ke pusaran krisis yang lebih luas (Al Jezeera).
Penulis: Suci Sutiani
Proofreader: Maryam Ishmah Mumtazah