Antara akademik dan Spiritual: potret Ramadan mahasiswa IIQ

Kabar IIQ

(3/3/2026) Ramadan bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus. Bagi mahasiwa IIQ, bulan suci ini menjadi momen untuk menata ulang ritme hidup. Baik antara kuliah, tahfiz, ibadah, dan berbagai aktivitas kampus ataupun luar kampus agar tetap berjalan.

Alarm berbunyi pukul 03.00 dini hari. Di sejumlah kamar Asrama Pesantren Takhasus IIQ Jakarta, lampu-lampu mulai menyala. Beberapa mahasiswa bergegas mengambil wudu untuk melaksanakan salat malam. Sebagian ada yang bergegas menuju kantin untuk mengantre sahur. Sementara itu, ada pula yang masih berusaha mengumpulkan kesadaran setelah bangun dari tidur.

Bulan suci ini tidak hanya mengubah pola makan, tetapi juga kebiasaan sehari-hari. Jam tidur menjadi lebih larut karena sebagian mahasiswa memilih mengerjakan tugas setelah tarawih atau tadarus. Pagi hari pun terasa berbeda. Setelah sahur dan salat Subuh berjamaah di masjid, ada yang memilih untuk tadarus, mengikuti kajian subuh, dan ada pula yang diam-diam kembali tidur sejenak ke kamar sebelum bersiap mengikuti perkuliahan.

“Kebiasaan yang aku lakukan di bulan Ramadan tahun ini, sebetulnya hampir sama seperti bulan-bulan lainnya. Namun, yang terasa paling berpengaruh terhadap pola hidupku salah satunya adalah jam tidur. Jam tidurku yang semula di kisaran pukul 22.00-22.30 WIB harus bergeser menjadi 23.00-23.30 WIB. Karena aku harus menyeimbangkan antara ibadah Ramadan, kegiatan asrama, dan belajar malamku.  Selain itu, kebiasaan yang paling berpengaruh lainnya yaitu frekuensi murajaah Al-Qur’an dalam satu hari. Aku merasa ketika bulan Ramadan tiba, aku lebih bersemangat untuk murajaah dan selalu menyempatkan diri dengan frekuensi yang lebih banyak dibandingkan bulan-bulan lainnya,”ujar Nur Hikmah, mahasiwa semester 4 Fakultas Pendidikan Agama Islam.

Perubahan juga terlihat pada sistem perkuliahan. Selama Ramadan, jadwal kelas di IIQ mengalami penyesuaian. Durasi perkuliahan dipersingkat untuk menyesuaikan kondisi mahasiswa yang sedang berpuasa. Yang awalnya 50 menit menjadi 35 menit per SKS atau 70 menit per 2 SKS. Kebijakan ini dinilai cukup membantu menjaga konsentrasi belajar.

Dengan waktu yang lebih singkat, dosen cenderung menyampaikan materi secara lebih ringkas dan langsung ke inti pembahasan. Sebagian dosen juga memilih untuk melaksanakan perkulihan secara daring. Hal tersebut juga sangat memudahkan para mahasiswa yang tinggal di luar asrama kampus. Karena selain menghemat biaya transportasi dan waktu tempuh, juga menghemat energi saat berpuasa.

“Secara pribadi, perkuliahan di bulan Ramadan terasa cukup menantang karena faktor tempat tinggal dan akses kelas. Meski demikian, saya tetap berkomitmen untuk produktif, baik dalam pembelajaran daring maupun luring, sehingga proses akademik tetap berjalan dengan produktif,” ujar Nurul Fadillah, mahasiswa semester 4 Fakultas Ushuluddin dan Dakwah.

Meski begitu, menjalani kuliah di bulan Ramadan tetap memiliki tantangan tersendiri. Rasa kantuk setelah sahur dan energi yang menurun di siang hari menjadi hal yang kerap dirasakan mahasiswa. Deadline tugas dan setoran tahfiz pun tetap berjalan seperti biasa, menuntut mahasiswa untuk tetap disiplin dan bertanggung jawab.

Di sisi lain, Ramadan juga menghadirkan suasana yang lebih hangat di lingkungan asrama kampus. Beberapa mahasiswa memanfaatkan waktu luang untuk tadarus, menghafal di kursi-kursi panjang dan di bawah pohon rindang yang tersisa di asrama, mengikuti kajian, ataupun sekadar berdiskusi ringan menjelang waktu berbuka. Tradisi buka bersama antarangkatan pun menjadi momen yang dinantikan para mahasiswa IIQ karena dapat mempererat kebersamaan. Sebagian angkatan ada yang memilih untuk meminjam kelas dan ada juga yang memilih buka bersama di luar asrama.

Bagi mahasiswa IIQ, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki diri. Banyak yang menargetkan khatam Al-Qur’an, menambah hafalan, atau lebih konsisten menjalankan ibadah sunah. Bahkan tarawih pun menjadi rutinitas wajib bagi mahasiswa IIQ selama Ramadan, baik tarawih di masjid ataupun di Gedung asrama dengan program 1 night 2 juz bil ghoib.

Dengan segala penyesuaian dan tantangannya, Ramadan tetap menjadi bulan yang dinanti. Di tengah tugas kuliah dan aktivitas kampus yang tetap berjalan, mahasiswa IIQ berusaha menjaga keseimbangan antara akademik dan spiritual. Ramadan pun menjadi momen pembelajaran yang bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Nashwa Nadrah

Proofreader: Fathma Mufidah Apriliani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *