
Identitas Buku
Judul : Api Tauhid Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujaddid
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Pepublika Penerbit (PT Pustaka Abdi Bangsa)
Tahun Terbit : 2014
Tebal Halaman : xxxv + 587 halaman
ISBN : 978-602-8997-95-9
Pendahuluan
Siapa di sini yang suka membaca buku sejarah, tetapi ingin tetap terasa hidup dan tidak kaku? Nah, Api Tauhid bisa menjadi jawabannya. Meskipun bukan novel terbitan baru, karya ini tetap relevan dan justru memiliki kekuatan sebagai novel sejarah yang mampu membangun jiwa.
Melalui tokoh ulama besar Badiuzzaman Said Nursi, pembaca diajak masuk ke perjalanan iman, perjuangan, serta keteguhan dalam mempertahankan tauhid di tengah tekanan zaman. Novel ini bukan sekedar cerita, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang bagaimana kita memaknai hidup, perjuangan, dan keyakinan.
Kutipan dalam buku:
Salah satu bagian yang kuat dalam novel ini adalah ketika penulis menggambarkan perjuangan tokohnya:
“Tokoh yang kesabarannya bisa menjadi teladan bagi para pejuang kebenaran. Dua puluh lima tahun hidup berpindah dari penjara ke penjara dan pengasingan, namun tetap menulis dan tetap berada di garda terdepan dalam menegakkan kalimat Tauhid.”
Selain itu, novel ini juga menghidupkan kembali makna sejarah sebagai pelajaran berharga, sebagaimana firman Allah:
“Allah memberi kabar gembira kepada Rasulullah dan orang-orang beriman tentang nasib orang-orang yang mati syahid dan kedudukan mereka di sisi Allah: “Janganlah kalian mengira orang-orang yang terbunuh di jalan Allah pada perang Uhud itu adalah orang-orang mati yang tidak dapat merasakan apapun; mereka hidup dalam kedudukan yang mulia di sisi tuhan mereka, mereka bahagia karena mendapatkan karunia yang banyak dari Allah.” (QS. Ali Imran: 169-170).
Dari sini terasa bahwa sejarah dalam novel ini bukan sekadar cerita masa lalu, tapi living history hidup, bermakna, dan penuh ibrah.
Kelebihan:
Kekuatan novel sejarah memang terletak pada kemampuannya menghadirkan peristiwa masa lalu secara indah dan menarik, dan Api Tauhid berhasil melakukannya. Sejarah yang sering dianggap berat justru terasa hangat dan dekat dengan pembaca.
Bahasanya ringan dan mengalir, tetapi tetap mendalam. Pembaca tidak hanya diajak memahami, tetapi juga merasakan. Nilai-nilai tauhid, kesabaran, dan perjuangan disampaikan tanpa terkesan menggurui.
Menariknya, novel ini juga menghadirkan pertemuan berbagai peradaban dalam balutan cinta dan kedamaian, bukan konflik. Hal ini menjadi nilai tambah yang jarang ditemukan dalam novel sejarah lainnya.
Kekurangan:
Pada beberapa bagian, penjelasan sejarah terasa cukup panjang dan detail. Bagi pembaca yang belum terbiasa dengan bacaan reflektif, hal ini mungkin terasa cukup berat dan membutuhkan konsentrasi lebih. Selain itu, perpindahan antara alur cerita dan penjelasan sejarah terkadang membuat ritme bacaan terasa naik turun.
Kesimpulan:
Api Tauhid bukan sekadar novel, tapi juga pengingat bahwa sejarah memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir dan bersikap hari ini. Novel ini sangat cocok bagi pembaca yang ingin mulai membangun budaya membaca, khususnya dalam genre sejarah yang penuh makna.
Siapa pun yang ingin melihat bagaimana peradaban dapat bertemu dalam cinta dan kedamaian, bukan pertentangan, rasanya perlu membaca buku ini. Dari sini kita belajar bahwa masa lalu bukan untuk dilupakan, melainkan untuk dihidupkan kembali sebagai pelajaran.
Buku ini dapat menjadi awal lahirnya langkah kecil untuk lebih dekat dengan sejarah sekaligus lebih dekat dengan diri sendiri.
Penulis: Rijwa Nida Hubaiba
Proofreader: Nurul Fahdilah