Meniti Prestasi Lewat Seni Suara: Perjalanan Zahra Nur Rizqia, Mahasiswi IIQ Jakarta

INTERPRETATIVE

Zahra Nur Rizqia, yang akrab disapa Zia, tumbuh dekat dengan seni suara. Sejak usia empat tahun, ia sudah terbiasa melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Sebuah awal yang membawanya meniti perjalanan panjang dalam seni suara.

Kini, Zia merupakan mahasiswi semester 4 Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa IIQ, ia tetap konsisten mengasah kemampuan suaranya. Baginya, suara bukan sekadar bakat, melainkan sesuatu yang harus dijaga dengan kesungguhan.

Perjalanan tersebut tidak lepas dari peran besar kedua orang tuanya. Sang ayah mengenalkannya pada tilawah sejak kecil, sementara dukungan dan doa dari keduanya menjadi kekuatan yang terus ia bawa hingga saat ini.

Seiring waktu, ruang yang ia jelajahi semakin luas. Zia tidak hanya menekuni tilawah, tetapi juga mengembangkan kemampuan vokalnya. Pengalaman mengikuti lomba vokal sejak sekolah dasar menjadi titik awal baginya untuk menyadari bahwa suaranya dapat berkembang dalam berbagai bentuk.

Perjalanan tersebut kemudian mengantarkannya pada sejumlah prestasi. Zia meraih Juara 1 lomba solois dalam Festival Timur Tengah Universitas Indonesia tahun 2024, Juara Harapan I cabang Qira’at Al-Qur’an golongan Mujawwad Remaja pada MTQH XXXII tingkat Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2024, serta Juara II dalam ajang Bintang Vokalis Remaja Putri LASQI Nusantara Fest tingkat nasional tahun 2025. Meski berasal dari bidang yang berbeda, ia memandang semuanya sebagai bagian dari satu perjalanan dalam seni suara.

Bagi Zia, tilawah dan vokal bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya saling terhubung, terutama dalam pengolahan napas dan kontrol suara. “Teknik vokal dari solois itu sangat membantu saat tilawah,” ujarnya. Dari situ, ia belajar bahwa satu kemampuan dapat memperkuat kemampuan lainnya.

Namun, dibalik itu, Zia tetap memahami bahwa setiap bidang memiliki batasnya. Dalam tilawah, kehati-hatian menjadi hal utama karena yang dilantunkan adalah kalam Allah. Di titik ini, seni suara tidak lagi hanya berbicara tentang teknik, tetapi juga tentang sikap dan tanggung jawab.

Proses yang ia jalani pun tidak lepas dari latihan yang disiplin. Sebelum memasuki bangku kuliah, Zia rutin berlatih hampir setiap malam bersama pelatih. Ia juga menjalani joging di akhir pekan sebagai bagian dari latihan pernapasan.

Memasuki masa perkuliahan, kebiasaan itu tetap ia jaga, meski dengan ritme yang disesuaikan. Ia aktif sebagai vokalis dalam orkestra kampus yang rutin berlatih pada malam hari, serta mengikuti kegiatan Hemas (Hari Ekspresi Mahasiswa) setiap Sabtu sebagai ruang memperdalam tilawah.

Di tengah kesibukan tersebut, Zia pernah dihadapkan pada situasi yang mengharuskannya membagi fokus antara kuliah dan lomba. Ia sempat harus mengulang presentasi yang berdekatan dengan jadwal lomba tingkat nasional. Dalam kondisi tersebut, Zia memilih untuk berkomunikasi dengan dosen dan mengatur prioritasnya. Baginya, menyelesaikan keduanya bukan soal memilih salah satu, melainkan mencari cara agar keduanya tetap berjalan dengan baik.

Dalam rutinitasnya yang padat, Zia menyadari bahwa menjaga kualitas suara bukanlah hal yang mudah. Ia pernah merasakan penurunan performa ketika latihan mulai berkurang. Dari situ, ia belajar bahwa konsistensi adalah kunci utama dalam menjaga kemampuan.

Lebih dari sekadar prestasi, Zia memegang satu prinsip yang terus ia bawa dalam setiap prosesnya. “Niatkan lomba itu sebagai ajang syiar, bukan untuk mendapatkan uang dan pujian. Dan jangan pernah tinggalkan lingkungan Al-Qur’an. Kalau kamu selalu berada dalam lingkungan itu insyaallah hidup kamu akan tenang.” Prinsip tersebut menjadi arah yang membuat langkahnya tetap berpijak pada makna.

Dari perjalanan itu, seni suara tidak hanya membawanya pada panggung dan prestasi, tetapi juga mengajarkannya satu hal sederhana, bahwa sesuatu yang terus dijaga dengan sungguh-sungguh, pada akhirnya akan menemukan tempatnya sendiri.

Penulis: Suci Sutiani

Proofreader: Maryam Ishmah Mumtazah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *