Chairil Anwar, ‘Si Binatang Jalang’ Pelopor Puisi Modern Indonesia

INTERPRETATIVE
Source image: wikipedia

Kalau nama Chairil Anwar disebut, yang pertama muncul di kepala kebanyakan orang pasti satu baris puisi itu. “Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang”. Keras, berani. Nama Chairil Anwar tidak bisa dilepaskan dari sejarah sastra Indonesia. Penyair legendaris, pelopor angkatan 45 yang mengubah wajah perpuisian tanah air. Siapakah Chairil Anwar?

Ia seorang laki-laki Kelahiran Medan, 26 Juli 1922. Chairil tumbuh sebagai anak tunggal yang dimanjakan. Orangtuanya bercerai, ia ikut sang ibu pindah ke Batavia yang kini disebut Jakarta. Sekolah tidak tamat, berhenti di level MULO, setara SMP sekarang. Meskipun tidak menamatkan sekolah, momen inilah yang menjadi langkah awal sastranya.

Ia belajar bahasa Belanda, Jerman, dan Inggris secara mandiri, semata agar bisa membaca karya sastra dunia langsung dari sumbernya. Perpustakaan kota jadi ruang kelasnya, buku jadi gurunya. Dan ketika buku tak bisa dijangkau, ia ambil dengan caranya sendiri.

Chairil bukan hanya penyair, ia pembongkar sistem. Sebelum dia muncul, puisi Indonesia terikat ketat pada rima dan sastra lama ala angkatan Pujangga Baru. Chairil memimpin para penyair membuang warisan itu dan membawa nilai-nilai baru Angkatan 45. Lebih bebas, lebih personal, dan lebih dekat dengan realitas hidup. Ia memasukkan kata-kata pasar, bahasa yang hidup dan bernapas ke dalam puisi. Hasilnya? Sebuah ledakan yang sampai hari ini masih terasa.

Ke mana-mana ia membawa map berisi potongan halaman buku yang dirobeknya dari perpustakaan, toko buku, atau milik kawan. Sahabatnya, Subagio Sastrowardoyo, bahkan punya cerita soal buku-bukunya yang kerap diambil Chairil lalu dijual di Pasar Senen, dan Subagio selalu berhasil menemukannya kembali di lapak buku loak. Bagi Chairil, pengetahuan bukan milik satu orang. Semua yang ia serap, ia olah jadi puisi. Chairil juga bergaul luas lintas dunia seni. di Jakarta ia kerap berkumpul bersama pelukis-pelukis besar seperti Affandi dan Sudjojono. Ia percaya seniman tidak boleh hidup dalam kotak. Sastra, lukisan, musik, semua saling bicara.

Di balik citra pemberontaknya, Chairil menyimpan luka yang tak pernah ia ucapkan langsung. Ketika bekerja sebagai penyiar radio Jepang di Jakarta, ia jatuh hati pada Sri Ayati. Tapi hingga akhir hayatnya, ia tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan itu. Rasa yang tak terucap itu tertuang dalam Senja di Pelabuhan Kecil, salah satu puisinya yang paling sunyi dan paling jujur.

Ia akhirnya menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 September 1946, setelah hanya tiga bulan berkenalan. Dari pernikahan itu lahir seorang putri bernama Evawani Alissa pada 17 Juni 1947. Tapi kelahiran sang putri tak bisa menyelamatkan rumah tangga mereka yang retak karena persoalan ekonomi. Saat anaknya baru berumur tujuh bulan, Chairil sudah menjadi duda.

Setelah perceraian, tubuh Chairil menyerah perlahan. Vitalitas puisinya tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya. Sebelum menginjak usia 27 tahun, berbagai penyakit telah menimpanya. Menurut catatan H.B. Jassin, Chairil dirawat di RSCM dari 22 hingga 28 April 1949. Infeksi paru-paru kronis telah lama menggerogotinya, hingga ususnya pecah dan tubuhnya tak kuat lagi. Di saat-saat ia sempat sadar, yang keluar dari bibirnya hanya, “Tuhanku, Tuhanku.”(dikutip oleh rmolaceh.id, 24/07/ 2022)

Pada 28 April 1949, pukul setengah tiga sore, Chairil pergi. Usia 27 tahun. Jenazahnya diantar dari RSCM ke TPU Karet oleh banyak pemuda dan tokoh Republik terkemuka, termasuk Sutan Sjahrir yang memberi kata perpisahan langsung di pusaranya.

Tapi “Si Binatang Jalang” tidak benar-benar hilang. Dia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan 45 sekaligus puisi modern Indonesia. Semua dari tangan seorang yang tak pernah lulus sekolah menengah.

Pria itu tidak butuh gelar untuk jadi legenda, ia hanya butuh kata-kata. Dan kata-katanya, sampai hari ini, masih hidup dan akan selalu hidup.

“Sekali berarti, sudah itu mati”

Chairil tahu betul apa yang ia tulis.

Penulis : Rijwa Nida Hubaiba

Proofreader : Nashwa Nadrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *