Zulfa Amin, dari IIQ Jakarta ke University of California: “Optimislah, Al-Qur’an Bisa Membawamu ke Manapun”

INTERPRETATIVE

Tidak semua orang yang dekat dengan Al-Qur’an langsung jatuh cinta sejak awal. Ada yang berjalan dulu, mengikuti, bahkan sempat menganggapnya sekadar kewajiban. Sampai akhirnya menyadari bahwa Al-Qur’an bukan sekadar hafalan, tapi jalan hidup. Begitulah perjalanan ini dimulai.

Ya, Siti Eva Zulfa, yang akrab disapa Eva dan lebih dikenal sebagai Zulfa Aamiin di media sosial. Alumni Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta tahun 2022 ini telah menempuh perjalanan panjang bersama Al-Qur’an, yang perlahan mengantarkannya hingga ke titik hari ini. Kini, ia tengah menjalani program short course sebagai visiting scholar di University of California, Riverside, Amerika Serikat. Perjalanan itu sambil menuntaskan penulisan disertasinya pada program doktor Universitas PTIQ Jakarta.

Perkenalan Eva dengan Al-Qur’an bermula dari bimbingan ibunya sejak sebelum sekolah dasar. Hingga ia mulai diarahkan lebih serius ke dunia tahfiz lewat pondok pesantren di bangku kelas 8. Namun, belum ia rasakan keistimewaan tatkala berkegiatan bersama Al-Qur’an. “Aku menganggap menghafal Al-Qur’an hanyalah sebuah tugas, seperti sekolah atau pengajian kitab kuning,” kenangnya.

Eva justru lebih menikmati dunia lain, seperti pramuka, public speaking, paduan suara, seni rebana, sampai berbagai aktivitas leadership. Al-Qur’an hadir, tetapi belum benar-benar “hidup” dalam dirinya. Butuh waktu sekitar enam tahun bagi Eva untuk menemukan alasan menjadikan Al-Qur’an sebagai jalan hidup. Titik balik itu datang saat ia mendaftar di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

Eva mengikuti khataman bil ghaib di Pesantren Takhasus “IIQ Jakarta”

Di sinilah semuanya berubah. Ia mulai serius membenahi hafalannya yang baru mencapai 17 juz dan masih jauh dari kata lancar. Eva merasa harus menyusun ulang ayat-ayat yang terasa tercerai-berai. Ada satu momen yang terus ia ingat ketika semester 8. Saat mahasiswa lain sibuk ditanya “Kapan sidang?”, Eva justru dihadapkan pilihan antara menunda sidang demi menuntaskan ujian komprehensif 30 juz, atau melepas target agar segera lulus. Ia pun tetap bertahan pada niat awalnya.

“Surprisingly, semua prosesnya dimudahkan, bi ‘aunillah.  Dari pengalaman itu, aku jadi yakin 1000% bahwa saat memperjuangkan Al-Quran, Allah akan memberi keajaiban,” kisah Eva.

Eva saat mengikuti Sidang Munaqasyah Skripsi bersama Dr. Hj. Romlah Widayati tahun 2019

Keyakinan tersebut terbukti ketika kesempatan ke Amerika datang tanpa ia kejar secara khusus. “Sejak nyaman dengan Al-Qur’an, aku punya keyakinan bahwa Al-Qur’an akan membawaku ke tempat yang luas, bukan hanya di Indonesia,” katanya.

Meski begitu, jalan menuju Amerika tidaklah instan. Ia harus menyelesaikan seminar proposal tepat waktu, disusul seleksi baca kitab, wawancara, hingga melewati berbagai tahap administrasi, termasuk wawancara visa di Kedutaan Besar Amerika.

Satu tantangan paling terasa dalam prosesnya adalah bahasa. Selama di pondok, ia lebih terbiasa dengan bahasa Arab dalam aspek qiraah dan gramatikal. Untuk mengejar ketertinggalan, Eva rela mengorbankan waktu libur demi kursus kalam di Kediri.

Bahasa Inggris pun sempat menjadi titik lemahnya. Di semester awal, ia pernah mendapat nilai C. Pengalaman tak mudah yang membuatnya tak berhenti. Eva mengulang mata kuliah tersebut, belajar kembali bersama adik tingkat, dan perlahan mengubah cara pandangnya.

Hari pertama Eva menjadi visiting scholar di University of California Riverside, Amerika Serikat 2026

Langkah yang cukup “nekat” pun ia ambil. Eva mengikuti MTQ cabang Tafsir Bahasa Inggris. Keberaniannya tersebut berhasil membawa karya tafsir berbahasa Inggris sebagai bagian dari perjalanan akademiknya.

Meraih Juara 4 MTQ Nasional di Kalimantan Timur cabang Tafsir Bahasa Inggris tahun 2024

Setelah melewati proses seleksi pada Desember 2025, Eva berangkat ke Amerika pada awal Maret 2026. Di momen itu, perasaannya campur aduk.  “It feels like a dream,” ungkapnya singkat.

Selama di Amerika, Eva bertemu dengan komunitas Muslim di California dan diaspora Indonesia yang membawa kehangatan. “Mereka bikin aku ngerasa pulang dan tenang, karena kegiatan mereka banyak melibatkan Al-Quran,” ceritanya.

Ia bahkan sempat diminta mengisi pengajian rutin. Dari situ, Eva sadar bahwa kemampuan Al-Qur’an akan selalu menemukan jalannya untuk bermanfaat, di mana pun seseorang berada.

Hubungannya dengan Al-Qur’an pun semakin personal. Ia bahkan punya panggilan khusus, MasQur. Dalam banyak momen hidupnya, Al-Qur’an terasa seperti berbicara.

“Saat aku merasa bodoh dalam bahasa Inggris, Al-Qur’an bilang, ‘kamu adalah umat terbaik’. Saat aku diuji, Al-Qur’an bilang, ‘tenang, bersama kesulitan ada kemudahan’. Dan saat aku merasa mimpiku terlalu jauh, Al-Qur’an seolah bilang, ‘minta sama Aku, pasti Aku kabulkan’,” ujarnya.

Untuk menjaga kedekatannya, Eva menyediakan waktu khusus untuk murajaah sebagai quality time dengan Al-Qur’an. Ia juga mengikuti kelas sanad tahfiz secara online agar tetap disiplin, di mana pun berada.

Dari seluruh perjalanan itu, seni memilih adalah hal yang paling ia pegang. Eva mengungkapkan bahwa Hidup tidak pernah lepas dari pilihan. Tapi untuk tujuan hidup, kita harus tegas memilih keuntungan dunia dan akhirat.

Di akhir, ia meninggalkan pesan sederhana.

“Perlakukan Al-Qur’an sebaik mungkin. Yang kita hafalkan itu kalam Allah, bukan kalam biasa. Memperjuangkan Al-Qur’an itu investasi dengan keuntungan tak terbatas. Optimislah, karena Al-Qur’an bisa membawamu ke mana pun.”

Dan dari kisah Eva, satu hal terasa jelas. Jalan mungkin tidak selalu mudah. Namun, selalu ada jalan bagi mereka yang benar-benar membersamai Al-Quran.

Penulis : Rijwa Nida Hubaiba

Proofreader : Maryam Ishmah Mumtazah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *