
Dinamika jumlah pendaftar di sebuah perguruan tinggi kerap menjadi ruang refleksi. Bukan sekadar melihat angka, tetapi juga memahami bagaimana kampus dipersepsikan oleh publik. Selama ini, Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta dikenal memiliki identitas yang kuat di bidang tahfiz dan studi Al-Qur’an.
Identitas tersebut menjadi keunggulan yang membedakan IIQ dari perguruan tinggi lain. Namun, di tengah keberagaman latar belakang calon mahasiswa, muncul kebutuhan untuk menampilkan wajah kampus secara lebih beragam. Karena, tidak semua berasal dari lingkungan pesantren atau memiliki dasar hafalan Al-Qur’an. Sementara itu, citra yang berkembang di masyarakat kerap membentuk persepsi bahwa IIQ hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu.

Di sisi lain, realitas di dalam kampus menunjukkan dinamika yang lebih luas. Mahasiswa tidak hanya berfokus pada studi Al-Qur’an, tetapi juga memiliki ruang pengembangan diri di bidang non-keagamaan. Melalui kegiatan seperti HEMAS (Hari Ekspresi Mahasiswa), berbagai minat dapat difasilitasi, mulai dari bidang kepenulisan, broadcasting, english club, musik, hingga olahraga.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara persepsi di luar dan realitas di dalam kampus. Narasi yang selama ini ditampilkan dalam promosi di media sosial masih mendominasi aspek keagamaan. Hal ini memang selaras dengan identitas IIQ, tetapi di sisi lain, belum sepenuhnya mencerminkan keberagaman aktivitas dan capaian yang ada.
Karena itu, diperlukan strategi branding yang lebih seimbang. Kampus dapat mulai menampilkan aktivitas non-keagamaan secara konsisten, termasuk memposting kegiatan HEMAS, prestasi mahasiswa, dan record alumni di berbagai bidang. Keterlibatan mahasiswa sebagai kreator konten juga dapat menjadi langkah efektif untuk menghadirkan gambaran kampus yang lebih autentik dan dekat dengan keseharian.
Selain itu, penyelenggaraan event kampus, seperti IIQ Fest, dapat dikembangkan sebagai ruang yang lebih inklusif. Lomba keagamaan tetap menjadi bagian penting, namun dapat diimbangi dengan kategori umum seperti konten kreatif, seni, maupun olahraga. Dengan konsep yang lebih variatif, kegiatan ini tak hanya menjadi ajang internal, tetapi juga sarana memperkenalkan dinamika kampus kepada publik secara lebih beragam.
Pada akhirnya, kritik ini tidak bertujuan untuk mengurangi nilai dari identitas yang telah ada. Justru sebaliknya, hal ini merupakan upaya untuk memperkuat representasi yang lebih utuh. Dengan menampilkan wajah kampus secara lebih beragam, IIQ memiliki peluang untuk menjangkau calon mahasiswa yang lebih luas.
Penulis: Nurul Fahdilah
Proofreader: Suci Sutiani