Tips Tetap Kritis di Tengah Gelombang AI

INTERPRETATIVE
Source image: Linkedln

Siapa pula yang tak mengenal Artificial Intelligence (AI) di dunia yang serba cepat ini? Sebuah sistem yang cukup diberi satu prompt lalu mampu menyelesaikan pekerjaan dalam hitungan detik. Mulai dari membuat desain, menyusun tugas, hingga merangkum jurnal. Praktis, cepat, dan terasa “menyelamatkan hidup” mahasiswa. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada alarm bahaya yang mulai berbunyi. Hadirnya sahabat AI ini tanpa sadar menggerus suatu hal penting dalam diri manusia, yakni kemampuan berpikir.

Fenomena ini dikenal sebagai atrofi kognitif, yakni menurunnya kemampuan otak akibat terlalu jarang digunakan untuk berpikir aktif. Sebuah penelitian oleh Dr. Jared Cooney Horvath, Ph.D, Med, seorang ahli saraf dan pendidik, menyebutkan bahwa Gen Z memiliki IQ yang lebih rendah dari generasi sebelumnya.

Dilansir dari Time of India pada Sabtu, 7 Februari 2026, Horvath menyampaikan temuan mengejutkan ini dalam ceramahnya kepada Komite Senat Perdagangan, Sains, dan Transportasi Amerika Serikat pada tahun 2026. Data menunjukkan bahwa kemampuan kognitif (IQ) anak-anak yang lahir pada periode akhir 1990 hingga awal 2010 memiliki skor kognitif yang lebih rendah dibandingkan dengan Generasi Milenial (CNBC Indonesia).

Salah satu penyebab utamanya adalah kemudahan yang disodorkan oleh AI. Menjadikan kita terbiasa instan dan otak jarang “berolahraga”.

Namun, jangan khawatir, kawan! Meski AI berpotensi melemahkan kemampuan kognitif, sistem satu ini juga bisa kita balik menjadi senjata untuk memperkuat otak, asalkan tahu caranya. Penasaran? Coba lakukan beberapa hal berikut!

  • Jadikan AI sebagai Partner in Progress

        Alih-alih dibiarkan bekerja sendirian, posisikan AI sebagai teman diskusi. Gunakan ia untuk memperluas perspektif, bukan untuk mendikte jalan pikiranmu.

        • Brainstorming, bukan Shortcut

        Lagi buntu ide? Mintalah AI menyodorkan banyak kemungkinan. Lalu, kita memilih dan mengkritisi mana yang masuk akal. Proses memilah, membandingkan, dan memutuskan ini dapat melatih critical thinking.

        • Selalu Lakukan Verifikasi

        Jangan telan mentah-mentah jawaban AI. Biasakan untuk mengecek ulang hasil AI dari sumber-sumber terpercaya. Proses verifikasi ini secara tidak langsung melatih daya kritis dan kemampuan risetmu agar tidak mudah termakan informasi keliru.

        • Tetap Latih Fokus Tanpa Bantuan Teknologi

        Sesekali biasakan membaca buku, menulis tangan, atau menghitung tanpa bantuan AI maupun kalkulator. Aktivitas sederhana seperti ini justru penting untuk menjaga daya ingat dan konsentrasi tetap tajam.

        AI memang memudahkan hidup. Tapi ingat, ia hanyalah membantu mempercepat proses pembelajaran, bukan untuk memotong jalan pikiran. Cerdiklah dalam menggunakannya.

        Penulis: Maryam Ishmah Mumtazah

        Proofreader: Fathma Mufidah Apriliani

        Tinggalkan Balasan

        Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *