
Menjelang peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober, Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir menjadi salah satu figur yang menarik untuk disorot. Ia membuktikan bahwa akar pesantren dan keluhuran ilmu Islam bukanlah penghalang untuk berkiprah dan diakui di kancah global. Sosok santri yang justru “menaklukkan Barat” dengan intelektualitas, karya, serta keteguhan identitas keislamannya.
Dari Pesantren ke Puncak Akademi Australia
Lahir pada 8 Desember 1973, jejak akademik Gus Nadir begitu gemilang. Setelah menimba ilmu di Fakultas Syari’ah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, semangatnya untuk terus belajar membawanya meraih sederet gelar bergengsi dari berbagai universitas ternama di Australia dan juga Singapura, termasuk dua gelar doktor (Ph.D.) dalam bidang Hukum dari University of Wollongong dan Hukum Islam dari National University of Singapore (NUS).
Karier akademisnya kian bersinar. Sejak 1 Juli 2024, ia resmi mengabdi sebagai akademisi di Fakultas Hukum University of Melbourne, universitas Top 10 terbaik di dunia. Sebelumnya, selama hampir satu dekade (2015-2024), ia menjadi Associate Professor dan Deputy Associate Dean di Fakultas Hukum Monash University. Prestasi ini adalah bukti bahwa keilmuan seorang santri Indonesia mampu sejajar, bahkan dihargai di lingkungan akademisi Barat.
Yang tak kalah membanggakan, di balik statusnya sebagai profesor hukum, Gus Nadir adalah seorang kiai dari organisasi besar Islam di dunia, Nahdlatul Ulama (NU). Dari tahun 2005 hingga akhir 2023, ia dipercaya menjadi Ra’is Syuriah untuk Pengurus Cabang Istimewa NU di Australia dan Selandia Baru. Di tengah hingar-bingar dunia Barat, ia justru menjadi penjaga dan penyebar nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah yang ramah dan moderat.
Warisan Sang Ayah adalah Mencintai Ilmu
Semangat keilmuannya tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah putra bungsu dari almarhum Prof. KH Ibrahim Hosen, seorang ulama besar ahli fiqih dan pelopor pengembangan studi dan pengkajian ilmu-ilmu Al-Qur’an di Indonesia, pendiri Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) juga Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, serta pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI. Dari sang ayah, Gus Nadir mewarisi sifat cinta ilmu dan menjaga rasa ingin tahu (curiosity) yang tinggi. Islam hadir dalam hidupnya bukan sebagai paksaan, tetapi sebagai way of life yang mendorongnya untuk terus mengeksplorasi pengetahuan.
Dasar-dasar Islam yang luhur dan semangat menuntut ilmu yang ditanamkan sejak kecil inilah yang menjadi bekal terbesarnya. Bekal yang mendorongnya untuk tidak sekadar “beradaptasi” di Barat, tetapi juga untuk “menaklukkannya” dengan menunjukkan kedalaman ilmu, produktivitas menulis, dan kontribusi pemikiran yang signifikan.
Dalam sebuah wawancara dengan Najwa Shihab, Gus Nadir mengungkap bahwa pilihannya untuk menimba ilmu hingga Australia dan Singapura—bukan ke Timur Tengah—ternyata merupakan strategi yang diarahkan langsung oleh sang ayah, almarhum Prof. KH Ibrahim Hosen. Sang ayah memberikan pesan visioner yang singkat namun dalam: “Taklukkan Barat!”
“Kamu harus belajar di Barat, mengajar di Barat dan menulis buku di Barat. Jelaskan Islam yang sesungguhnya” lanjut Gus Nadir mengingat pesan sang ayah.
Menulis untuk Dunia, Berdakwah untuk Umat
Produktivitasnya dalam menulis sungguh mengagumkan. Lebih dari 70 publikasi, termasuk buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit ternama dunia seperti Routledge dan Edward Elgar, telah dihasilkannya. Karya-karyanya, seperti “Shari’a and Constitutional Reform in Indonesia” dan “Modern Perspectives on Islamic Law“, menjadi rujukan penting dalam studi hukum dan Islam kontemporer.
Ia juga aktif menulis buku-buku populer dalam bahasa Indonesia, seperti serial “Tafsir Al-Quran di Medsos” dan “Saring Sebelum Sharing“, yang menjangkau masyarakat luas dengan bahasa yang mudah dipahami. Melalui tulisan-tulisannya, baik yang akademis maupun populer, Gus Nadir membawa pesan Islam yang progresif, kontekstual, dan relevan dengan zaman.
Teladan bagi Santri Masa Kini
Kisah hidup Gus Nadir adalah inspirasi nyata bagi para santri di seluruh Indonesia. Ia membuktikan bahwa dengan mendalami ilmu agama (tafaqquh fiddin) dan mengasah keahlian di bidang umum, seorang santri bisa meraih sukses bahkan di panggung internasional.
Gus Nadir memang jarang sekali menampakkan identitasnya sebagai seorang muslim di hadapan rekan dosen maupun mahasiswanya di Australia. Ia hanya menampakkan Islam sebagai way of life, bukan sekedar ritual keagamaan saja. Dan dengan itulah ia “menaklukkan” mereka melalui ilmu dan cara berpikir. Ia juga menunjukkan bahwa keluhuran ajaran Islam, ketika dipelajari dengan sungguh-sungguh dan diamalkan dengan bijak, adalah kekuatan yang mampu melampaui batas-batas geografis dan budaya. Bagi rekan dan mahasiswanya, Gus Nadir adalah duta besar Islam yang baik untuk dunia.
Melalui sosok Gus Nadir, momentum Hari Santri Nasional ini mengingatkan kita untuk terus belajar, mengejar mimpi sejauh mungkin, dan menjadikan keluhuran agama sebagai bekal untuk “menaklukkan” dunia. Jadilah duta Islam yang membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia.
Penulis: Anisa Aulia Putri
Proofreader: Adilah Hidayati