“Tren Makan Rebusan di Kalangan Gen Z”

INTERPRETATIVE
Source image: cakapmedia

Belakangan ini, tren sarapan dengan menu rebusan dan kukusan viral di media sosial. Awalnya, tren ini muncul dari ide sederhana seorang warganet yang mencoba jualan menu sarapan seperti telur, ubi, jagung, sampai talas. Namun, tidak disangka, menu sederhana ini justru menarik perhatian banyak orang dan mulai digemari.

Dari yang awalnya sekadar viral, tren ini perlahan berubah jadi kebiasaan baru, khususnya di kalangan Gen Z. Banyak anak muda yang beralih dari makanan instan seperti junk food, camilan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL), ke pilihan yang dianggap lebih sehat, seperti makanan yang direbus atau dikukus. Perubahan ini menunjukkan mulai adanya pergeseran pola makan di kalangan Gen Z ke arah yang lebih sehat.

Ajakan untuk sarapan sehat ini pun makin meluas. Tidak sedikit orang yang akhirnya ikut berjualan makanan sehat berupa kukusan. Selain mengikuti tren yang sedang viral, sebagian penjual memanfaatkan momentum ini untuk mengajak masyarakat menerapkan pola makan lebih sehat.

Tren tersebut juga mendapat perhatian dari Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. Ia mengapresiasi tren makanan kukusan yang dinilai bisa menjadi langkah sederhana untuk membiasakan masyarakat mengonsumsi makanan bergizi.

“Iya lumayan itu banyak di TikTok saya lihat jutaan yang viral, saya senang. Lebih banyak makan-makanan sehat, sarapan sehat,” ujar Menkes dikutip dari detiksumut, Kamis (13/11/2025).

Menurutnya, satu porsi makanan kukusan sudah mengandung gizi yang cukup lengkap, seperti karbohidrat, protein, serat, hingga vitamin. Karena diolah tanpa minyak berlebih, kandungan nutrisinya pun lebih terjaga. Menu seperti ubi, jagung, atau telur kukus pun dinilai cocok untuk dijadikan pilihan sarapan.

Alma Almadinatuz zahro, mahasiswa semester 4 Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta, mengaku mulai mengonsumsi makanan kukusan sebagai pengganti nasi saat sarapan. “Supaya enggak makan nasi saat sarapan, selain itu juga sebagai penganti karbohidrat yang rendah gula,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Muhtaz Fajri, mahasiswa koas Universitas YARSI. Ia menilai makanan rebusan memang jadi pilihan yang lebih sehat dibanding makanan berminyak atau cepat saji.

“Oh iya, tentunya lebih bagus makanan rebus dong dibanding yang digoreng atau cepat saji,” katanya.

Meski begitu, pola hidup sehat tidak cukup hanya dengan mengonsumsi makanan rebusan. Asupan gizi tetap perlu diperhatikan secara seimbang, termasuk variasi makanan dan kebutuhan nutrisi harian.

Menariknya, tren ini juga berkaitan dengan gaya hidup clean eating yang semakin populer dikalangan anak muda.Banyak Gen Z mulai sadar bahwa makanan yang dikonsumsi tidak cuma soal kenyang, tapi juga soal kandungan gizi dan dampaknya bagi tubuh.

 Dinda Clarita, salah satu mahasiswi semester 6 IIQ Jakarta mengaku mulai beralih ke makanan rebusan sebagai bentuk dari upaya menjaga pola hidup sehat.

“Alasan utama aku mengganti nasi ke makanan rebusan, selain karena diet dan kalorinya pun lebih sedikit,” ujarnya.

Selain menjaga pola makan, gaya hidup sehat juga makin terlihat dari kebiasaan lain, seperti rutin olahraga, ikut kelas fitness, hingga pergi ke gym. Tidak sedikit anak muda yang mulai berusaha menyeimbangkan antara pola makan sehat dan aktivitas fisik.

“Dengan mengurangi makanan gorengan atau cepat saji, tentunya lebih sehat karena rendah kalori dan lemak. Tapi pola hidup sehat enggak cukup sampai situ aja, harus diimbangi dengan hal lainnya juga, misalnya: rutin berolahraga, tidak tidur terlalu malam, ataupun kegiatan lainnya diluar kebiasaan makan sehat yang dapat menunjang pola hidup sehat.” lanjut Muhtaz Fajri.

Tren makanan rebusan akhirnya tidak hanya menjadi fenomena viral di media sosial, tetapi juga bagian dari perubahan gaya hidup di kalangan anak muda. Meski begitu, konsistensi tetap menjadi kunci agar pola hidup sehat tidak berhenti sebagai tren sesaat.

Penulis: Rijwa Nida Hubaiba

Proofreader: Nashwa Nadrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *