
Menurut laporan Halodoc, kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menjadi perhatian dunia setelah tiga penumpang dilaporkan meninggal akibat dugaan infeksi virus tersebut. Kapal pesiar itu berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026 menuju kawasan Antartika dengan membawa 147 penumpang dan kru dari 23 negara (Halodoc.com).
Perjalanan wisata yang semula ditujukan untuk ekspedisi lintas Atlantik itu berubah menjadi darurat kesehatan setelah sejumlah penumpang mengalami gejala berupa demam tinggi, gangguan pernapasan, serta mual dan diare. Kondisi beberapa pasien kemudian memburuk dalam waktu singkat.
Beberapa hari setelah pelayaran dimulai, seorang penumpang pria berusia 70 tahun asal Belanda mengalami demam, sakit kepala, dan diare ringan pada 6 April 2026. Kondisinya kemudian memburuk menjadi gangguan pernapasan berat hingga meninggal dunia pada 11 April saat kapal masih berada di tengah perjalanan (Halodoc.com).
Jenazah korban baru dievakuasi saat kapal singgah di Pulau Saint Helena pada 24 April 2026. Pada hari yang sama, sekitar 29 penumpang turut turun, termasuk istri korban pertama, tanpa pemeriksaan kontak yang memadai. Dalam perjalanan menuju Johannesburg, Afrika Selatan, sang istri mulai mengalami gangguan pencernaan dan meninggal dunia pada 26 April (Halodoc.com).
Kasus tersebut kemudian memicu investigasi lanjutan. Hasil laboratorium pada 4 Mei 2026 mengonfirmasi infeksi hantavirus melalui uji PCR. Selain itu, seorang perempuan asal Jerman dilaporkan meninggal dunia pada 2 Mei setelah mengalami pneumonia sejak 28 April (Halodoc.com).
Hingga 4 Mei 2026, World Health Organization (WHO) mencatat tujuh kasus yang terdiri atas dua kasus terkonfirmasi dan lima kasus suspek, dengan total tiga kematian. Jumlah tersebut kemudian bertambah menjadi delapan kasus setelah seorang penumpang di Swiss dinyatakan positif pada 6 Mei 2026 (Halodoc.com).

Melansir CNN Indonesia, penularan hantavirus berkaitan dengan paparan virus dari hewan pengerat, terutama tikus. Virus ini dapat menyebar melalui udara yang terkontaminasi partikel kotoran, urine, atau air liur tikus yang mengering lalu terhirup manusia (CNNIndonesia.com).
Sementara itu, dilansir dari Liputan6, salah satu penumpang kapal, Runi Cenet, mengaku meninggalkan kapal setelah penumpang pertama dinyatakan meninggal dunia. Ia menilai penanganan medis di dalam kapal berlangsung lambat sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan penumpang selama perjalanan (Liputan6).
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) menilai hantavirus berbeda dengan COVID-19. Sebagian besar jenis hantavirus tidak menular cepat antarmanusia, melainkan lebih sering berpindah dari hewan pengerat ke manusia melalui lingkungan yang terkontaminasi. Sejumlah penelitian sebelumnya juga menunjukkan keberadaan virus serupa pada tikus di beberapa wilayah, seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang (Kemenkes.go.id).
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, meminta pemerintah memperketat pengawasan sebagai langkah antisipasi. Pemerintah Indonesia pun mulai memperkuat pengawasan penyakit zoonosis bersama World Health Organization (WHO) melalui peningkatan skrining kesehatan di bandara dan pelabuhan internasional, serta kesiagaan tenaga medis dalam mendeteksi gejala yang mengarah pada infeksi hantavirus (Kompas.com).
Penulis: Nurul Fadhilah
Proofreader: Suci Sutiani