Ketika FOMO Mengubah Cara Kita Menentukan Pilihan

INTERPRETATIVE
Source image: Alodokter

Pernahkah teman-teman merasa gelisah ketika orang lain sudah mencoba kafe yang sedang viral, menonton konser, membeli barang terbaru, atau mengunggah pencapaiannya di media sosial, sedangkan kita belum melakukannya? Perasaan takut tertinggal itu kini semakin akrab dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO). Sekilas terlihat sepele, tapi jika dibiarkan, FOMO dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri.

Fenomena ini bukan terjadi tanpa sebab. Laporan Digital (2025) Indonesia dari Data Reportal, menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam setiap hari untuk mengakses internet, dengan media sosial sebagai salah satu platform digital yang paling sering digunakan. Kondisi tersebut membuat pengguna semakin sering terpapar pada potret kehidupan orang lain. Alih-alih mendapat hiburan, paparan tersebut justru mendorong kecenderungan untuk membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.

Salah satu media sosial yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia adalah TikTok, platform berbasis video pendek yang populer di berbagai kalangan (Liputan6.com). Popularitas tersebut menunjukkan besarnya peran media sosial dalam membentuk pola interaksi dan konsumsi informasi masyarakat saat ini.

Tingginya penggunaan TikTok di Indonesia tercermin dari data yang menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dengan 99,1 juta pengguna aktif (We Are Social, 2022). Jumlah tersebut membuat penyebaran informasi dan tren berlangsung sangat cepat, sehingga mendorong pengguna untuk terus mengikuti perkembangan yang sedang terjadi.

Psikolog Leon Festinger (1954) melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Di era media sosial, kecenderungan itu semakin kuat karena setiap hari kita disuguhi potongan-potongan kehidupan yang tampak sempurna.

Kondisi tersebut turut tercermin dalam hasil survei terhadap 638 remaja di Indonesia yang menemukan bahwa sekitar 64,6% atau 412 responden mengalami FOMO saat menggunakan media sosial (Kaloeti dkk., 2021). Data ini menunjukkan bahwa rasa takut tertinggal bukan lagi fenomena yang terjadi pada segelintir orang, melainkan telah menjadi pengalaman yang cukup umum di kalangan remaja.

Source image: MSIG Life

FOMO tidak hanya memunculkan rasa takut tertinggal tren, tapi juga perlahan menggeser alasan di balik setiap keputusan. Seseorang membeli sesuatu bukan atas dasar kebutuhan, melainkan karena sedang menjadi perbincangan. Begitu pula saat mengunjungi suatu tempat, motivasinya bukan lagi keinginan pribadi, melainkan dorongan agar tidak merasa menjadi satu-satunya yang belum pernah mencobanya. Tanpa disadari, pilihan hidup pun mulai dikendalikan oleh standar yang dibentuk orang lain.

Di titik inilah jati diri mulai dipertaruhkan. Ketika terlalu sibuk mengejar apa yang sedang populer, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk mengenali apa yang benar-benar disukai dan dibutuhkan. Padahal, setiap orang memiliki jalan hidup, kemampuan, dan prioritas yang berbeda. Tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua pencapaian orang lain harus dijadikan ukuran keberhasilan diri.

Ironisnya, media sosial kerap hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang. Foto yang diunggah telah dipilih, momen yang dibagikan telah diseleksi, sementara kegagalan, rasa lelah, atau perjuangan panjang di balik sebuah pencapaian jarang terlihat. Namun, yang dibandingkan justru kehidupan nyata kita dengan potongan kehidupan terbaik orang lain. Perbandingan yang tidak pernah benar-benar seimbang.

Penelitian psikologi juga menunjukkan bahwa FOMO berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, rendahnya kepuasan hidup, dan menurunnya kesejahteraan psikologis (ALODOKTER, 2025). Karena itu, FOMO seharusnya tidak lagi dipandang sebagai istilah yang sekadar mengikuti tren media sosial, melainkan sebagai fenomena yang perlu disikapi dengan lebih bijak.

Mengikuti perkembangan zaman tentu bukan hal yang salah. Tren bisa menjadi inspirasi, sekaligus membuka peluang dan pengalaman baru. Namun, yang perlu dijaga adalah jangan sampai rasa takut tertinggal membuat kita kehilangan arah hidup. Sebab, tren akan selalu berganti, tapi jati diri adalah sesuatu yang seharusnya tetap kita miliki.

Pada akhirnya, pertanyaan yang layak kita ajukan bukan lagi, “Apa yang sedang dilakukan orang lain?” melainkan, “Apakah ini benar-benar yang saya butuhkan?” Sebab, menjadi diri sendiri mungkin tidak selalu membuat kita tampak paling mengikuti tren, tetapi justru itulah yang menjaga kita agar tidak kehilangan arah di tengah derasnya unggahan yang hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan.

Penulis: Nurul Fadhilah

Proofreader: Suci Sutiani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *