Cepat Membaca, Belum Tentu Paham: Tantangan Literasi di Era Digital

INTERPRETATIVE
Source image: Pinterest

“Bestie, spill dong” “Relate banget” “No debat” “Healing dulu, guys” dan lain sebagainya.

Kalimat-kalimat seperti ini sudah sering kita dengar, bukan? Bahkan tanpa sadar, beberapa istilah dari media sosial sudah ikut masuk ke dalam percakapan sehari-hari. Ada kata yang disingkat, dicampur dengan bahasa lain, dibuat dengan gaya baru, atau bahkan memiliki makna yang beda dari sebelumnya. Kalau dipikir-pikir, bahasa kita memang berubah sangat cepat.

Media sosial jadi salah satu ruang yang membuat perubahan itu semakin mudah terjadi. Satu istilah bisa muncul dari sebuah komunitas, dipakai oleh orang lain, masuk ke berbagai platform, lalu akhirnya jadi bagian dari percakapan sehari-hari.

Penelitian Hafizah dan Widiansyah (2026) terhadap penggunaan bahasa mahasiswa di Instagram juga menemukan berbagai bentuk variasi bahasa, mulai dari perbedaan gaya bahasa, perubahan makna, pelesapan huruf, hingga munculnya kata-kata baru.

Namun, ada satu hal yang menarik untuk dipikirkan. Kalau cara kita berbahasa berubah, apakah cara kita membaca dan memahami sesuatu juga ikut berubah?

Coba lihat kebiasaan kita ketika membuka media sosial, informasi datang dalam bentuk yang serba singkat. Mulai dari caption pendek, video berdurasi beberapa detik, rangkuman dalam beberapa slide, sampai judul yang seketika membuat kita merasa sudah tahu keseluruhan isinya. Memang praktis. Kita bisa mendapatkan banyak informasi tanpa membutuhkan waktu lama.

Namun, apakah banyak informasi berarti banyak yang kita pahami? Tidak selalu.

Ada informasi yang memang cukup diketahui secara singkat, tetapi ada juga yang membutuhkan konteks. Berita perlu dibaca sampai selesai, tulisan ilmiah tidak bisa dipahami hanya dari judulnya, buku juga tidak mungkin benar-benar dipahami jika kita hanya membaca bagian yang dianggap menarik.

Kebiasaan membaca di era digital menjadi menarik untuk diperhatikan. Fatimah dkk. (2025) dalam penelitiannya tentang literasi digital Generasi Z, menemukan bahwa kemampuan menggunakan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kemampuan memahami dan mengevaluasi informasi secara mendalam. Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya kecenderungan membaca secara cepat dan lebih menyukai informasi yang sudah diringkas.

Media sosial tentu bukan satu-satunya penyebab persoalan literasi. Begitu pun penggunaan bahasa singkat atau slang yang kini menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari. Bahasa memang terus berkembang mengikuti zamannya. Yang perlu diperhatikan bukan sekadar bagaimana bahasa itu berubah, melainkan bagaimana kita tetap mampu memahami konteks dan informasi bacaan di tengah perubahan itu.

Kita tetap membutuhkan bahasa yang santai untuk mengobrol dengan teman. Kita juga butuh informasi yang singkat ketika sedang mencari sesuatu dengan cepat. Yang penting, kita tahu kapan informasi cukup dibaca sekilas dan kapan perlu ditelusuri lebih jauh.

Mungkin di sinilah budaya membaca perlu dilihat kembali. Membaca bukan cuma soal seberapa banyak tulisan atau buku yang berhasil kita habiskan. Ada proses memahami, mempertanyakan, dan memastikan kembali informasi yang kita terima.

Sesekali, mungkin kita perlu berhenti scrolling dan memberi waktu untuk satu bacaan. Baca sampai selesai, buka sumber aslinya, lalu lihat konteksnya. Sederhana, tetapi kebiasaan seperti ini membuat kita tidak hanya menjadi orang yang cepat menemukan informasi, melainkan juga mampu memahami bacaan.

Karena di tengah arus informasi yang semakin cepat, kemampuan untuk memperlambat diri sejenak mungkin justru menjadi bagian penting dari budaya membaca hari ini.

Penulis : Rijwa Nida Hubaiba

Proofreader : Nurul Fadhilah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *