Benarkah Orang Indonesia Malas Berjalan Kaki?

INTERPRETATIVE
Source image: Unsplash

Berjalan kaki merupakan aktivitas fisik yang murah dan menyehatkan. Namun, kultur berjalan kaki masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan beberapa negara lain di dunia. Berdasarkan penelitian Althoff dan rekan-rekan dari Stanford University yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada tahun 2017, rata-rata masyarakat Indonesia tercatat berjalan sekitar 3.513 langkah per hari. Angka tersebut menempatkan Indonesia di antara negara dengan rata-rata jumlah langkah harian terendah dalam penelitian tersebut. Sebagai perbandingan, masyarakat Hong Kong menempati peringkat tertinggi dengan rata-rata 6.880 langkah per hari.

Salah satu faktor yang dapat memengaruhi aktivitas berjalan kaki adalah kondisi infrastruktur bagi pejalan kaki. Di sejumlah kota, trotoar yang sempit, tidak terawat, atau digunakan untuk parkir dan berjualan dapat menyulitkan pejalan kaki. Selain itu, pilihan moda transportasi masyarakat juga perlu diperhatikan ketika membahas kebiasaan berjalan kaki.

Kondisi tersebut berbeda dengan negara-negara seperti Belanda dan Jerman. Penelitian John Pucher dan Lewis Dijkstra yang diterbitkan dalam American Journal of Public Health pada 2003 membahas berbagai kebijakan di Belanda dan Jerman yang mendukung keselamatan serta kenyamanan pejalan kaki, termasuk penyediaan fasilitas pedestrian dan penataan lalu lintas.

Kendati demikian, di beberapa kota di Indonesia terdapat daerah yang memiliki aktivitas berjalan kaki lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Misalnya, di beberapa kawasan Yogyakarta dan Bandung, aktivitas berjalan kaki cukup mudah ditemui, terutama di kalangan mahasiswa. Jarak kampus yang berdekatan dan kawasan pedestrian yang lebih ramah membuat berjalan kaki menjadi pilihan yang lebih memungkinkan. Beberapa kota juga mulai membangun jalur pedestrian yang lebih baik, seperti trotoar lebar di kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta.

Rendahnya aktivitas berjalan kaki pada akhirnya bukan semata-mata persoalan individu, tetapi juga persoalan struktural. Masyarakat akan sulit diajak bergerak jika trotoar tidak nyaman, keamanan tidak terjamin, dan ruang publik lebih bersahabat bagi kendaraan daripada pejalan kaki.

Padahal, berjalan kaki bukan sekadar aktivitas fisik. Dalam Filosofi Jalan Kaki, Frederic Gros membahas berjalan kaki sebagai aktivitas yang juga memberi ruang untuk berpikir dan mengamati sekitar. Ia menelusuri pengalaman tokoh seperti Nietzsche, Rousseau, dan Kant yang menjadikan berjalan sebagai bagian dari proses berpikir. Ketika berjalan, tubuh tidak hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ada waktu untuk mengamati sekitar, melepaskan diri dari rutinitas, dan memberi ruang bagi pikiran untuk bekerja.

Artikel yang diterbitkan Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI pada 10 April 2025 menyebutkan bahwa berjalan kaki dapat membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2, menjaga kesehatan jantung, dan membantu mengontrol gula darah. Selain itu, aktivitas fisik seperti berjalan kaki dapat membantu memperbaiki suasana hati serta mengurangi stres dan kecemasan.

Dengan begitu, berjalan kaki bukan sekadar persoalan seberapa banyak langkah yang dilakukan setiap hari. Kebiasaan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga dapat memberi ruang bagi ketenangan dan refleksi diri.

Penulis: Aini Mukaromatul Agnia (Anggota Magang)

Proofreader: Siti Nur Khabibah (Anggota Magang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *