Sumber: Gotravelly

Sego Pecel Dong Jathi Ponorogo: Kuliner yang Cocok untuk Sarapan

KULINER

Bau semerbak beras yang baru saja dimasak mulai memasuki indera pencium para insan pagi ini. Setiap minggu pagi, sudah menjadi langganan para pejalan kaki atau pengendara sepeda pancal datang ke warung nasi pecel godong jatiini. Tak afdhol rasanya, jika sudah sampai kota Ponorogo, belum mencicipi nikmatnya nasi dibaluri sambel pecel dan tempe goreng hangat yang nikmat.

“Bu, nasi pecel nya dua, sekaligus tempenya satu piring ya, bu.” Tazkia (23), gadis berkaca mata itu mengangkat jari telunjuk dan tengahnya. Walaupun ramai, pembeli tetap antri dengan tertib sesuai protokol kesehatan. Di depan warung juga sudah disediakan tempat cuci tangan bagi para pembeli yang datang.

“Unjukanipun nopo? (minumannya apa?).” tanya penjualnya.

“Teh anget mawon, kalih (teh hangat saja, dua).” Setelah memesan, dia segera mengambil tempat duduk di kloso (re:karpet) yang sudah digelar dibelakang warung. Untuk tempat dudukpun sudah ditata sedemikian mungkin agar tidak berkerumun.

Pecel sudah barang tentu makanan yang biasa kita temui di Jawa Timur. Namun, pecel di Ponorogo ini berbeda dari segi rasa dan penyajiannya. Jika rata-rata pecel di daerah lain dibungkus dan beralaskan kertas minyak atau daun pisang, pecel di Ponorogo ini dibungkus menggunakan daun jati. 

Sego pecel dong jathi ini bertempat di jalan Suromenggolo yang juga biasa disebut dalan anyar oleh masyarakat. Saban minggu dini hari, ramai para pejalan kaki, atau pengendara sepeda untuk sekedar berolaraga, atau hanya mencoba mencicipi beraneka ragam jajanan, mulai dari jajanan pasar maupun junk food. Sebelum pandemi melanda, jalan ini biasa digunakan sebagai car free day nya Ponorogo. Namun, karena melihat kondisi saat ini, car free day sementara di tiadakan dan mulai ada pembatasan supaya tidak ada kerumunan.

Selang lima menit datanglah pelayan warung mengantarkan dua nasi pecel dan dua teh hangat. Aroma gorengan tempe yang masih hangat membangunkan cacing-cacing dalam perut. Ditambah juga harumya godhong jati  yang menjadi alasnya. Hamparan sawah hijau dibelakang warung sekaligus tempat outdoornya menambah susasana nyaman sembari memakan nasi pecel godhong jati yang dijual. Apalagi ditambah dengan teh hangat, dimakan jam setengah 6 pagi ketika matahari mulai terbit.

“Matursuwun, mas (terima kasih, mas)” Ia menerima dua piring rotan berisinasi pecel dengan daun jati sebagai alasnya.

Nasi pecel yang dibalut sambal kacang khas ponorogo ini begitu diminati oleh hampir seluruh warga Ponorogo maupun para wisatawan yang datang ke kota Reog ini. Harum daun jeruk dan pedasnya sambal, ditambah dengan aroma daun jati yang begitu khas menambah nafsu makan para penikmatnya. Dipadu dengan kuluban berisi daun pepaya, daun ketela dan timun sebagai sayuran yang menyehatkan. Selain tempe, ada juga lauk bakwan, peyek, dan lento.

“Aroma daun jeruknya yang harum juga aroma godong jatinya sih, mantap sekali!”, komentar Tazkia ketika mencicipi sesuap nasi pecelnya.

“Nggak lupa juga, pedesnya memang khas Ponorogo sekali!” Tambahnya tersenyum.

Bagi kalian yang ingin menikmati nasi pecel godong jati bisa datang pada pukul 06.00 WIB sampai dengan jam 09.00 WIB. Makanan khas ponorogo yang digandrungi masyarakat ini bisa di dapat dengan harga Rp. 5.000,- rupiah saja. Murah bukan?

“Kalau kalian lagi di Ponorogo, mampir, ya! Jangan sampai menyesal!” tutur Tazkia.

Tidak sekadar mengisi perut kosong di pagi hari, sarapan juga dapat memperbaiki suasana hati. Menu yang menggugah selera bisa melahirkan energi positif untuk menjalani hari-hari, apalagi di saat pandemi seperti ini. Karena itu, para masyarakat selalu mencari cara agar bisa menikmati sarapan kembali.

Penulis: Rosyda Nailah Amany

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *