Di Balik Kebisingan Dunia, Palestina Masih Menunggu Kita

INTERPRETATIVE
Source image: Pinterest

Dunia memang tidak pernah kehabisan isu. Setiap hari, ada saja berita baru yang mengisi layar ponsel kita, menggantikan berita sebelumnya, seolah yang lama tidak lagi penting. Hari ini ramai orang membicarakan “Board of Peace”, besok orang-orang terkejut dengan eskalasi konflik antara Iran dan Israel, lusa orang-orang sudah beralih ke isu lainnya. Begitu terus siklusnya, berputar, berulang-ulang. Tetapi di antara semua kebisingan itu, ada satu suara yang seharusnya tidak pernah kita abaikan, yaitu suara Palestina.

Ketika Dunia Sibuk Berpindah, Palestina Tetap di Tempat yang Sama

“Board of Peace” menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Banyak yang menyambutnya dengan harapan, seolah perdamaian sudah didepan mata, ada juga yang kontra dengan hal ini. Lalu muncul ketegangan baru antara Iran dan Israel yang kembali menjadi perhatian publik global. Media ramai, medsos penuh, opini bertebaran ke mana-mana.

Di tengah hiruk-pikuk isu global, ada satu hal yang luput dari perhatian kita, atau mungkin memang sengaja diabaikan. Di balik semua drama geopolitik ini, Israel tak pernah berhenti melakukan penjajahannya. United Nations, (Historical Timeline of the Question of Palestine, 2024) mencatat bahwa penindasan terhadap rakyat Palestina bukan dimulai dari 7 Oktober 2023, melainkan sejak 1897, ketika Kongres Zionis Pertama diselenggarakan oleh Theodor Herzl di Basel, Swiss, yang secara resmi menyatakan tujuan mendirikan negara Yahudi (Yahudi Raya) di Palestina. Hingga kini, penindasan itu masih berlangsung. Mulai dari operasi militer, pembantaian, hingga pemblokiran bantuan kemanusiaan. Sedangkan dunia internasional hanya mampu bersuara prihatin tanpa mengambil langkah yang konkret.

Dalam tempo 14 Januari 2025, data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip OCHA mencatat setidaknya 46.645 warga Palestina tewas, banyaknya wanita dan anak-anak yang menjadi korban dan 110.012 lainnya cedera serta ribuan ditangkap dan disandera. Rumah-rumah dan fasilitas negara dihancurkan, Masjid Al-Aqsa terancam, dan sistem kesehatan lumpuh total. Ini bukanlah konflik biasa, melainkan penjajahan aneksasi wilayah secara ilegal yang terus berlangsung dengan berbagai motif.

Ini Bukan Kebetulan, Ini Ghazwul Fikri

Mengapa perhatian dunia begitu mudah berpindah? Mengapa setiap kali isu Palestina memanas, selalu muncul “drama baru”, seolah lebih menarik untuk dibicarakan? Ini bukanlah sebuah kebetulan. Dalam Islam, ini dikenal sebagai ghazwul fikri atau perang pemikiran.

Ghazwul fikri adalah bentuk penyerangan melalui pikiran yang senjatanya bukan peluru, melainkan pikiran, tulisan, ide-ide, teori, argumentasi, dan propaganda, yang dirancang untuk mengubah cara pandang umat Islam dari dalam tanpa mereka sadari. Strategi ini mulai diterapkan secara sistematis, setelah musuh-musuh Islam gagal menaklukkan dunia Islam melalui perang konvensional pada masa Perang Salib. Kekalahan telak yang mereka alami menimbulkan kesadaran baru, bahwa menaklukkan Islam itu memerlukan penyerbuan yang bersifat non-militer, yaitu dengan cara menjauhkan umat islam dengan agamanya, sehingga mereka mudah mengalahkannya.

Salah satu target utamanya adalah memecah belah umat Islam dari dalam, dengan menimbulkan perpecahan di kalangan pemimpin, mencegah terbentuknya persatuan, hingga membuat sesama Muslim saling melemahkan. Dan hari ini, kita menyaksikan hasilnya, umat Islam sibuk berdebat soal mazhab, ormas bahkan partai politik, sementara Palestina terus berjuang sendirian. Inilah ghazwul fikri yang sedang bekerja. Maka yang menjadi pertanyaannya adalah “Mau sampai kapan kita akan terus terjebak di dalamnya?”.

Palestina Masih Menunggu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Peran kita sangatlah berarti bagi mereka. Karena ini menunjukkan bahwa kita masih memiliki sifat dan sikap empati terhadap sesama manusia. Kita bisa membantu mereka dengan berdonasi, menjadi relawan langsung disana, bersuara di media sosial, walau hanya sekedar me-repost postingan orang lain, dan meluruskan narasi yang tidak sesuai fakta, sehingga berita tentang mereka tidak terkubur dengan konten hiburan belaka.

Bantuan untuk mereka juga kita dapat lakukan dengan berdo’a bagi mereka. Walau terlihat mudah, sepele, tetapi dampaknya bahkan kita bisa rasakan baik di dunia atau di akhirat kelak. Dan itu semua menjadi saksi, pembelaan kita di akhirat nanti. Karena, sekecil apapun yang kita lakukan, itu jauh lebih baik dari pada bersikap diam, bahkan pura-pura tidak tahu, seakan-akan dunia ini baik-baik saja.

Bersatu, Karena Palestina Bukan Milik Satu Golongan

Sayangnya, di tengah seruan untuk membela Palestina, kita justru sering terjebak dalam perdebatan yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Saling menyalahkan karena beda ormas, seperti NU atau Muhammadiyah, salafi atau non-salafi. Saling merendahkan karena beda mazhab atau beda pilihan politik. Seakan-akan perbedaan-perbedaan kecil itu lebih penting, lebih utama dari nasib saudara kita di Gaza.

Padahal, perbedaan pendapat dalam Islam, bukanlah hal yang baru. Bahkan di zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم sendiri pun sudah ada. Contohnya adalah kisah para sahabat ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan: “Jangan sholat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah”?. Maka. sebagian sahabat ada yang memilih sholat di perjalanan karena khawatir waktu Ashar habis, dan sebagian yang lain memilih menunggu hingga tiba di tujuan. Keduanya berbeda dalam pemahaman, namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak menyalahkan satu pun dari mereka. (HR. Bukhari dan Muslim no.1770). Dan ini menunjukkan kebolehan ijtihad dalam memahami perintah Rasulullah selama memiliki dasar pemahaman yang kuat, dan keduanya mendapat pahala.

Itulah Islam, Rahmatan lil ‘aalamin, lapang dalam perbedaan, tetapi teguh dalam tujuan. Dan tujuan kita saat ini seharusnya jelas, yaitu membela Palestina, bersatu untuk Al-Aqsa. Allah جل جلاله pun telah mengingatkan kita dalam QS. Al-Hujurat: 10, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” Persaudaraan itu tidak gugur hanya karena kita berbeda mazhab atau berbeda bendera organisasi. Jadi, Selama kita masih dalam satu naungan yaitu kalimat “Laa ilaaha illallah”, maka kemerdekaan, pembebasan Palestina adalah tanggung jawab kita bersama.

Palestina menunggu kita. Jangan berpaling!

Palestina bukan sekadar isu politik yang bisa kita pilih untuk peduli atau tidak. Ini adalah amanah besar dari Allah جل جلاله kepada umat Islam untuk menjaga tanah yang diberkahi, Masjid Al-Aqsa berdiri, tanah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai ardh mubaarakah atau tanah yang diberkahi (QS. Al-Anbiya: 71), juga sebagai kiblat pertama umat islam.

Maka, sudah saatnya kita kembali focus kepada pembebasan Palestina. Jangan biarkan “Board of Peace” atau isu-isu yang lain mengalihkan mata dan hati kita dari Palestina. Karena, selama Israel belum mengakhiri pendudukannya atas tanah Palestina, maka tidak akan ada perdamaian yang sejati. Dan Palestina, masih di sana, masih berjuang, masih menunggu.

Penulis: Naila Qonita Rahman

Peserta Lomba Menulis Opini NgabubuWrite Ramadan 2026 (Naskah ini tidak melalui proses editorial Redaksi LPM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *