Jejak Hari Bahasa Ibu dalam Jendela Dunia

HARI BESAR OPINI

Manusia sebagai makhluk sosial, tidak bisa lepas dari komunikasi antarsesama, dan dalam berkomunikasi diperlukan bahasa. Bahasa adalah salah satu tanda karakter seseorang, kelompok, bahkan bangsa. Ketika ingin menyampaikan keinginan untuk menjelaskan ide atau gagasan, maka perlu adanya bahasa yang baik dan benar. Artinya, jika bahasa digunakan dengan tepat dan disampaikan dengan baik, maka semakin mudah pula untuk dipahami.

Lalu Apakah sebenarnya Hari Bahasa Ibu Internasional itu?

Bahasa Ibu adalah bahasa yang pertama kali dipelajari oleh manusia. Bahasa Ibu yaitu bahasa tempat asal atau tempat tinggal seseorang, atau lebih dikenal sebagai bahasa daerah.

Menurut sejarah, Hari Bahasa Ibu Internasional diperingati setiap tanggal 21 Februari karena pada tahun 1952 terjadi penolakan besar-besaran terhadap penetapan gubernur Bangladesh yaitu Mohammed Ali Jinnah, yang menetapkan bahasa Urdu sebagai bahasa resmi Pakistan pada saat itu. Keputusan itu mendapat penolakan karena dinilai tidak membudayakan bahasa yang sudah dipakai sejak leluhur serta bahasa yang sudah ringan di lidah masyarakat, sehingga muncul adanya konflik yang menumpahkan banyak darah masyarakat yang menolak adanya pembaharuan bahasa tersebut.

Akibat aksi tersebut, sejumlah mahasiswa tewas menjadi korban kekerasan aparat setempat, hal ini menyebabkan terjadinya pemberontakan selama beberapa tahun kemudian. Hingga akhirnya kemenangan berada di pihak warga Pakistan Timur (Bangladesh) yang diikuti oleh usulan Radiqul Islam, seorang kerabat korban dalam aksi tersebut, mengusulkan diadakannya peringatan Hari Ibu Internasional kepada Sekjen PBB pada saat itu, Kofi Anan. Kemudian usulan tersebut diterima hingga pada akhirnya Hari Bahasa Ibu internasional mulai  diperingati sejak tanggal 21 Februari 1999.

Perlu diingat bahwa perayaan ini bukan untuk mengingat peristiwa berdarah yang terjadi di Bangladesh, Namun lebih kepada perayaan keberagaman bahasa dan budaya masyarakat yang ada di seluruh dunia. Keanekaragaman ini seharusnya menjadi dasar sesama umat manusia untuk saling menghargai.

Melihat dari sejarah, bahwa Hari Ibu Internasional adalah salah satu  upaya untuk melestarikan eksistensi bahasa lokal, serta budaya yang ada. Terlebih jika di Indonesia, yang memiliki beragam adat dan juga bahasa, maka sangat penting untuk dipertahankan dan jangan sampai hilang karena arus globalisasi masa kini.

Penulis: Kiky Adeana Sisca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *