Khatmil Qur’an ke-7: Bukan Final, Tapi Awal Belajar Al-Qur’an

KABAR IIQ

UKM-TPQ Raudhotul Qur’an Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menggelar acara Khatmil Qur’an ke-7. Acara berlangsung di Masjid Raudhotul Qur’an Pesantren Takhasus IIQ Jakarta dengan mengusung tema “Aktualisasi Santri Dalam Mewujudkan Generasi Qur’ani”, Sabtu (09/03/24).

Acara yang diketuai oleh Hana Dwi ini berlangsung dengan khidmat sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Dihadiri oleh Sekretariat Qiroati Jakarta Selatan, Baihaqi Abdul Syakur, Pentashih TPQ Raudhotul Qur’an IIQ Jakarta, Lalu Rus’an Sujak, pengurus Pesantren Takhasus IIQ Jakarta, Lili Fatmawati,S.Ag., BKKBM IIQ Jakarta, Wali murid dan santri TPQ, serta segenap tamu undangan lainnya. UKM-TPQ Raudhatul Qur’an IIQ Jakarta berhasil meluluskan 12 santri di tahun 2024. Untuk mencapai prestasi yang luar biasa ini, tentu tidak mudah. Santri harus melewati berbagai jenjang dan tahapan dalam metode Qiroati, mulai dari tahap jilid 1-6 dan kelas Al-Qur’an, menghafal ghorib dan tajwid, dilanjut dengan tes oleh petinggi Qiroati di Jakarta Selatan. Serangkaian tahap metode Qiroati ditempuh oleh santri rata-rata selama 4-6 tahun.

Pengurus Pesantren Takhasus IIQ Jakarta, Lili Fatmawati,S.Ag mengucapkan selamat kepada para santri yang telah diwisuda, beliau juga berpesan “Wisuda ini adalah langkah awal dalam mempelajari Al-Qur’an. Semua prestasi membanggakan ini tidak telepas dari peran guru dan orang tua yang telah berjuang untuk proses belajar dan mengajar Al-Qur’an”.

Bapak Muhammad Husnil, salah satu wali santri TPQ Raudhotul Qur’an menyampaikan, “Adanya Khotmil Qur’an ini dapat memberikan semangat kepada anak, sehingga mereka memiliki target khusus untuk menyelesaikan pendidikan awal dalam Al-Qur’an dan dengan adanya target tersebut, secara mandiri anak mampu mengatur waktunya dengan baik”, tuturnya. Acara Khatmil Qur’an ini menunjukkan betapa hebatnya para santri. Dalam usia yang masih dini mereka mampu memahami dan membaca Al-Qur’an serta ilmu dasar Al-Qur’an dengan baik. Bapak Muhammad Husnil juga menyampaikan, “Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya saat ini. Semua rasa terimakasih tidak mampu mengembalikan jasa luar biasa para guru”, tuturnya. Rasa bahagia dan bangga menyelimuti seisi ruangan pada prosesi sungkeman. Seketika tangisan pecah, bukan hanya wali santri, namun juga guru dan tamu undangan yang hadir.

Penyerahan syahadah Qiroati menjadi ujung acara khatmil Qur’an ini. Dilanjutkan do’a oleh bapak Abdullah Hadir. Sebelum berdo’a beliau berpesan “khatam Al-Qur’an bukan berarti selesai belajar Al-Qur’an, melainkan gerbang awal untuk mengkaji Al-Qur’an lebih dalam”, tuturnya. Selamat kepada suluruh khotimin dan khotimat, semoga kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membentuk generasi Qur’ani.

Penulis : Ayfia Amireyl Fitrothy. Proofreader : Hanifah Jawahir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *