Sepak Terjang Alm. Prof. Azyumardi Azra, Ketua Dewan Pers Indonesia

TOKOH

Minggu, 18 September 2022 Indonesia kembali kehilangan ilmuwan kelas dunia.

Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, M. Phil., M.A., CBE dilahirkan di Lubuk Alung Sumatera Barat pada tanggal 04 Maret 1955. Akan tetapi, kini beliau telah menghembuskan napas terakhirnya setelah menjalani perawatan di rumah sakit di Selangor, Malaysia. Mendiang Azyumardi sempat mengalami gangguan kesehatan di pesawat yang ditumpanginya menuju Malaysia.

Azyumardi Azra, yang lebih akrab dipanggil Prof Azra, merupakan sosok yang mempunyai dedikasi tinggi terhadap ilmu pengetahuan bahkan pikiran-pikiran kritisnya telah banyak memberikan kontribusi bagi negeri ini. Prof. Azra terpilih sebagai anggota Dewan Pers 2022 – 2025 dari unsur tokoh masyarakat. Ia kemudian didapuk menjadi Ketua Dewan Pers pada periode ini.

Kiprah Prof. Azyumardi Azra di masyarakat bermula ketika beliau bergabung dengan majalah Panji Masyarakat di bawah pimpinan Buya Hamka pada tahun 1978. Beliau merupakan sosok yang gemar membaca dan menulis sehingga Panji Masyarakat adalah tempat yang pas untuk mengembangkan semua itu. Dalam waktu tidak lama, Azyumardi menjadi wartawan Panji Masyarakat bersama rekannya,  Komaruddin Hidayat dan Iqbal Abdurauf Saimima. Kemudian pada tahun 1982-1983 menempuh karir di Lembaga Riset Kebudayaan Nasional (LRKN) di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pada tahun 1985, kabar mundurnya Azyumardi dari LKRN LIPI terdengar sampai ke telinga Rektor IAIN Jakarta Prof. Harun Nasution sehingga ia memutuskan menarik Azyumardi menjadi dosen di Fakultas Tarbiyah. Tetapi, keadaan ini tidak berlangsung lama, pada bulan Maret 1986, Azyumardi terpilih sebagai dosen muda IAIN Jakarta untuk melanjutkan pendidikan Pascasarjana di Amerika.

Tahun 1995 Prof Azra kembali ke Indonesia dan langsung aktif sebagai dosen IAIN Jakarta setelah selesai studi doctoral di Universitas Oxford. ia pindah dari Fakultas Tarbiyah untuk mengajar Sejarah ke Fakultas Adab sesuai bidang ilmunya.  Tak hanya sampai disini, kiprahnya terus melejit. Pada tahun 1998, tepat dalam usia 43 tahun, Azyumardi dilantik menjadi Rektor IAIN Jakarta. Sejak saat itu, persiapan mengubah IAIN menjadi UIN semakin matang. Azyumardi memulai langkah-langkah perubahan dengan menerapkan konsep IAIN dengan mandat lebih luas.

Akhir tahun 2003, salah satu wartawan dari Republika, meminta kesediaan Azyumardi untuk menulis artikel kolom setiap pekan di koran Republika, tawaran itupun diterima dengan baik oleh  Azyumardi sehingga secara intesif beliau menulis. Dari awal tahun 2004 hingga awal 2005, selama setahun Azyumardi telah menulis kurang lebih 50 artikel kolom dan dimuat di rubrik “Resonansi”. Tulisan-tulisan itulah yang kemudian dihimpun dan diterbitkan dengan judul Dari Harvard Hingga Mekkah.

Pada awal tahun 2007, Rektor Komaruddin Hidayat meminta Azyumardi memimpin Program Pascasarjana. Azyumardi pun menyutujuinya, dari tahun 2007 sampai 2015 tercatat ia menjadi Direktur Pascasarjana berturut-turut.

Tak hanya sukses dalam karirnya, prestasi yang di torehkan juga sangat mengagumkan. Pada tanggal 28 September 2010, Azyumardi Azra menerima penghargaan the Commander of the British Empire (CBE Award). Penghargaan ini diberikan oleh Ratu Inggris, Elizabeth II. Azyumardi dinilai berjasa dan memberikan kontribusi penting dalam membangun hubungan baik antar agama di tingkat internasional, khususnya antara Indonesia dengan Inggris. Azyumardi merupakan orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan ini. Selain itu, Azyumardi juga orang pertama yang mendapat penghargaan CBE yang berasal dari negara bukan persemakmuran. Selain itu, Azyumardi mendapat penghargaan Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture (SML) dari LIPI pada 23 Agustus 2017. Kemudian, penghargaan “The Order of the Rising Sun: Gold and Silver Star” dari pemerintah Jepang pada 7 November 2017, yang disematkan langsung oleh Kaisar Akihito di Istana Imperial Tokyo.

Prof. Azra merupakan orang Asia Tenggara pertama yang diangkat sebagai Professor Fellow di Universitas Melbourne, Australia (2004 – 2009), dan anggota Dewan Penyantun (Board of Trustees) International Islamic University Islamabad Pakistan (2004 – 2009). Ia juga masih menjadi salah satu anggota Teman Serikat Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan

Prof Azra, namanya tak hanya dikenal oleh akademisi dilingkungan PTKI, tak hanya seorang intelektual tapi juga tokoh sufi yang mastur. Beliau adalah sosok yang nyaris tak kenal lelah dan pantang menyerah. Keajegan dalam kebaikan dan kemaslahatan adalah tarekat kekasih Tuhan. Semoga segala perjuangan baiknya dapat menjadi teladan dan dedikasi baiknya dalam ilmu pengetahuan menjadikan masa depan anak bangsa semakin tercerahkan.

Penulis: Ayu Fita Nahdiatul Mukarrommah  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *