Pesantren Takhassus Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta menggelar serah terima kunci serta tasyakuran wajah baru Gedung Rusunawa H. Moh. Joesoef, pada Senin (27/12/2021). Acara ini dihadiri oleh segenap jajaran Pengurus Yayasan Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta, beberapa tamu dari Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan, Balai Pelaksanaan Rumah Jawa 1, Satuan Kerja Penyediaan Perumahan Provinsi Banten serta perwakilan dari jajaran Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia selaku donatur dalam perenovasian gedung Rusunawa H. Moh. Joesoef.
Acara ini diawali oleh pembacaan Al-Qur’an, lalu dilanjutkan oleh sambutan dari Ketua Umum Yayasan IIQ Jakarta yaitu Rully Chairul Azwar. Ia mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Menteri Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat Republik Indonesia Mochamad Basoeki Hadimoeljono yang sampai saat ini telah menghibahkan 2 buah gedung Rusunawa.
Pada akhir sambutan beliau menyampaikan rasa terima kasih kepada Pimpinan dan seluruh pelaksana PT. Tiga Mas selaku kontraktor, yang telah menyelesaikan tugas pembangunan tepat waktu dan sesuai mutu yang diharapkan. Ia juga berterima kasih atas terjalinnya koordinasi yang baik antara Kementerian PUPR, Kontraktor, dan Yayasan IIQ Jakarta dalam mengelola pembangunan Gedung, khususnya kerja keras yang dilakukan melalui Manajemen Kontrak (MK) dimana pihak yayasan diwakili oleh Rasud Syakir.
Sambutan juga disampaikan oleh Firsta Kepala Balai Jawa 1, mewakili PLT Direktur Rumah Susun PUPR. Ia menyampaikan harapannya agar Rumah Susun Yayasan Institut Ilmu Al-Qur’an dapat dipelihara dan dirawat dengan baik, serta bermanfaat sebagai tempat pembentukan karakter mahasiswa. Acara selanjutnya serah terima kunci kepada pihak Yayasan Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta yang diwakili oleh Rully Chairul Azwar, lalu dilanjutkan dengan penandatanganan surat-surat.
Rasyud Syakir selaku Sekertaris umum Yayasan IIQ Jakarta juga menyampaikan, bahwa gedung Moh. Joesoef merupakan gedung yang mulanya dibangun oleh keluarga H. Moh. Joesoef pada tahun 1976/1977. Oleh karenanya umur gedung tersebut sudah terlampau tua.
“Ada kekhawatiran karena dahulu gedung DKI yang belum terlampau tua saja terlalu crowded lalu terbakar, sehingga Yayasan mengajukan kepada Kementerian PUPR untuk membangun kembali gedung tersebut. Pada akhirnya dikabulkan. Dengan catatan untuk merobohkan gedung yang lama, walaupun bersejarah dan punya nilai. Namun demikian tetap menjadi nama yang melekat di dalamnya, maka gedung ini tetap sesuai dengan nama yang semula yaitu Gedung H. Moh Joesoef.
Setelah itu, beliau menyampaikan harapannya ke depan karena gedung yang dirasa sudah representatif, semoga seluruh mahasiswa lebih giat dan lebih semangat lagi dalam menuntut ilmu di Institut Ilmu Al-Qur’an.
Penulis: Graciella & Ayu