Yayasan Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menggelar acara tahunan Menyambut Bulan Ramadhan 1443 H, Haul ke-21 Almagfurlah Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML. dan launching buku Pandangan dan Pemikiran Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan (Kumpulan Tulisan di Majalah Mimbar Ulama MUI) pada Minggu (27/03/2022).
Acara ini dihadiri oleh banyak tokoh nasional, di antaranya Dr. H. Jazilul Fawaid, S.Q., M.A. (Wakil Ketua MPR RI), Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, Ph.D. (Rais Syuriah PCI NU di Australia dan New Zealand), Prof. Dr. H. Noor Achmad, M.A. (Ketua Baznas Republik Indonesia), Dr. Ir. H. M. Nadratuzzaman Hosen, MS, MEc, Ph.D., Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, M.H., M.A, Prof. Dr. M. Amin Suma, Dr. H. M. Asrorun Ni’am Sholeh, M.A., beserta segenap jajaran pengurus Yayasan Pesantren dan para alumni IIQ Jakarta.
Kegiatan digelar secara hybrid yaitu offline di Masjid Raudhatul Qur’an Pesantren Takhassus IIQ Jakarta dan online melalui aplikasi Zoom Cloud Meetings. Rangkaian acara diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh bapak Abdul Rosyid, M.A. selaku Sekretaris Dewan Pengasuh Pesantren Takhassus, pembacaan doa Dr. KH. Ahmad Fathoni Lc. Ketua Dewan Pengasuh Pesantren Melanjutkan dengan doa khotmil Qur’an, dan disambung dengan tilawah Kalam Ilahi serta sholawat Nabi yang dilantunkan oleh Fathmah Muthi’ah—mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IIQ Jakarta.
Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, Ph.D. atau yang akrab disapa Gus Nadir—Wakil Ketua Pesantren sekaligus putra dari Prof. K.H. Ibrahim Hosen—turut hadir secara online langsung dari Australia. Pada sambutannya, beliau menceritakan bagaimana almagfurlah selaku rektor pertama IIQ Jakarta sangat mendambakan lahirnya ulama-ulama perempuan dari “rahim” IIQ Jakarta. “Meskipun pendiri IIQ adalah laki-laki, IIQ baru (dikatakan) sukses kalau nanti pemimpin rektornya adalah perempuan,” tutur beliau mengenang pernyataan almagfurlah.
Pesan terakhir almagfurlah kepada putra-putranya, “Nanti akan ada majelis taklim yang besar, tetapi karena abah sakit, kamu saja yang tampi menggantikan abah,” dengan napas yang tersenggal-senggal, almagfurlah mendiktekan materi-materi yang harus disampaikan pada majelis tersebut.
Kemudian Gus Nadir menjelaskan bahwa inti dari materi-materi yang harus disampaikan ialah tentang penelitian dan terus berkarya merupakan bagian dari tauhid. Jika ada orang yang berhenti melakukan hal tersebut, seolah-olah dia tidak memanfaatkan apa yang Allah berikan, dan tidak percaya dengan apa yang sudah Allah siapkan untuknya.
“Di situ saya merenung, bahwa ternyata hasil-hasil kajian beliau selama berpuluh-puluh tahun itu adalah bagian dari aplikasi tauhid beliau. Maka dari itu, bagaimana kita sekarang yang ditinggalkan oleh beliau, berpikir bahwa IIQ ini menjadi sarana untuk belajar, karena ini bagian dari tauhid,” jelasnya.
Sambutan lainnya juga disampaikan oleh Pjs rektor sekaligus putri dari Prof. K.H. Ibrahim Hosen, Dr. Hj. Nadjematul Faizah, S.H., M.Hum., Ir. Hj. Rully Chairul Azwar, M.A. (Ketua Umum yayasan IIQ Jakarta), Dr. Hj. Mursyidah Thahir, M.A. (Alumni IIQ Jakarta), dan Dr. H. Jazilul Fawaid, S.Q., M.A. (Wakil Ketua MPR RI).
Beberapa alumni juga ikut memeriahkan acara dan tampil menyampaikan kesan dan pesan terhadap almagfurlah Prof. K.H. Ibrahim Hosen. Beberapa alumni tersebut di antaranya, Umi Hasunah sebagai perwakilan alumni dari Jawa Timur yang kini menjadi pengasuh Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang, Siti Qamariyah Tiflen, M.Ag. sebagai perwakilan alumni dari Papua yang kini menjadi dosen IAIN Fattahul Muluk, Lulu Sarine S.H.I., M.A. sebagai perwakilan alumni dari Sulawesi Tengah yang kini menjadi Penyuluh Fungsional Kementerian Agama Sulawesi Tengah, dan Dr. Iffah Muzammil yang kini menjadi dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Kemudian sesi ke-1 ini ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Prof. Abdul Wahab A. M., Lc., M.A.
Setelah rehat sholat Magrib, acara sesi ke-2 disambung kembali dengan launching buku almagfurlah Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML. yang berjudul Pandangan dan Pemikiran Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan (Kumpulan Tulisan di Majalah Mimbar Ulama MUI).
Sambutan pertama pada sesi ke-2 diawali oleh Dr. H. Ir. Nadratuzzaman Hosen MS, MEc, Ph.D. dari The Ibrahim Institute, “Almarhum itu mempunyai banyak asisten pribadi. Karena kalau menulis latin sudah susah, hanya bisa menulis bahasa Arab saja, jadi narik dari kanan ke kiri, jadi kalau dari ke kanan, beliau kaku. Jadi caranya beliau mendiktekan kemudian ditulis. Nah, intinya adalah kekuatan dari ingatan beliau, (beliau) juga mengajak asistennya mencari kitab-kitab, yang dibantu juga oleh Ustadz Munif,” tuturnya.
“Bagaimana almarhum walaupun dalam kesibukannya tetap ingin menulis, dan kalau ada masalah-masalah yang ditanyakan di Komisi Fatwa, beliau senang sekali membuat makalah. Dan bedanya juga (waktu itu) belum ada digital, almarhum suka membawa kitab-kitab di rapat Komisi Fatwa, dan yang paling saya lihat, ketika ada pertanyaan dari masyarakat yang harus difatwakan, beliau melihat persoalan ini dari sisi fikih dulu, bagaimana maslahat dan mudharat-nya, maka dari itu beliau menyenangi ini,” jelasnya.
Kemudian acara dilanjutkan dengan penyerahan buku Pandangan dan Pemikiran Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan (Kumpulan Tulisan di Majalah Mimbar Ulama MUI) kepada beberapa tamu undangan, di antaranya yaitu Dr. H. Muhaimin Zain, M.A., Dr. Hj. Mursyidah Thahir, M.A., Dr. K.H. Ahmad Munif Suratmaputra, M.A., K.H. Haris Hakam, dan Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, M.H., M.A.
Sambutan lainnya disampaikan oleh Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, M.H., M.A. (Dekan FSH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Dr. H. M. Asrorun Ni’am Sholeh, M.A. (Ketua MUI Bidang Fatwa), lalu yang terkhir disampaikan oleh Prof. Dr. H. Noor Achmad, M.A. (Ketua Baznas Republik Indonesia).
Acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Dr. K.H. Ahmad Munif Suratmaputra, M.A. dan dilanjut dengan kegiatan makan bersama para tamu undangan yang menghadiri acara.
Dengan diadakannya acara Haul ke-21 dan launching-nyabuku almagfurlah Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML., diharapkan bisa memberikan manfaat bagi para mahasiswa IIQ Jakarta dan segenap masyarakat lainnya, sekaligus bisa menjadi bahan diskusi atas masalah-masalah yang terjadi untuk hari ini dan kedepannya.
Penulis: Rosyda Nailah Amany