World Autism Awareness Day 2022: Memahami dan Menyikapi Autisme

HARI BESAR OPINI

World Autism Awareness Day 2022: Memahami dan Menyikapi Autisme

Hai, sobat LPM! Apakah kalian tahu bahwa setiap tanggal 2 April diperingati sebagai World Autism Awareness Day atau Hari Peduli Autisme Sedunia?

Dilansir dari laman wikipedia.org, Hari Peduli Autisme ini pertama kali disahkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1 November 2007 dan ditetapkan pada 18 Desember 2007 melalui Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 62/139. Resolusi tersebut melahirkan keputusan ditetapkannya tanggal 2 April sebagai Hari Kesadaran Autisme Sedunia, terhitung sejak tahun 2008.

Tujuan penetapan peringatan World Autism Awareness Day oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah untuk mengingatkan perlunya kesadaran dan dukungan dari masyarakat atas hak para penyandang autisme agar mampu menentukan arah perkembangan dirinya sendiri, mandiri dan otonomi, serta mengakses pendidikan dan pekerjaan dengan berdasar kesetaraan.


Apa Itu Autisme?

Autisme merupakan suatu gangguan perkembangan pervasif yang secara menyeluruh mengganggu fungsi kognitif dan mempengaruhi kemampuan bahasa, komunikasi, dan interaksi sosial seseorang.

Mereka yang menyandang autisme dapat mengalami kesulitan memahami apa yang orang lain pikirkan dan rasakan. Hal ini membuat mereka sulit untuk mengekspresikan diri, baik dengan kata-kata maupun melalui gerak tubuh, ekspresi wajah, dan sentuhan.

Dilansir dari laman ciputrahospital.com, gangguan autisme memiliki beberapa ciri-ciri yang dapat diamati. Umumnya, ciri ini dapat dilihat sejak usia mereka masih anak-anak. Berikut merupakan ciri-ciri dari gangguan autisme:

  1. Mengalami masalah sosial

Ciri paling umum dari pengidap autis adalah mengalami masalah dengan sosialnya. Misalnya, lebih suka bermain sendiri, berinteraksi dengan orang lain hanya untuk mencapai tujuannya, dan kontrol emosi yang buruk hingga menghindari kontak fisik dari sosialnya.

  • Susah berkomunikasi

Seseorang yang mengidap autis pasti memiliki kesulitan dalam hal berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Beberapa pengidapnya akan dapat berbicara sedikit atau tidak bisa berbicara sama sekali.

  • Menunjukkan minat atau perilaku yang tidak biasa

Kebanyakan dari orang-orang yang mengidap autis selalu memiliki minat dan perilaku yang berbeda dengan orang normal lainnya. Misalnya, memiliki rutinitas tertentu yang dibuat olehnya dan menyukai hingga terobsesi dengan suatu benda.

  • Gejala lainnya

Gejala lain yang menyertai autis berbeda-beda tiap individu. Misalnya, perilaku yang hiperaktif, adanya tindakan impulsive, tindakan agresi, self-harm, serta memiliki rasa takut atau tidak takut yang berbeda dengan orang normal lainnya.

Kasus Autisme di Dunia dan Indonesia

Prevalensi autisme di dunia semakin lama semakin meningkat. Hingga sebelum tahun 2000, prevalensi autisme 2-5 sampai dengan 15-20 per 1.000 kelahiran, 1-2 per 1.000 penduduk dunia. Data Autism Society of America (ASA) pada tahun 2000 yakni mencapai 60 per 10.000 kelahiran, dengan jumlah 1:250 penduduk. Sementara, data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), USA, pada tahun 2001 yaitu tercatat 1 di antara 150 penduduk, dan di beberapa daerah di USA/UK yaitu di antara 100 penduduk. Pada tahun 2012, data CDC menunjukkan bahwa sejumlah 1:88 anak menyandang autisme, dan pada tahun 2014 meningkat 30% yaitu sebanyak 1,5% atau 1:68 anak di USA menyandang autisme.

Sedangkan, kasus autisme di Indonesia belum ditemukan data yang pasti. Namun, merujuk pada Incidence dan Prevalence Autism Spectrum Disorder (ASD), tercatat 2 kasus baru per 1000 penduduk per tahun, serta 10 kasus per 1000 penduduk (BMJ, 1997). Sedangkan penduduk Indonesia yaitu 237,5 juta dengan laju pertumbuhan penduduk 1,14% (BPS, 2010). Maka, diperkirakan penyandang ASD di Indonesia yaitu 2,4 juta orang dengan penambahan penyandang baru 500 orang/tahun. Demikian data yang dilansir dari laman kemenpppa.go.id.

Seringkali penyandang autisme dipandang sebelah mata. Penampilan maupun gerak-gerik yang berbeda membuatnya kerapkali menjadi sasaran bullying teman-teman sebaya yang normal di lingkungan sekitarnya.

Padahal, tidak selamanya mereka hidup dalam keterbatasan. Banyak tokoh dunia penyandang autisme yang mampu mengubah stigma autisme dengan menjadi orang sukses di dunia. Mereka adalah Albert Einstein, Isaac Newton, Charles Darwin, Matt Savage, dan masih banyak lagi.

Dari pencapaian meraka kita dapat memahami bahwa kekurangan bukanlah penghalang bagi kesuksesan. Kesuksesan adalah milik orang-orang yang mau berusaha dan berjuang.

“Lihatlah aku apa adanya, bukan dari ‘gangguan’-ku.”

Setiap manusia tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan pada dirirnya, begitupun para penyandang autisme. Mungkin mereka kesulitan dalam mengkomunikasikan dan mengekspresikan apa yang mereka rasa, namun di sisi lain tentu mereka memiliki kelebihan, misalnya dalam bidang seni, musik, atau bidang lainnya. Begitulah kehidupan, semuanya saling berdampingan sebagaimana siang dan malam, panas dan dingin, senang dan sedih, pun kekurangan dan kelebihan.

Penulis: Shafira Suci Salsabilah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *