Tanggal 28 April diperingati sebagai Hari Puisi Nasional. Mengapa diperingati pada tanggal tersebut? Jawabannya yakni sebagai bentuk untuk mengenang sosok Chairil Anwar atau yang kerap disapa “binatang jalang”.
Beliau adalah seorang sastrawan yang telah melahirkan 96 karya, termasuk 70 puisi melegenda. Beliau juga dinobatkan sebagai pelopor angkatan ‘45.
H. B. Jassin, dalam bukunya yang berjudul Pengarang Indonesia dan Dunianya (1983) yang diterbitkan oleh PT. Gramedia, mengatakan bahwa apabila membaca sajak-sajak Chairil Anwar, selalu kita merasa terpesona dan tidak bosan-bosannya. Setiap kali kita membacanya, pikiran kita mengembara jauh dan selalu menemukan sesuatu yang baru atau sesuatu yang sebelumnya tidak kita lihat atau kita lihat dengan mata yang lain dari sudut yang lain.
Sebuah karya yang melegenda tentunya terdapat proses yang tidak biasa. Keseharian Chairil Anwar hanyalah membaca buku, mempelajari sajak penyair luar negeri, dan mengartikan sajak asing. “Jika Chairil Anwar berada di rumah, tidak ada pekerjaan lain yang diperbuatnya kecuali membaca, sampai di meja makan pun ia membawa buku, menyuap nasi sambil membaca. Di tempat tidur juga begitu, ia selalu membaca sajak-sajak dan berusaha memberikan pengertian,” ungkap Hapsah, mantan istri Chairil Anwar.
Hingga pada 28 April 1949, Chairil Anwar di saat-saat terakhirnya, ia mengigau saat demam tinggi dengan menyebut, “Tuhanku, Tuhanku ….”
Sebuah sajak diselesaikannya menjelang kematian, bahkan ia tidak sempat memberi judulnya. Berikut sajaknya:
Cemara menderai sampai jauh,
terasa hari akan jadi malam,
ada beberapa dahan disingkap merapuh,
dipikul angin yang terpendam,
aku sekarang orangnya bisa tahan,
sudah berapa waktu bukan kanak lagi,
tapi dulu memang ada suatu bahan,
yang bukan dasar perhitungan kini.
Hidup hanya menunda kekalahan,
tambah terasing dari cinta sekolah rendah,
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan,
sebelum pada akhirnya kita menyerah.
Begitulah sosok Chairil Anwar yang telah memberi pengaruh bagi anak muda untuk terus berkarya, mencintai sastra dan Indonesia. Maka, tidak heran meskipun beliau telah wafat, namun karya-karyanya masih terkenang kuat.
Selamat Hari Puisi Nasional!
Mari berkarya lewat puisi, menjadi Chairil Anwar masa kini!
Penulis: Nurazizah Anwariani