
Pada Minggu, 13 Maret 2023, telah diadakan acara haul ke-22 Almaghfurlah Prof. K.H Ibrahim Hosen di Pesantren Takhassus IIQ Jakarta. Beliau adalah ahli perbandingan agama, inisiator dan pendiri Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) dan Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Acara ini dilaksanakan secara daring dan luring. Para tokoh nasional banyak yang turut hadir, diantaranya: Komisioner Baznas RI, Dr. Ir. H. Muhammad Nadratuzzaman Hosen, M.S, M.S.i., Ph.D, Ketua BPH DSN-MUI, Dr. K.H Maulana Hasanudin, M.A., Dosen UIN Jakarta, Dr. K.H Muqri Aji, Ketua Syuriah PCI NU di Australia dan New Zealand, Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, Ph.D., Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Jazilul Fawaid, S.Q., M.A., Ketua Umum Yayasan IIQ beserta jajaran, segenap civitas akademika IIQ, dewan pembina IIQ beserta jajaran, keluarga besar Almaghfurlah, alumni, dan segenap mahasiswa IIQ Jakarta.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Lilis Kholisoh, mahasiswa semester 2. Dilanjutkan pembacaan ratib al-hadad yang dipimpin oleh Ibu Hj. Muthmainnah., M.Ag. Sebagai upaya mengharapkan ridho Allah SWT, khataman Al-Qur’an telah dilakukan dari beberapa hari sebelumnya oleh para dosen, mahasiswa, dan alumni sebanyak 53 kali, yang kemudian puncaknya pada hari ini do’a khataman Al-Qur`an dipanjatkan bersama yang dipimpin oleh Hj. Ummi Hasunnah, pimpinan pondok Daarul Ulum Jombang.
Almaghfurlah adalah seorang pengembara ilmu. Beliau pernah belajar dengan K.H. Abdul Latif di Cilegon, K.H. Tb Sholeh Ma`mun di Serang, Kiai Abbas di Buntet, hingga belajar kepada Habib Ahmad Assegaf di Solo dan Kiai Sanusi di Sukabumi. Setelah itu, Almaghfurlah melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Semua jejak pendidikan diatas menjadi bekalnya ketika mendirikan PTIQ dan IIQ Jakarta, menjadi Rektor pertama IAIN Palembang, profesor hukum Islam di 7 universitas, dan ketua dan komisi fatwa MUI selama 20 tahun (1980-2000)
Dr. Hj. Nadjematul Faizah, SH., M.Hum-Rektor IIQ Jakarta dan Putri dari K.H Ibrahim Hosen- dalam sambutannya mengatakan IIQ didirikan untuk mencetak perempuan-perempuan berkualitas yang diharapkan menjadi agen pembelajaran. Para alumni diharapkan kembali ke kampung halaman membawa bekal ilmu untuk masyarakat. Rektor IIQ juga mengatakan, sebagai upaya mewujudkan cita-cita pendiri, yaitu mencetak ulama wanita, IIQ Jakarta adalah institusi yang selalu mengikuti apa yang menjadi ketentuan regulasi kementerian agama, kementerian pendidikan, kemendikbudristek, badan akreditasi nasional dan badan akreditasi mandiri. Dengan ini, beliau berharap agar mahasiswa memiliki niat untuk melanjutkan pendidikan di IIQ hingga meraih gelar Doktor.

Alumni dari berbagai daerah dihadirkan untuk ikut menyampaikan kesan dan pesan baik untuk Almaghfurlah atau untuk kampus tercinta, IIQ Jakarta. Perwakilan alumni pertama berasal dari wilayah Kalimantan, Yulia Hafidzah, SH.I., M.EI. (Dosen UIN Antasari Banjarmasin 1997-2002). Yulia bercerita, dulu sewaktu pertama kali datang untuk mendaftar di IIQ, K.H Ibrahim berkata, “IIQ pasti memudahkan mahasiswanya untuk lulus. IIQ tidak pernah menghalangi siapapun untuk belajar Al-Qur’an. Semuanya insya Allah dimudahkan. Nanti seiring waktu, seleksi itu akan berjalan dengan sendirinya. Siapa yang tidak sabar dalam menghafal kalam-Nya, akan keluar dengan sendirinya”. Yulia menyaksikan hal itu benar adanya. Ia pun tidak putus semangat walaupun banyak tantangan sewaktu kuliah yang dulu dihadapinya. Berkat bimbingan, keikhlasan, dan semangat dari para pengajar di IIQ, semua tantangan itu bisa dilaluinya.
Kemudian alumni selanjutnya ada Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Jazilul Fawaid, S.Q., M.A., yang pernah mengambil studi S2 di IIQ. Ia mengatakan pemikiran-pemikiran Almaghfurlah sangat relevan hingga saat ini. Ia berharap, acara ini menjadi momentum penting untuk kembali mengingat jasa dengan pemikiran pembaharuan yang digagas oleh almarhum. Selain Yulia dan Jazilul, terdapat 8 alumni lain yang turut memberikan kesan, pesan, dan nasihat. Mereka semua mengatakan bersyukur pernah menjadi mahasiswa IIQ Jakarta dan bangga melihat perkembangan, prestasi, dan reputasi IIQ saat ini.
Acara dilanjutkan dengan ceramah mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh K.H Mukri Aji. Beliau mengatakan Almaghfurlah K.H Ibrahim Hosen selalu bersemangat dalam mengajar. Muridnya diajarkan akhlak-akhlak Qur’ani, agar bisa menjadi ulama dan faqih ilmu. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan keluarga yang disampaikan oleh Dr. Ir. H. Muhammad Nadratuzzaman Hosen, M.S, M.S.i., Ph.D. Beliau mengatakan, K.H Ibrahim sangat cinta dan selalu membanggakan murid-muridnya dihadapan anak-anaknya. Suatu akhlak terpuji yang menjadi kebiasaan almarhum adalah sifat menghargai waktu, perhatiannya terhadap penampilan, dan sangat memuliakan ahli Qur’an. Nasihat yang masih terngiang darinya adalah belajarlah dengan serius, dalami ilmu-ilmu Al-Qur’an sampai tidak ada keraguan terhadapnya.
Acara ditutup dengan pembacaan do’a yang dipimpin oleh K.H Ahmad Fathoni., Lc, M.A. setelah selesai berdo`a, beliau sedikit berpesan, hendaknya Metode Maisura dan Syarh Syatibiyyah perlahan-lahan dikenalkan kepada masyarakat. Kedua buku ini merupakan trade mark dan kekhususan IIQ Jakarta dibanding Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta lainnya.