
Segala sesuatu yang berhubungan dengan Al-Qur’an akan menjadi mulia. Jibril ‘alaihissalam turun membawa Al-Qur’an, maka Ia menjadi pemimpin para malaikat. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam turun kepadanya Al-Qur’an, maka Ia menjadi yang terbaik diantara para Nabi dan Rasul. Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam turun kepada mereka Al-Qur`an, maka mereka menjadi umat yang terbaik. Malam lailatul qadar adalah malam Al-Qur’an diturunkan dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah, maka ia menjadi malam yang paling mulia. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an” (HR. Bukhari). Oleh karena itu, sesungguhnya Al-Qur’an apabila ada dalam hati manusia, maka ia akan menjadi sebaik-baik manusia.
Pada tahun 1977 M, KH. Ibrahim Hosen mendirikan sebuah institusi untuk mencetak sarjana wanita yang hafal Al-Qur’an, intelek, berwawasan luas, dan ahli di bidang ‘Ulum Al-Qur’an. Tahfizh, Tilawah/Nagham, Tafsir, Qira’at dan Ilmu Rasm Utsmani menjadi ilmu khusus yang didalami mahasiswanya. Hingga saat ini, alumni IIQ Jakarta telah berkiprah di masyarakat. Para mahasiswa dan alumninya mampu tampil di arena Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional maupun Internasional baik dalam kategori hifdz Al-Qur’an, tilawah, qiro’ah sab’ah dan tafsir. Wakil Pengasuh Pesantren IIQ memberikan tausiah di acara milad ke-64 yang telah dilaksanakan pada Jum’at, 7 April 2023 M yang bertepatan pada hari nuzul al-Qur’an, 17 Ramadhan 1444 H.

Gus Nadirsyah Hosen mengatakan tujuan IIQ Jakarta didirikan adalah sebagai bentuk amalan terhadap QS. Al-Hijr ayat 9: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya”. IIQ didirikan untuk turut menjaga kemurnian Al-Qur’an, bukan hanya redaksi ayat, tetapi juga mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Beliau juga memberikan penjelasan bahwa ada dua mekanisme Al-Qur’an diturunkan. Pertama, Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah ketika malam Lailatul Qadar. Kedua, Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur selama 23 tahun. Menurut jumhur ulama waktu pertama kali Al-Qur’an diturunkan adalah pada 17 Ramadhan. Dalilnya QS Al-Anfal ayat 41. Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa Al-Qur’an diturunkan di hari yang sama dengan tanggal peristiwa perang Badar (diistilahkan dengan hari Al-Furqan, yaitu bertemunya dua pasukan). Dan para sejarawan hampir sepakat bahwa tanggal perang Badar adalah 17 Ramadhan tahun ke-2 H. Penjelasan ini disebutkan oleh Ibnu Katsir, dan juga tertulis dalam kitab tafsir at-Thabari.
Esensi mengetahui waktu turunnya Al-Qur’an adalah supaya bisa belajar sejarah bagaimana Al-Qur’an itu diturunkan sehingga muncul keagungan dihati dan menambah keimanan seorang muslim.Gus Nadirsyah Hosen menutup tausiahnya dengan nasihat, untuk mahasiswa IIQ hendaknya terus belajar mendalami luasnya samudera ilmu Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak bisa hanya ditafsirkan dari satu keilmuan. Belajar dengan giat agar tidak hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga menjadi cendikiawan perempuan yang bisa mengambil inti dari pesan Al-Qur’an sehingga bisa dikontekstualisasikan pada kehidupan dan kondisi masa kini.