Menelisik Kesibukan Mahasiswi Kuliah-Rapat-Tahfizh di Kampus Penghafal Al-Qur’an

KABAR IIQ

Di dunia perkuliahan, kita sudah tidak asing dengan istilah kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang, dan kura-kura alias kuliah rapat-kuliah rapat. Umumnya, persepsi mahasiswa kura-kura erat dengan aktivis kampus yang penuh dengan rapat kegiatan, sibuk dengan program kerja lembaga organisasinya, dan social butterfly alias mudah berbaur sehingga memiliki banyak relasi.

Berbeda dengan kampus pada umumnya, Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta adalah instansi yang mewajibkan seluruh mahasiswinya untuk menghafal Al-Qur’an, bahkan menjadikannya sebagai syarat kelulusan. Program tahfizh yang ada mulai dari program 5 juz, 10 juz, 20 juz, dan 30 juz. Hal ini menjadikan para aktivis kampus IIQ bukan lagi disebut kura-kura, tetapi mari kita istilahi mereka dengan mahasiswi “kurata” yang memiliki 3 kegiatan inti yaitu kuliah-rapat-tahfizh. Stigmanya pun bertambah. Banyak yang beranggapan atau beralasan bahwa mengikuti organisasi dapat menghambat target hafalan di kampus.

Meski labeling semacam itu sudah sangat melekat untuk aktivis kampus di IIQ, namun nyatanya hal ini hanya mitos belaka. Kali ini LPM Reddar akan mengajak pembaca untuk berkenalan dengan dua mahasiswi kurata yang bisa menyelaraskan antara kuliah, tahfizh, dan organisasi, juga memaparkan bagaimana tips-tips mengatasi program tahfizh agar stagnan.

Kekhawatiran dan Keluhan Mahasiswi IIQ dalam Berorganisasi

Demotivasi menjadi salah satu kendala yang sering dialami oleh mahasiswa yang berkecimpung dalam suatu organisasi. Seperti halnya yang pernah dialami oleh Maujia Mawaddah, mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) 2021 sekaligus Kemenlu Dewan Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (Dema-FUD). “Aku pernah stuck di beberapa juz dan ga ada kemajuan waktu ngejalanin program ziyadah di semester 5. Soalnya instruktur tahfizh aku sangat teliti dan ketat sama syarat dan peraturan ujian tahfizhnya. Disitu aku demotivasi banget takut ketinggalan targetnya dengan teman-teman lain”, ungkapnya. Walaupun sebelum masuk IIQ ia memiliki hafalan, tetapi tetap ada tantangan tersendiri ketika menghafal sembari kuliah. Khatam mutqin 30 juz menjadi prioritas utama dan akan selalu menjadi impiannya. “Aku masuk IIQ justru untuk menambah hafalanku dan menjaga yang sudah pernah dihafal. Waktunya setoran usahakan setoran terus. Jangan absen. Siapkan dari malamnya. Sebenarnya tantangannya adalah muroja’ah. Kadang kalau sedang ziyadah di juz 20 misalnya, aku cuman fokus di juz itu aja. Cara mengatasinya lagi-lagi lawan rasa malas muroja’ah itu”, ujarnya.

Hebatnya, selain kuliah dan mengambil program tahfizh 30 juz, Maujia juga mengikuti 4 organisasi, diantaranya anggota Kemenlu di Dema FUD, organisasi daerah Fumas, PMII, dan IMAPA. “Aku ga ada kebeban sama sekali ikut banyak organisasi karena ada triknya. Kegiatan organisasi daerah dan organisasi luar pasti sering melakukan perkumpulan. Kalau yang ada impact-nya untuk aku sendiri, maka aku ikuti, kaya seminar atau pelatihan. Kalau yang kurang ada manfaatnya aku absen. Tapi untuk Dema-FUD aku aktif di semua kegiatannya, karena itu organisasi internal”, jelasnya.


Menurutnya, bertahan di suatu organisasi harus berdasarkan motivasi dan menyesuaikan kesanggupan diri sendiri. Maujia mengungkapkan, “kita harus melakukannya dengan enjoy. Jadi bukan karena nggak enakan atau gimana, kalau ga sanggup diposisikan sebagai orang yang memiliki tanggung jawab yang besar, jujur aja dari awal karena mental health is important. Kalau memang secara mental kita udah ngerasa ragu dan ga yakin, okay just let it go. Ambil posisi yang bisa kamu jalanin dengan suka hati dan ga menggeser prioritas utama kamu,” ujarnya.


Dalam mengatasi demotivasi yang kerap kali menghampiri, Maujia menyampaikan tips untuk menghadapi fase tersebut, yakni refleksi. Refleksi diri adalah bagian dari proses introspeksi diri yang dilakukan dengan cara melihat kembali dan merenungkan berbagai hal yang telah terjadi di dalam hidup, seperti pengalaman, kebiasaan, dan keputusan. Sehingga setelah refleksi biasanya akan merenungkan ulang apakah melanjutkan atau memutuskan keluar dari organisasi adalah hal yang tepat atau tidak.


Seperti keputusan yang diambil oleh Muthiah Nur Hanifah, mahasiswi IAT 2021, demisioner Dema IIQ 2023-2024 yang memutuskan hang out dan memilih tidak melanjutkan pengabdian dirinya di lembaga itu. “Pengalaman di Dema IIQ saya rasa sudah cukup. Saya di semester 6 mau mencoba hal baru lewat organisasi luar kampus yang lebih luas relasinya dan lebih santai kegiatan serta tupoksinya, sehingga saya bisa lebih banyak waktu untuk menghafal dan melancarkan hafalan”, ujarnya dengan optimis bisa bertahan di program 30 juz dengan mengambil jalan lain, yaitu tetap berorganisasi, asalkan di lembaga yang lebih rileks dan informal.


Sebenarnya, berkecimpung dalam suatu organisasi adalah hal yang sangat baik dan penting bagi mahasiswa. Melansir dari kompas.com, terdapat beberapa manfaat dari kegiatan organisasi di kampus, antara lain melatih kepemimpinan, mengasah kecerdasan emosional, menambah jejaring sosial, dan memperluas wawasan.
Masalahnya sekarang adalah bagaimana cara agar semuanya selaras dan berjalan mulus antara organisasi, tugas kuliah, dan hafalan Al-Qur’an. Berikut ini penulis mencoba memberikan sedikit tips kepada pembaca setia LPM Reddar.
Kunci Keseimbangan Kuliah-Rapat-Tahfizh

  1. Mengatur Waktu
    Penulis akan mencoba memberikan tips manajemen waktu, yakni dengan membagi menjadi 4 kuadran. Kuadran pertama, yakni urgent dan important, yaitu suatu kondisi dimana hal tersebut harus didahulukan, yang artinya harus segera dikerjakan. Kuadran kedua, hal penting namun tidak begitu mendesak, yang artinya perlu dijadwalkan. Kuadran ketiga, mendesak tetapi tidak penting, yang artinya delegasikan. Kuadran keempat, hal yang tidak mendesak dan tidak penting, yang artinya dapat ditunda.
    Berdasarkan pengalaman, yang selalu masuk kategori urgent and important sebenarnya adalah muroja’ah. Penghafal wajib memiliki target muroja’ah perhari dan meluangkan beberapa jam untuk hal tersebut. Jika ditanya alasan, jawaban yang paling logis adalah agar ketika takrir di semester genap tidak kewalahan, sehingga bisa bertahan di program tahfizh yang diidamkan. Sedangkan untuk tugas kuliah dan organisasi bisa disesuaikan dengan kondisi.
  2. Manfaatkan waktu setoran wajib dan setoran sunnah
    Lembaga Tahfizh dan Tilawah telah memfasilitasi waktu setoran dari Senin hingga Sabtu. Biasanya instruktur tahfizh menargetkan mahasiswi program 30 juz untuk sekali menghadap setoran per 5 halaman, dan itu terkadang menjadi beban tersendiri bagi yang pertama kali menghafal. Untuk yang mengambil program 30 juz jika tidak sanggup sekali setoran 5 halaman, bisa membaginya menjadi dua kali setoran, misalnya di hari setoran wajib 3 halaman, dan hari setoran sunnah 2 halaman.
  3. Pilih Organisasi yang Mendukung Kamu untuk Grow Up
    Mengerjakan hal yang kita sukai menjadikan diri kita lebih enjoy dan tidak mudah burnout. Pilih organisasi yang sesuai dengan skill dan hobimu supaya lebih terasa ringan diemban.
  4. Dekati teman yang konsisten muroja’ah
    Jika ada ungkapan “rindu itu berat, kamu ga akan kuat”, maka ungkapan penghafal Al-Qur’an adalah “muroja’ah sendirian itu berat, kamu ga akan kuat”. Setidaknya ada satu teman yang mengingatkan ketika kamu futur, atau ada satu panutan yang menularkan semangat dalam diri kamu dalam menjaga Kalam-Nya.

Penulis: Nadiatul Fadhilah
Proofreader: Ayfia Amireyl Fitrothy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *