Resensi Buku: “Selamat Tinggal”

RESENSI BUKU

    Data Buku
    Judul Buku : Selamat Tinggal
    Penulis : Tere Liye
    Penerbit : SABAKGRIP
    Tahun Terbit : 2020
    Tebal Buku : 360 Halaman


    Pendahuluan
    Pelanggaran hak cipta terhadap industri kreatif, adalah salah satu masalah besar yang sedang dihadapi oleh Indonesia. Pembajakan buku misalnya, saat ini sudah mencapai titik yang cukup mengkhawatirkan sebab buku bajakan dapat ditemukan dengan sangat mudah, baik di toko-toko maupun market place, baik berbentuk buku fisik maupun e-book, dengan harga yang jauh lebih murah ketimbang buku asli dari penerbit asalnya.


    Pembajakan buku adalah kegiatan mereproduksi dan mendistribusi buku tanpa izin dari penulis dan penerbit aslinya. Tindakan ini sangat merugikan penulis dan penerbit, bukan hanya dari segi finansial namun juga terhadap keberlanjutan industri penerbitan. Pembajakan buku berpotensi besar dapat menghancurkan semangat kreatif para penulis

    Tere Liye, sebagai salah satu penulis ternama di Indonesia turut menjadi sasaran empuk bagi para pembajak buku tak bertanggung jawab ini. Lelah melaporkan hal ini kepada aparat penegak hukum yang tak kunjung mengambil langkah serius, Tere Liye justru mengambil satu langkah kreatif untuk membuka mata pembaca selebar-lebarnya, dengan menulis sebuah karya berlatar belakang ‘kasus pembajakan buku di Indonesia’. Buku itu berjudul “Selamat Tinggal”.

    Sinopsis
    Novel “Selamat Tinggal” mengisahkan Sintong Tinggal, seorang mahasiswa Sastra yang tak kunjung lulus dari Universitasnya selama 6 tahun dan sedang terjebak dalam lingkaran dilema. Sintong bekerja di toko buku bajakan “Berkah” milik Paklik dan Buliknya. Karena sulitnya ekonomi, ia terpaksa harus bekerja di tempat tersebut. Sebetulnya Sintong merupakan mahasiswa yang cerdas dan aktif di kampus. Bahkan banyak tulisannya yang dimuat di koran nasional. Ia terombang-ambing antara idealismenya sebagai penulis dan kenyataan pahit bekerja di tempat yang melanggar hak cipta.


    Di tengah kegalauannya, Sintong bertemu Jess, seorang mahasiswi yang membawa angin segar dalam hidupnya. Kehadiran Jess membangkitkan semangat Sintong untuk menyelesaikan skripsinya dan keluar dari jerat toko buku bajakan. Namun, takdir berkata lain. Sintong dihadapkan pada pilihan sulit antara memegang teguh idealismenya hingga ditentang bahkan dicacimaki oleh keluarga dan melanjutkan pendidikan, atau tetap membantu keluarganya yang memiliki toko buku bajakan dan selama ini telah membantunya. Sebuah pilihan yang akan menentukan masa depannya.


    Kelebihan
    Novel ini mengangkat isu penting dan relevan, yaitu pembajakan buku yang marak di Indonesia.
    Sintong Tinggal, secara tidak langsung mengajarkan untuk tidak takut meninggalkan hal-hal buruk, walau konsekuensinya adalah mendapatkan hal-hal yang tidak disukai seperti dijauhi oleh keluarga.


    Alur cerita dikemas dengan menarik dan penuh kejutan, membuat pembaca penasaran untuk terus mengikuti kisah Sintong.
    Novel ini juga menyelipkan pesan moral tentang pentingnya menghargai karya cipta dan mengejar mimpi.


    Kekurangan
    Terdapat beberapa bagian cerita yang terasa lambat dan kurang menarik. Beberapa pesan moral terasa terlalu terus terang dan terkesan menggurui.

    Penulis: Hanifah Jawahir. Editor: Najwa Hafizho Ikram Tarigan.




    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *