Farah Sajidah: Mahasiswi Tafsir di Ruang Publik

KABAR IIQ

“IIQ selalu punya pesona otentik yang tak dimiliki kampus lain. Jadi, ambil peran di luar sana dan perkenalkan kampus kita sebaik-baiknya lewat potensi dan prestasi.”

Pesan tersebut datang dari Farah Sajidah, mahasiswi semester 6 Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta—seuntai pesan yang menggambarkansemangat representasi dan tampil percaya diri.

Di tengah padatnya kuliah dan hafalan Qur’an, Farah mengambil peran besar di luar kampus sebagai Duta Anti Narkoba Kota Tangerang Tahun 2023. Sosok Farah mencerminkan semangat perempuan Qur’ani yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga aktif menjawab tantangan sosial masa kini. 

Lebih dari sekadar kompetisi, perjalanannya menjadi Duta Anti Narkoba adalah fasepembelajaran nyata yang tidak diraih secara instan. “Prosesnya sekitar empat bulan,” ungkap Farah. Tahapan panjang tersebut dimulai dari seleksi administrasi, pembekalan, audisi, sosialisasi ke sekolah, kunjungan ke instansi, kemudian tahap karantina, unjuk bakat, hinggagrand final.

Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Farah adalah keterlibatannya dalam program screening kesehatan mental remaja yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Kota Tangerang. “Saya jadi lebih paham bahwa isu narkoba sangat terkait dengan kesehatan mental dan lingkungan sosial,” ujarnya.

Sejak dinobatkan, Farah aktif menyuarakan kampanye anti narkoba. Ia kerap menjadi pembicara di berbagai sekolah atau forum edukatif, hingga menjadi pemateri di ajang Puteri Indonesia Banten 2025. Dalam setiap kegiatannya, ia kerap mengaitkan pesan sosial dengan nilai-nilai Qur’an karena sebagai mahasiswi IAT, ia merasa memiliki bekal untuk menyampaikan pesan-pesan yang lebih bermakna. “Ilmu tafsir yang saya pelajari membantu memperkuat ruh keilmuan dari gerakan sosial ini,” katanya.

Tantangan utama, menurut Farah, justru datang dari luar. “Menjaga konsistensi itu sulit. Tapi di era digital, kita harus bisa memadukan narasi kuat, visual menarik, serta sebuah gerakan yang berkelanjutan,” ungkapnya. Ia berharap kampanye ini tidak berhenti di panggung, tapi senantiasa hidup dalam keseharian anak muda.

Menjalani tugas sebagai Duta Anti Narkoba tentu menantang, apalagi saat harus berbagi waktu dengan kuliah. Namun, dengan surat izin resmi, para dosen IIQ memberikan dukungan penuh. “Bahkan, mereka sangat mengapresiasi,” tambah Farah. Selain itu, dukungan jugadatang dari teman-teman kelas dan rekan organisasi sangat suportif. Bagi Farah, dukungan ini penting agar dirinya tak merasa sendirian saat mengemban amanah di luar ruang akademik.

Saat ini, Farah juga aktif membawa nama IIQ dalam ajang Putri Hijabfluencer Jakarta 2025. Ajang ini tidak hanya menampilkan sisi personalitas dan kecantikan, tetapi juga peran sosial dan pengaruh positif dalam diri para peserta. 

Bagi Farah, menjadi perempuan Qur’ani bukan berarti terbatas di masjid atau ruang tafsir. Justru nilai Qur’an harusnya menjadi fondasi di mana pun berada—di kelas, forum publik, maupun media sosial. “Ada banyak ruang untuk mengeksplorasi diri di luar kampus. Tapi di mana pun kita berada, nilai Qur’ani harus tetap hidup. Bukan untuk membatasi, tapi memperkuat langkah.” jelas Farah menyiratkan sebuah gagasan bahwa dengan Al-Qur’an sebagai dasar, langkah dapat menjadi lebih pasti dan dampaknya dapat lebih luas.

Menutup kisahnya, Farah berpesan, “Narkoba tidak datang tiba-tiba. Pintu-pintunya adalah pergaulan dan lingkungan. Maka, jadilah perempuan yang berdaya lewat karya dan prestasi. Jangan hanya unggul dalam urusan akhirat, tapi juga ambil peran dalam kehidupan sosial di dunia.”

Penulis: Sufa Alwafiah Jamyza

Proofreader: Adilah Hidayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *