
Sampah adalah masalah pelik yang kita rasakan sehari-hari. Dilansir dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah, pada tahun 2023, Indonesia menghasilkan hampir 17 juta ton timbulan sampah, dengan mayoritas merupakan sampah makanan (45,3%) dan sampah plastik (18,3%). Mengimplementasikan zero waste merupakan jalan keluar yang harus dicanangkan dalam menangani masalah ini. Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA) memberikan bukti akurat dan komprehensif bahwa strategi zero waste bisa mengurangi emisi gas rumah kaca hingga rata-rata 84%, sehingga program tersebut merupakan alternatif dalam memerangi perubahan iklim.
Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta memproduksi sampah hampir seribu ton per tahunnya. Ini berarti, IIQ menyumbang 0.005% emisi dari total jejak emisi karbon sampah di Indonesia. Menyadari hal tersebut, pihak Pesantren Takhassus Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta mengadakan program kerja sama dengan mahasiswa IIQ Jakarta yang tergabung dalam kelas Kader Sekolah Guru Ngaji dalam mengelola sampah yang ada di pesantren. Program tersebut akan dimulai pada bulan Februari dan diberi nama IIQ Go Green. IIQ Go Green terdiri dari 4 divisi, yaitu: 1) Divisi Pemilahan Sampah, 2) Divisi Pengelola, 3) Divisi Distribusi, 4) Divisi Bank Sampah IIQ (BSQ).
Program ini dicetuskan oleh Sekretaris Dewan Pengasuh Pesantren IIQ Jakarta, Bapak Abdul Rosyid Masykur. Harapan beliau, seluruh mahasantri mendukung dan berkontribusi dengan baik dalam program ini. Ketua pelaksana, Milla Shofiyah Romadhoni. “Program ini mempunyai tujuan menanamkan karakter dan rasa peduli terhadap lingkungan sekitar dalam diri mahasantri IIQ Jakarta, dan menjadikan lingkungan pesantren sebagai tempat yang asri dan nyaman bagi para penghafal Al-Qur’an,” ujarnya dalam rapat kerja.
Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia sangat dekat dengan kegiatan konsumsi. Secara tidak langsung, aktivitas ini mengakibatkan produksi sampah domestik akan membludak seiring berjalannya waktu. Menurut data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah, 38,3% komposisi sampah bersumber dari sampah rumah tangga dan 45,3% sampah berjenis sisa makanan. Sederet fakta dan kekhawatiran terhadap lingkungan inilah yang menjadi latar belakang tercetusnya IIQ Go Green. Kader Guru Ngaji mengajak mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta untuk mengambil peran penting dalam pengelolaan sampah yang ada di persantren sehingga nantinya akan tercipta lingkungan yang bersih, asri, dan nyaman.
Program ini diawali dengan kegiatan pemilahan sampah dengan menyiapkan dua tempat sampah, berupa tempat sampah organik dan anorganik di lingkungan pesantren, kemudian Divisi Pemilahan Sampah membagikan dua kantong plastik jumbo kepada setiap penghuni kamar, setelah kantong plastik itu penuh, penghuni setiap kamar wajib mengumpulkannya ke tempat yang telah disediakan pada setiap gedung. Setelah terkumpul, Office Boy (OB) akan mengantarkannya ke Bank Sampah. Sampah yang bisa diolah akan disalurkan ke Divisi Pengelola untuk dibuat hand made (kerajinan tangan) oleh para mahasantri, dan sampah yang tidak bisa dikelola akan disalurkan ke Divisi Distribusi untuk ditimbang keluar dan dijual langsung tanpa diolah.
Setelah program tersebut berjalan dengan baik, tentunya banyak dampak positif yang akan terjadi, antara lain: Mengubah gaya hidup mahasiswa menjadi lebih ramah lingkungan, sampah di lingkungan kampus dan pesantren terminimalisir dan mempunyai daya jual, menjadikan mahasiswa lebih kreatif, menyadarkan mahasiswa untuk hidup bersih dan mengolah sampah dengan bijak. Memang ini terlihat sepele, tetapi kalau hal kecil saja tidak bisa kita mulai lalu bagaimana dengan hal-hal besar? Dengan kebiasaan kecil ini, akan terbentuk dalam jiwa mahasiswa untuk menjaga lingkungan, sehingga saat mahasiswa selesai dengan studinya di IIQ Jakarta, tidak hanya Al-Qur’an yang melekat pada jiwanya, tetapi mereka juga mampu mengimplementasikan ilmu, salah satunya dalam bentuk cinta dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Mendeklarasikan Program Go Green di IIQ masih terhitung langkah awal. Apabila program ini sudah lebih terstruktur, LPM Reddar mengusulkan agar program ini juga fokus dalam hal mencegah produksi sampah. Semua makanan dan minuman di Kantin Pesantren Takhasus IIQ, baik dimakan di tempat ataupun dibungkus pasti menggunakan plastik, cup, dan kertas minyak. Jika setiap orang minimal makan sehari sekali, itu berarti 1 orang minimal memproduksi 1 sampah. Dikali jumlah seluruh keluarga besar Pesantren Takhasus IIQ Jakarta, belum lagi setiap orang makan 2-3 kali dalam sehari. Terbayangkan betapa banyaknya produksi sampah yang dihasilkan. Nah, dari sinilah pencegahan bisa dilakukan. Pihak pelaksana seharusnya juga mewajibkan seluruh keluarga besar Pesantren Takhasus IIQ Jakarta untuk memakai dan membawa tempat makan dan minum sendiri ketika hendak membeli makanan dan minuman di Kantin Pesantren Takhasus IIQ Jakarta. Dengan adanya kebijakan ini, Program IIQ Go Green tidak hanya sekedar mengolah sampah, tetapi juga berperan penting dalam mencegah dan mengurangi produksi sampah.
Diharapkan program ini dapat dilaksanakan secara serius, sehingga menjadi program yang utuh. Setidaknya ada lima arah kebijakan yang bisa dilakukan, diantaranya: 1) Menerapkan pola hidup yang minim timbulan sampah sejak awal. 2) Mengurangi penggunaan produk sekali pakai. 3) Mendukung penggunaan kemasan yang dapat digunakan kembali. 4) Menghabiskan makanan agar tidak menjadi food waste. 5) Memberdayakan pangan lokal dan menggunakan bahan makanan di sekitar kita.
Penulis : Baiq Luluk Handayani.
Proofreader : Ayfia Amireyl dan Nadiatul Fadhilah.