Menjadi mahasiswa semester akhir di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta bukan hanya soal menyelesaikan skripsi. Ada banyak tantangan yang tak jarang membuat mahasiswa merasa cemas, terutama ketika dihadapkan dengan berbagai persyaratan kelulusan yang cukup kompleks. Salah satunya adalah ujian komprehensif.
Banyak yang merasa “terjebak” di tahap ini. Ada yang telah menyelesaikan skripsi, namun belum bisa maju sidang karena belum lulus tahfizh. Ada pula yang masih tertahan di ujian komprehensif, sementara teman-teman lain sudah mulai mempersiapkan wisuda. Di tengah tekanan akademik yang menumpuk, tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya merasa kehilangan semangat.
Namun, di balik semua keresahan itu, selalu ada ruang untuk optimisme. Salah satunya datang dari pengalaman Nadiatul Fadhilah, mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) semester 8 yang baru saja menyelesaikan ujian kompre pada Februari lalu.
Dalam wawancara bersama tim redaksi, Nadiatul membagikan pengalamannya saat mengikuti ujian komprehensif yang dilaksanakan pada bulan Februari lalu. Ia mengungkapkan perasaannya selama proses ujian tersebut yang penuh semangat.
Ternyata, rahasia di balik semangat Nadiatul saat menghadapi ujian terletak pada strategi belajar yang telah ia persiapkan jauh sebelumnya. Sebelum masa ujian dimulai, ia merencanakan jadwal belajar bersama teman-teman yang disiplin dan rajin. Menurutnya, belajar bersama memudahkan pemahaman karena terciptanya ruang untuk berdiskusi. “Kalau belajar sendiri, materinya sering tidak berkembang karena tidak ada teman diskusi,” ujarnya.
Salah satu tantangan yang cukup signifikan bagi Nadiatul adalah saat menghadapi ujian tafsir, terutama ketika diminta melakukan i’rab ayat. “Saya pribadi merasa cukup kesulitan karena sudah agak lupa dengan ilmu nahwu dan shorof,” ungkapnya. Namun, hal tersebut dapat diatasi berkat diskusi yang intens bersama teman-teman.
Ia juga menjelaskan alur pelaksanaan ujian komprehensif di Prodi IAT. Mahasiswa terlebih dahulu harus memenuhi persyaratan, seperti kelulusan seluruh mata kuliah dan tidak memiliki nilai TL (tidak lulus). Setelah mendaftar, mahasiswa akan dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masingnya berjumlah sekitar 30 orang, dengan dosen penguji yang berbeda-beda. Jadwal pelaksanaan disesuaikan dengan ketersediaan penguji, dan rata-rata berlangsung selama dua minggu.
Adapun materi ujian komprehensif di Prodi IAT meliputi Ulumul Qur’an, Tafsir, Qira’at, serta Tahfiz dan Tahsin. Nadiatul menyampaikan bahwa pendekatan ujian dapat berbeda tergantung dosen pengujinya, sehingga suasana saat tiap-tiap ujian berlangsung tidak menentu.
Lebih dari sekadar ujian, menurut Nadiatul, komprehensif menjadi momen penting untuk mengulas dan menyegarkan kembali ingatan berbagai materi yang telah diperoleh selama masa studi. “Jika ada materi yang dulu belum sepenuhnya dipahami, inilah saat yang tepat untuk membacanya kembali dan mendiskusikannya dengan teman atau dosen,” tambahnya.
Ia menegaskan pentingnya mengulang, mendiskusikan, dan mengajarkan ilmu agar dapat melekat dan bermanfaat. Di akhir sesi wawancara, Nadiatul menyampaikan pesan hangat kepada seluruh mahasiswa IIQ yang akan mengikuti ujian komprehensif, “Jangan merasa terbebani dengan banyaknya ujian. Nikmati prosesnya dan jalani dengan bahagia.”
Penulis : Adilah Hidayati
Proofreader : Aisya Humaira