
(26/7/2025) Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, organisasi, dan perjuangan menghafal Al-Qur’an, Dinda Safira Febrianti tetap setia menjalani satu peran yang tak kalah mulia mendidik generasi muslim sejak usia dini. Bagi mahasiswi semester 7 Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta ini, mengajar bukan sekadar rutinitas, melainkan panggilan jiwa.
Perempuan yang akrab disapa Disa ini telah mengabdikan dirinya sebagai guru di RA (Raudhatul Athfal) Labschool IIQ Jakarta selama tiga tahun terakhir. Ketulusan dan komitmennya menjadi bukti bahwa mendidik anak-anak bukanlah pekerjaan sampingan, melainkan bentuk nyata dari dedikasi dan cinta terhadap dunia pendidikan Islam sejak dini.
Berawal dari kecintaannya pada dunia anak-anak, Disa memutuskan untuk mendaftar sebagai guru di RA Labschool IIQ Jakarta sejak masih duduk di semester 2. Di tengah kesibukan kuliah, ia juga aktif sebagai pengurus DEMA IIQ Jakarta dan terlibat langsung dalam pelaksanaan Festival Qur’an Nasional, sebuah agenda besar kampus yang menyita banyak waktu dan tenaga. “Saya percaya kesempatan tidak datang dua kali. Ini adalah jalan yang Allah berikan, dan saya memilih untuk mengambilnya,” ungkapnya mantap.
Namun seiring waktu, Disa harus membuat pilihan besar. Ia memutuskan untuk berhenti berorganisasi agar bisa lebih fokus pada kuliah dan perannya sebagai pendidik. Keputusan itu diambil bukan tanpa pertimbangan, tetapi dengan keyakinan penuh. “Allah membawa saya sejauh ini bukan untuk gagal. Setiap hari di RA adalah pembelajaran berharga,” ujarnya penuh haru.
RA Labschool IIQ Jakarta memiliki ragam pembelajaran serta suasana kelas yang interaktif. Program unggulannya adalah Tahfidzul Juz ‘Amma. Program ini dilaksanakan secara klasikal setiap pagi dan dihafalkan secara intensif sesuai kemampuan anak. Selain itu, anak-anak juga diajarkan menghafal doa harian dan hadis-hadis pendek yang relevan dengan kehidupan mereka.
Disa juga menyatakan bahwa ia selalu berusaha menghadirkan inovasi dalam mengajar. Disa paham bahwa dunia anak-anak adalah dunia yang menyenangkan. Guru harus ikut hadir dalam dunia kecil mereka, agar belajar terasa menyenangkan. “Saya menciptakan suasana kelas yang interaktif dan penuh kreativitas agar anak-anak bisa belajar dengan bahagia” ujarnya.
Namun, sebagai mahasiswa tantangan terbesarnya adalah membagi waktu antara kuliah, tahfidz, dan mengajar. Ia benar-benar harus bijak mengatur waktu tanpa mengorbankan salah satunya. “Semuanya harus tetap menjadi prioritas dan tanggung jawab saya, karena ini adalah konsekuensi dari pilihan yang saya ambil” tututnya.
Dalam wawancara, Disa turut membagikan alasan di balik semangat besar yang terus ia pelihara. Bertahan di tengah berbagai tantangan bukanlah perkara mudah, namun baginya justru itulah letak tantangannya. “Melihat wajah polos anak-anak yang ceria, semua rasa lelah seketika hilang,” tuturnya. Dukungan dari rekan sesama guru dan lingkungan kerja yang suportif pun menjadi energi tambahan yang membuatnya terus melangkah.
Disa meyakini bahwa RA memiliki peran krusial dalam membentuk karakter anak, terlebih di tengah gempuran teknologi saat ini. Di RA, anak-anak tak hanya diajarkan aspek akademik, tetapi juga dibekali dengan nilai-nilai keislaman, akhlak, pendidikan Al-Qur’an, serta keterampilan sosial. Menurutnya, semua ini adalah pondasi awal yang sangat penting agar anak-anak kelak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, beradab, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama dalam menghadapi dunia digital yang penuh tantangan.
Disa memiliki harapan untuk generasi muda muslim agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang mencintai Al-Qur’an, memiliki akhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
Tak lupa ia bertitip pesan untuk para calon guru RA kedepannya. Bahwa menjadi guru bukan hanya pekerjaan, tetapi panggilan jiwa. Bersiaplah untuk terus belajar, beradaptasi, dan menumbuhkan cinta dalam mendidik generasi kecil yang nantinya akan menjadi harapan dan penerus bangsa.
Dalam detik terakhir wawancara, kami juga menanyakan kata yang cocok untuk menggambarkan perjalanannya selama mengajar di RA Labschool IIQ Jakarta. “Jika harus memilih satu kata, saya akan memilih kata bermakna. Karena setiap hari saya mendapatkan pelajaran baru, bukan hanya dari guru lain, tapi juga dari anak-anak. Momen kebersamaan, tantangan, dan keberhasilan kecil di kelas semuanya memberi arti yang dalam dan membuat perjalanan saya sebagai guru terasa sangat istimewa” jawabnya secara lengkap menyentuh hati.
Kisah Dinda Safira Febrianti sebagai pengajar RA yang tetap teguh mendidik di tengah kesibukan kuliah, organisasi, dan hafalan Al-Qur’an, menjadi bukti nyata bahwa mengajar bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa. Ketulusan hati, komitmen, dan kemampuannya mengatur waktu dengan baik menjadikannya sosok yang mampu memberi kontribusi besar dalam pendidikan anak usia dini. Semoga kisah Disa dapat menginspirasi banyak calon pendidik untuk terus berdedikasi, mendidik dengan hati, dan menanamkan nilai-nilai kebaikan sejak dini.
Penulis: Anisa Aulia Putri
Proofreader: Ayfia Amireyl Fitrothy