Di Tengah Gas Air Mata dan Kerusuhan, Pak Mardi Tetap Jualan Es Kolang Kaling

INTERPRETATIVE

Jakarta, 29 Agustus 2025 – Ketika langit Jakarta diselimuti asap gas air mata dan teriakan massa menggema menolak tunjangan DPR yang dinilai tak masuk akal, terdapat satu pemandangan yang mencuri perhatian di tengah kekacauan: seorang penjual es kolang kaling yang terus mendorong gerobaknya, menyusuri jalanan ibu kota.

Namanya Pak Mardi, pria paruh baya yang sudah 25-30 tahun berkeliling menjajakan es kolang kaling—jajanan manis yang menyegarkan di tengah panasnya kota. Dengan wajah bersahaja dan tubuh renta yang masih sigap, ia tetap mendorong gerobaknya menyusuri trotoar yang dipenuhi massa dan aparat keamanan. Makanan ini dijual mulai dari Rp3.000 hingga Rp5.000 per porsi, Pak Mardi tak gentar meski situasi sedang genting.

“Dagang harus siap. Siap-siap lari!” katanya sambil tertawa ringan, meski di sekelilingnya situasi jauh dari kata tenang.

Pak Mardi sadar, apa yang dilakukannya bukan tanpa resiko. Di tengah kericuhan, Pak Mardi tidak hanya berjualan, tetapi juga beradaptasi. Ia tahu kapan harus menepi, kapan harus lari kecil menyelamatkan diri, dan kapan saatnya menawarkan dagangan dengan ramah.  Ketika ditanya oleh Donny Ramadan, seorang selebgram yang kebetulan berada di lokasi aksi, apakah ia tidak takut berjualan di tengah demo, jawabannya tulus dan sederhana:
“Ya ada was-was, tapi demi sesuap nasi untuk anak istri,” ujar Pak Mardi, matanya tetap waspada, tapi senyumnya tak luntur.

Saat demo berlangsung, beberapa peserta mengambil jeda—menyeruput es kolang-kaling sambil beristirahat dari teriakan dan asap gas air mata.  Yang membuat bangga tradisi kuliner sederhana ini jadi sesuatu yang bisa menghidupkan koneksi antar-generasi, dari peserta muda hingga warga tua dalam momen serius sekalipun. Yang bukan sekadar jualan, tapi jadi bagian kecil dari kekuatan rakyat.

Tersentuh oleh kegigihan sang penjual, Donny memutuskan membeli seluruh dagangan Pak Mardi yang tersisa, senilai kurang lebih Rp.400.000 ribu. Sebuah gestur kecil, tapi berarti besar—agar Pak Mardi bisa cepat pulang ke rumah dengan selamat.

Pak Mardi mengakui, strategi berdagangnya memang sedikit berbeda dari kebanyakan. “Kalau kemarin ramai, sekarang malah sepi. Karena orang-orang pada takut, tapi saya malah masuk,” ujarnya lugas. ini adalah strategi bertahan hidup. Saat para pedagang lain memilih menghindar, Pak Mardi justru memanfaatkan situasi sepi sebagai peluang. Keberaniannya bukan karena nekat, tapi karena tak ada pilihan lain. Ia harus membawa pulang rezeki hari itu. Kisah Pak Mardi ini memberi pelajaran penting: bahwa di balik setiap piring makanan yang kita nikmati, ada perjuangan yang mungkin tak kita lihat. Sederhana, tapi penuh ketulusan.

Penulis: Nashwa

Proofreader: Anisa Aulia Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *