“Dari Keraguan ke Puncak Prestasi:Perjalanan Syifa Salsabila Raih Juara KTIQ”

Kabar IIQ

Dari keraguan hingga meraih juara 2 KTIQ tingkat provinsi, Syifa Salsabila, mahasiswa IIQ Jakarta, telah membuktikan bahwa keberanian mencoba adalah kunci utama meraih prestasi.

Syifa mencintai dunia kepenulisan bermula dari sebuah keraguan. Sejak SMP, ia sudah akrab dengan pena, menuangkan ide dalam puisi dan cerpen, tetapi hanya untuk konsumsi pribadi. Sering dihantui rasa insecure. Hal ini membuat Syifa merasa belum cukup mumpuni untuk menunjukkan karyanya ke publik. Menulis saat itu hanyalah cara untuk menyenangkan diri.

Semangat Syifa mulai berkembang pada semester 2, ketika dosen mendorongnya untuk membuat jurnal. Ia terus mengembangkan kemampuan menulisnya dengan belajar mandiri dari internet, memperbanyak membaca buku, dan turut mengikuti komunitas essay.

Awal tejun ke dunia KTIQ, ia hanya ingin menguji kemampuan diri dengan mencoba mengikuti kompetisi KTIQ yang diselenggarakan oleh IIQ Fest pada tanggal 31 Mei 2025. Kemenangan sebagai juara 1 KTIQ di IIQ Fest menjadi validasi yang sangat berarti, memicu semangatnya untuk terus berkompetisi. Jejak prestasinya terus berlanjut, di mana ia berhasil meraih juara 2 Karya Tulis Ilmiah Hadis (KTIH) dalam Festival Hadis IDAQU pada tanggal 13 Juni 2025. Dengan semangat pantang menyerah, akhirnya pada 29 Oktober 2025 ia berhasil menembus posisi kedua KTIQ provinsi Jakarta, salah satu cabang MTQ ke-31 tingkat provinsi DKI Jakarta.

Kemenangan yang Syifa raih tentu tidak semudah mengedipkan mata. Salah satu perjalanan berkompetisi yang paling menantang bagi ia adalah KTIQ tingkat provinsi tersebut. Persiapan mental menjadi tantangan terbesar baginya. Syifa sempat dilanda overthinking, kecemasan yang begitu besar, bahkan membuatnya jatuh sakit. Pada masa-masa itu, ia sempat ingin menyerah dan membatalkan keikutsertaannya. Namun, Syifa berusaha membangkitkan semangat dengan berpikir positif, menjaga kesehatan, serta memberi semangat pada dirinya sendiri agar tidak mengecewakan harapan orang-orang di sekitarnya. “Kalau bukan diri kita sendiri siapa lagi? Kita harus bisa nyemangatin diri sendiri, I love my self,” ucap Syifa.

Kompetisi tingkat provinsi itu sekaligus menjadi pengalaman yang paling berkesan. Ia merasa tidak sendirian, karena bimbingan dan dukungan mentor yang terus menerus menemaninya selama proses lomba.

Syifa belajar bahwa rasa takut sering menghambat potensi. Rasa takut seringkali menjadi penghambat utama, namun ketika ia mencoba, ternyata ia mampu menunjukkan potensinya. Kunci keberhasilan di dunia KTIQ menurutnya adalah penguasaan dasar kemampuan menulis, banyak literasi, doa, dan dukungan orang tua. “Kita perlu berani mencoba dan yakin pasti bisa,” pesan Syifa.

Pengalaman di LPM IIQ Jakarta membentuk kepercayaan diri Syifa. Ia menjadi lebih terbuka, berani mengeluarkan ide, dan merasa optimis saat mengikuti lomba. “Di LPM, aku bertemu banyak orang dan terlibat dalam berbagai projek. Pengalaman ini membantuku, sebagai pribadi yang introvert, menjadi lebih terbuka.” katanya.

Perjalanan Syifa tidak berhenti ketika menang, ini justru awal baru untuk meraih impian besar lainnya. Syifa berencana membuat banyak jurnal, melanjutkan studi di bidang Islamic Studies di luar negeri, dan berkontribusi melalui tulisannya. “Aku ingin fokus di dunia riset, aku ingin memberikan manfaat lebih banyak lewat jurnal-jurnal yang aku tulis.” katanya.

Syifa berpesan agar teman-teman yang tertarik menekuni KTIQ untuk segera memulai, tanpa takut hasil tulisan yang jelek. Menurutnya, lomba bukan sekadar menang atau kalah, tetapi sebuah wadah untuk berevaluasi dan terus belajar. Jangan biarkan rasa takut terus menghambat potensi diri untuk berkembang.

“Jangan takut mulai menulis dari hal-hal kecil. Jadikan lomba sebagai ajang belajar. Karena dari proses itulah kita bisa tumbuh dan berkembang.” pesan Syifa.

Penulis: Aisya Humaira

Proofreader: Anisa Aulia Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *