Pemira IIQ Jakarta: Lebih dari Sekadar Ganti Pemimpin

Kabar IIQ

(15/10/2025) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta kembali menghadirkan Pemilihan Umum Raya (Pemira). Tradisi tahunan ini turut menyemarakkan suasana kampus meskipun rutinitas akademik dan organisasi kemahasiswaan masih terus berjalan. Bagi para mahasiswa, Pemira bukan hanya sekadar ajang pergantian kepemimpinan, melainkan sebuah ruang belajar demokrasi, ruang kolaborasi dan bertukar gagasan, berkompetisi secara sehat, dan menghargai perbedaan pilihan.

Farha Liamiza Fastawa, Pimpinan Senat Mahasiswa IIQ Jakarta menyampaikan, “Pemira itu ajang demokrasi kampus untuk memilih ketua SEMA, DEMA IIQ, DEMA fakultas, dan parlemen SEMA,” ujarnya. “Penting banget karena lewat Pemira, mahasiswa bisa belajar gimana caranya berdemokrasi, berpendapat, dan milih pemimpin secara adil dan terbuka,” sambungnya.

Liza menekankan bahwa nilai utama dalam setiap penyelenggaraan Pemira adalah kejujuran dan keterbukaan. “Yang paling penting tuh jujur, netral, dan transparan,” tegasnya. “Sebisa mungkin panitia nggak berat sebelah biar Pemira tetap dipercaya.” Bagi panitia, menjaga kepercayaan mahasiswa adalah hal mendasar. Pemira bukan semata-mata urusan teknis pemilihan, tetapi juga bentuk nyata pendidikan politik yang menanamkan nilai tanggung jawab dan etika demokrasi.

Lebih jauh, Liza melihat Pemira sebagai ruang bersama untuk belajar memahami perbedaan tanpa harus berpecah. “Pemira harus jadi tempat belajar bareng, gimana cara beda pendapat tapi tetap saling menghargai. Budaya demokrasi itu beneran hidup di kampus. Jadi Pemira berjalan bukan cuma formalitas pergantian ketua lembaga aja,” ujarnya. Bagi Liza, esensi dari tradisi Pemira bukan pada kompetisinya, melainkan pada proses kebersamaan yang terjalin di antara mahasiswa.

Ia menjelaskan bahwa keberlanjutan tradisi Pemira terjaga lewat sistem estafet nilai yang dijalankan setiap tahun. “Biasanya lewat sharing atau mentoring dari panitia sebelumnya,” katanya. “Dari awal-awal kepengurusan SEMA, Pemira sudah dipersiapkan semaksimal mungkin, jadi bisa meminimalisir kekurangan di pelaksanaan.” Tradisi ini memastikan bahwa pengalaman, nilai, dan semangat demokrasi tidak berhenti di satu generasi saja.

Namun, di tengah upaya mempertahankan semangat itu, panitia tahun ini juga ingin menghadirkan sesuatu yang baru. “Alhamdulillah di Pemira kali ini berbeda dengan sebelumnya, ada hal yang akan diubah di tahun ini yang insyaallah, nggak bikin Pemira ngebosenin. Jadi, stay tune!” ungkap Liza dengan antusias.

Meski begitu, Liza tak menutup mata terhadap kenyataan bahwa semangat kolektif mahasiswa mulai sedikit bergeser. “Kayanya iya, agak bergeser sih. Dulu orang-orang semangat banget karena ngerasa Pemira itu momen penting buat nentuin arah organisasi. Sekarang sebagian ngeliatnya cuma acara wajib tahunan aja. Bahkan beberapa masih apatis terkait keorganisasian di kampus.” Ia mengakui bahwa fenomena ini menjadi pekerjaan rumah bagi panitia untuk menyalakan kembali gairah demokrasi yang dulu begitu hidup di lingkungan kampus Qur’ani ini. “Jadi PR buat panitia biar suasana demokrasinya bisa kerasa lagi,” tambahnya.

Pernyataan Liza seolah menjadi cermin dari pergulatan tradisi dan modernitas di tubuh mahasiswa IIQ Jakarta. Di satu sisi, Pemira telah menjadi simbol kedewasaan organisasi dan latihan kepemimpinan. Di sisi lain, Liza menekankan pentingnya inovasi segar agar Pemira tidak kehilangan makna di tengah generasi yang makin pragmatis terhadap kegiatan kampus.

Meski demikian, harapan tetap ada. Di balik proses yang terus berkembang, Pemira tetap menjadi ajang pembelajaran kolektif tentang tanggung jawab, keadilan, dan keikhlasan dalam memimpin. Tradisi ini bukan hanya melahirkan pemimpin baru, tapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa demokrasi kampus harus dijalankan dengan adab dan integritas.

Selama semangat demokrasi terus dijaga, Pemira IIQ Jakarta bukan hanya sekadar rutinitas. Ia adalah suluh yang menjaga api demokrasi tetap menyala di kampus Qur’ani.

Penulis: Ayfia Amireyl Fitrothy

Proofeader: Anisa Aulia Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *