
Di lingkungan yang akrab dengan tinta, pena, dan lembaran karya, Neyla Qomaria En-Najma tumbuh bersama kaligrafi bahkan sebelum ia memahami maknanya. Mahasiswi Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta asal Sukabumi ini memang sedari kecil akrab dengan dunia tersebut. Ia dibesarkan di lingkungan pesantren Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (LEMKA). Tempat kaligrafi bukan sekadar pelajaran, tapi bagian dari kehidupan. Sejak lahir, Najma sudah melihat ayat-ayat Al-Qur’an ditulis dengan penuh ketelitian. Awalnya hanya melihat, lalu mencoba meniru. Rasa cinta itu tumbuh pela-pelan. Meski demikian, pendidikan kaligrafi, secara intensif layaknya santri baru ia jalani pada tahun 2020.
Perjalanan seriusnya dimulai sejak sekolah dasar. Ia belajar langsung dari ayahnya, mengenal huruf hijaiyah mulai alif sampai ya, sebagai pondasi utama. Momen mengikuti lomba Pentas Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi titik penting yang membuatnya semakin yakin menekuni bidang ini. Dari situ, ia mulai mengembangkan kemampuan di cabang kaligrafi lukis kontemporer, rutin menyetorkan karya pada guru dan belajar teknik baru.
Baginya, inspirasi datang dari banyak arah. Dari para kaligrafer yang menembus ajang internasional, juga dari sosok ayah yang menunjukan bahwa kaligrafi bukan hanya seni, tapi bisa menjadi jalan prestasi. Dukungan guru-guru pun ikut menguatkan langkahnya.
Uniknya, Tantangan terbesar najma bukan soal teknik, melainkan menjaga fokus dan prestasinya pada kompetisi pernah menurun sebab kurang tenang. Dari situ, Najma belajar memperbaiki niat dan tidak terlalu menekan diri. Kini Ia menjaga konsistensi dengan cara sederhana. Seperti tetap menulis setiap hari, mempelajari kaidah, dan mengamati karya para maestro. Aktivitasnya sebagai pengajar kaligrafi di asrama juga membantunya terus berlatih. Akhir pekan biasa ia gunakan untuk menyelesaikan karya yang membutuhkan waktu lebih panjang.
Usahanya tidak sia-sia. Najma aktif mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), dari tingkat daerah hingga nasional. Salah satu momen paling berkesan adalah saat meraih Juara I Kaligrafi Lukis Kontemporer pada MTQ Kota Tangerang Selatan tahun 2021. Awalnya ia hanya ingin melatih mental, tanpa ekspetasi berlebihan. Tapi justru dari sana rasa percaya dirinya tumbuh. Ia juga pernah meraih Juara II tingkat provinsi dan mewakili DKI Jakarta pada MTQ Nasional Kalimantan Timur tahun 2024. Pengalaman-pengalaman itu membentuk kedisiplinan dan mentalnya sebagai kaligrafer.

Bagi Najma, kaligrafi bukan sekadar seni, tapi “tempat pulang”. Disanalah, ia menemukan ketenangan sekaligus ruang untuk berkembang. Bahkan, dari seni ini ia bisa belajar mandiri secara finansial. Lebih dari itu, kaligrafi mengajarkannya sabar dan ikhlas karena setiap goresan butuh ketelitian dan hati yang hadir.
Jenis khat favoritnya adalah Diwani Jali. Menurutnya, kelenturan huruf pada khat ini memberi ruang ekspresi yang luas. Dalam berkarya, ia selalu memulai dengan memahami makna ayat, menyusun konsep, lalu menuangkannya ke atas kanvas. Satu karya bisa ia selesaikan dalam waktu 7-8 jam. Inspirasi banyak ia ambil dari maestro kaligrafi Turki, Iran, dan Irak yang menurutnya memiliki tradisi kuat dalam bidang ini. Namun, Karya yang paling berkesan justru karya awalnya di LEMKA, karena dari sanalah semuanya bermula.
Kini, Perjalanannya berlanjut di IIQ Jakarta. Lingkungan Qur’ani dan dukungan dosen membuatnya semakin yakin untuk terus berkembang. Ia menyadari bahwa kemampuan kaligrafi adalah amanah yang harus dijaga dan disyukuri. Menulis ayat Al-Qur’an baginya bukan sekadar aktivitas artistik, melainkan bentuk ibadah dan penghormatan terhadap firman Allah.
Penulis : Nurul Fahdilah
Proofreader : Rijwa Nida Hubaiba