
(1/4/26) – Hari pertama masuk kerja, Pemerintah Kabupaten Lebak menggelar halalbihalal Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Senin (30/3/26). Momen yang seharusnya menjadi ajang saling memaafkan justru berubah menjadi arena konfrontasi panas antara Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya, dan Wakil Bupati Amir Hamzah.
Keributan terjadi di Pendopo Kabupaten Lebak di hadapan ratusan ASN dan tokoh masyarakat. Insiden dimulai dengan sambutan Hasbi yang mengkritik kewenangan wakilnya yang dinilai melampaui batas formal sesuai Undang-Undang ASN Pasal 66. Ia menuding Amir Hamzah sering melakukan koordinasi mandiri dengan para kepala dinas tanpa melalui garis komando resmi (bukamata.id).
Puncak ketegangan pecah saat Hasbi mengungkit kembali kasus hukum Amir Hamzah pada tahun 2013. “Masih untung mantan napi bisa jadi wakil bupati,” ujar Hasbi yang memicu reaksi riuh dari para undangan (akurat.co).
Mendengar pernyataan tersebut, Amir yang duduk di barisan depan langsung berdiri dan berusaha mendekati mimbar (fin news). Langkahnya segera dicegah oleh sekretaris daerah, asisten pribadi, hingga istri bupati. Amir pun digandeng keluar dari lokasi dan memilih walkout (akurat.co).
Usai acara, Hasbi membantah tuduhan penyerangan pribadi. Ia mengklaim pernyataannya merupakan bentuk apresiasi atas kemampuan Amir bangkit dari masa lalu.
“Itu memang intonasi saya seperti itu. Pak Amir Hamzah juga pernah mendapat penghargaan,” kilahnya sebagaimana dikutip dari Kompas pada Senin (30/3/26).
Namun, Amir menyampaikan kekecewaan mendalam. Ia menilai ucapan tersebut merupakan penghinaan yang tidak pantas disampaikan dalam forum kenegaraan.
“Jadi pejabat itu harus ada etika dan tata krama ketika berpidato. Berbicara harus melihat situasi dan konteks,” tegas Amir dilansir dari Gmanews.id pada Senin (30/3/26).
Ia juga membeberkan bahwa perselisihan ini merupakan akumulasi dari komunikasi yang macet di internal Pemkab Lebak. Amir mengaku pesannya tak pernah dibalas oleh sang bupati (akurat.co).
“Saya chat tidak pernah dibalas. Bukan hanya saya, para kepala dinas hingga ulama banyak yang mengeluh karena bupati sulit dihubungi,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari akurat.co pada Selasa (31/3/26).
Meski demikian, Amir menegaskan tetap bertahan di jabatannya demi menyelesaikan persoalan yang ada.
Insiden perseteruan terbuka antarpimpinan daerah ini memantik reaksi pengamat dan masyarakat luas. Aktivis local Rasiani Amelia menilai insiden tersebut mencederai marwah pemimpin. Senada dengan hal itu, pengamat kebijakan publik Sudrajat Maslahat menekankan bahwa seorang pemimpin wajib bijak bertutur kata, mengingat serangan terhadap kehormatan pribadi di depan umum sangat wajar memicu reaksi spontan (Readers.id).
Peristiwa ini pun memunculkan tanda tanya besar mengenai soliditas roda pemerintahan di Kabupaten Lebak ke depannya. Juga berpotensi memengaruhi dinamika internal kinerja kepemimpinan di Kabupaten Lebak.
Penulis: Maryam Ishmah Mumtazah
Proofreader: Nashwa Nadrah