
TANGERANG SELATAN — Langit yang semula tampak muram perlahan menurunkan rintiknya. Satu demi satu tetes air jatuh membasahi halaman dan atap asrama Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Suara langkah kaki mahasiswa yang biasanya memenuhi lorong-lorong kini berpadu dengan ketukan ritmis suara hujan yang terdengar dari balik jendela.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kota Tangerang Selatan diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–100 milimeter sepanjang September 2026, seiring wilayah Banten yang masih berada dalam periode transisi kemarau. (https://bmkg.go.id)
Di tengah teriknya cuaca yang sempat mendominasi, hujan yang turun akhir-akhir ini membawa perubahan menyegarkan pada suasana asrama. Udara gerah perlahan berganti sejuk, diiringi aroma khas tanah basah yang memenuhi udara. Sebagian mahasiswa memilih berteduh di dalam kamar, menikmati jeda sejenak sembari melepas penat atau menyelesaikan tugas perkuliahan.
Bagi mahasiswa yang tinggal di asrama, hujan bukan sekadar fenomena perubahan cuaca belaka. Kehadiran hujan ini menjadi warna baru di tengah padatnya rutinitas harian mulai dari perkuliahan umum, kegiatan keasramaan, setoran hafalan Al-Qur’an, hingga tugas-tugas akademis yang menumpuk. Hujan seolah memberikan jeda bernapas bagi para mahasiswi untuk sejenak melambatkan tempo aktivitas.
Zuhudia Arroyani, mahasiswi program studi Pendidikan Agama Islam semester 3, mengungkapkan rasa syukurnya atas rintik hujan yang telah lama dinanti ini. Ia merasakan perubahan suasana asrama yang menjadi jauh lebih tenang dan nyaman dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Rasanya senang sih, apalagi sudah lama tidak hujan. Udara jadi lebih sejuk dan suasananya jauh lebih nyaman,” ujar Zuhudia.
Suasana sejuk tersebut turut memengaruhi dinamika aktivitas di dalam asrama. Suasana lorong yang biasanya riuh perlahan mereda, berganti dengan aktivitas tenang dari balik pintu kamar. Banyak mahasiswi memanfaatkan momen ini untuk menderes (mengulang) hafalan Al-Qur’an, membaca buku, mengerjakan tugas, atau sekadar beristirahat dengan latar belakang alunan suara hujan.
“Suasananya sejuk dan bikin lebih fokus belajar,” tambah Zuhudia.
Meski demikian, suasana nyaman yang dibawa hujan tidak selalu berbanding lurus dengan kelancaran belajar. Bagi Zuhudia, terpaan udara dingin dan ketukan rintik hujan tak jarang justru memancing rasa mengantuk.
“Tergantung sih, tapi biasanya malah ngantuk kalau hujan,” ujarnya diiringi tawa ringan.
Rasa kantuk kala hujan menjadi hal yang juga dirasakan Zuhudia. Di tengah suasana yang lebih tenang, tanggung jawab akademis dan target hafalan tetap menuntut untuk diselesaikan.
Datangnya hujan di masa pancaroba ini menjadi penanda penting untuk lebih menjaga kondisi tubuh. Menurut data Kementerian Kesehatan RI (kemkes.go.id), perubahan suhu dan kelembaban yang mendadak saat pergantian musim kerap memicu penurunan daya tahan tubuh, sehingga rentan terhadap penularan penyakit seperti flu, batuk, hingga Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Oleh karena itu, menjaga pola makan, porsi istirahat, serta asupan air putih menjadi kunci bagi para mahasiswi agar tetap fit di tengah padatnya aktivitas asrama. (https://kemkes.go.id)
Hujan sore itu menghadirkan ruang kontemplasi di tengah padatnya agenda asrama. Di balik ketukan rintiknya, para mahasiswi menemukan momen untuk belajar, berbenah, atau sekadar menikmati keheningan yang tersisa.
Penulis: Kamila Nurisa’adah (anggota magang)
Proofreader: Firda Husnia Rahmah (anggota magang)