
Jika kita kembali membuka lembaran sejarah, Indonesia tak pernah kekurangan sosok srikandi dalam proses kemerdekaannya. Setidaknya, ada 17 perempuan hebat Indonesia yang telah secara resmi menyandang gelar pahlawan nasional. Mulai Cut Nyak Dhien dari bumi Aceh hingga Martha Christina Tiahahu di Maluku.
Namun, satu nama bergaung paling nyaring di antara lainnya. Ia menjadi satu-satunya pahlawan perempuan yang hari lahirnya diperingati secara nasional, bahkan namanya diabadikan dalam lagu.
Kartini.
Mendengar Raden Ajeng Kartini disebutkan, emansipasi wanita adalah hal yang paling lekat dengannya. Namun, bila ditelusuri, pahlawan perempuan lainnya pun tak sedikit yang menggencarkan hal serupa. Tercatat, Sakola Istri telah lebih dulu didirikan Dewi Sartika pada 1904. Sekolah untuk memajukan wanita itu bahkan telah menyebar di tahun 1912. Sementara sekolah atas nama Kartini baru berdiri pada tahun yang sama.
Kartini juga bukan sosok yang berdiri di barisan depan medan perang seperti Laksamana Malahayati. Beliau tidak pula mendirikan organisasi kewanitaan secara formal layaknya Maria Walanda Maramis dengan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Turunnya).
Lantas, mengapa nama Kartini menggema di seluruh Nusantara?
Kartini adalah wanita Jepara yang lahir dalam keluarga bangsawan. Setelah mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS), Kartini harus dihadapkan pada tradisi pingitan di usia 12 tahun. Namun, keterbatasan itu justru menjadi titik awal perjuangannya.
Beliau menghabiskan waktunya dengan membaca banyak literatur dan sering mempertanyakan hal-hal di sekelilingnya. Dari buku-buku tersebut, Kartini mulai melakukan perlawanan yang senyap namun berdampak besar, yaitu pemberontakan pemikiran. ia menyuarakan kritik tajam melalui surat-surat kepada rekan-rekannya di Belanda. Suratnya berhasil mengkritik kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan gender dengan pemikiran yang tajam.
Dengan dukungan suaminya, Kartini mendirikan sekolah khusus perempuan untuk warga pribumi. Sekolah kecil tersebut berada di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang. Sekolah ini tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan keberanian berpikir. Beliau ingin perempuan memiliki kecerdasan intelektual yang setara dengan laki-laki agar bisa menjadi mitra berpikir dan pendidik pertama bagi generasi bangsa. Perempuan tidak hanya boleh terampil di dapur, tapi juga harus berdaulat di kepala.
Di balik kegigihannya, Kartini sendiri menyimpan kisah tragis. Goenawan Mohamad menyebutnya tokoh epik sekaligus tragis. Kartini menggugat ketidakadilan, sekaligus menjadi korban atasnya. Kartini mengkritik praktik poligami, padahal dirinya adalah anak dengan dua ibu, sekaligus menjadi istri dari suami yang telah memiliki tiga istri sebelumnya. Kartini wafat di usia 25 tahun tanpa sempat merasakan peran sebagai ibu.
Sepeninggalnya, surat-surat Kartini dikumpulkan oleh J.H. Abendanon dan dibukukan. Karya tersebut diberi judul Door Duisternis Tot Licht yang artinya Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini kemudian menjadi salah satu pemantik kesadaran nasional. Pemikiran-pemikiran Kartini terekam abadi dan terus relevan untuk digunakan pada masa kini.
Keluarga Van Deventer juga mendirikan sekolah perempuan atas nama Kartini melalui Yayasan Kartini, sebagai bentuk penghormatan atas pemikirannya.
Maka, tak heran, nama Raden Ajeng Kartini ditetapkan menjadi pahlawan Nasional sesuai dengan ketetapan Presiden RI, Ir. Soekarno, melalui surat No. 108 Tahun 1964 tertanggal 2 Mei 1964. Dalam surat yang sama, hari kelahirannya, tanggal 21 April ditetapkan menjadi hari Kartini.
Dalam keterbatasan, Kartini tidak diam. Dalam keterbatasan akses, ia berani mengungkap apa yang selama ini tertutup rapat. Ia mungkin tidak turun langsung ke medan perang, namun penanya aktif memerdekakan cara berpikir perempuan Indonesia hingga hari ini.
Selamat Hari Kartini, terus semangat menyemai benih pemikirannya.
Penulis: Maryam Ishmah Mumtazah
Proofreader: Rijwa Nida Hubaiba