
Tumpukan sampah rumah tangga memenuhi sebagian aliran Sungai Cikemang di Desa Kalong II, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor. Kantong plastik, popok sekali pakai, sisa makanan, sampai dedaunan bercampur di sungai cikemang. Di beberapa titik tampak bekas pembakaran sampah, sementara aroma sampah tercium dari lokasi pembuangan.
Pemandangan itu telah berlangsung selama bertahun-tahun. Berdasarkan pantauan di lapangan, sebagian warga masih memanfaatkan aliran Sungai Cikemang untuk mencuci pakaian. Ironisnya, di beberapa titik lain, tumpukan sampah rumah tangga masih memenuhi bantaran dan aliran sungai.
Ketua Rukun Tetangga (RT) 05, Asep, mengatakan persoalan itu telah terjadi sejak lama. Menurutnya, belum tersedianya tempat penampungan maupun layanan pengangkutan sampah membuat sebagian warga tidak memiliki banyak pilihan selain membuang sampah ke sungai cikemang.
“Sudah dari dulu. Memang dari dulu warga membuang sampah di situ. Soalnya warga juga bingung mau buang sampah ke mana. Kalau ada tempat pembuangan, pasti warga bisa diarahkan supaya tidak membuang ke sungai,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (14/7/2026).

Persoalan sampah, lanjutnya, beberapa kali dibahas dalam rapat antar warga. Hasilnya, sempat ada pemasangan papan larangan membuang sampah dan program pemilihan sampah plastik yang diinisiasi oleh pihak kelurahan. Tapi, upaya tersebut belum berjalan optimal karena belum tersedia sistem pengelolaan maupun pengangkutan sampah di wilayah tersebut. Akibatnya, sebagian warga memilih membakar sampah untuk mengurangi tumpukan. Ketua RT mengakui cara tersebut bukan solusi, karena berpotensi menimbulkan dampak bagi kesehatan.
“Warga (yang) buang sampah, ada yang membakar di tempatnya, ada juga yang tetap membuang ke sungai. Tapi kondisi rumah di sini sempit dan berdempetan. Di lokasi pembuangan (sungai cikemang) juga kadang sampah dibakar untuk mengurangi tumpukan. Meskipun asap pembakaran sampah tidak baik untuk kesehatan,” katanya.
Kondisi itu juga dikeluhkan warga. Ulan (33), warga yang rumahnya berada di dekat pembuangan sampah, mengaku kebiasaan membuang sampah ke sungai telah berlangsung sejak generasi sebelumnya.
“Warga buang sampah ke sungai itu sudah lama banget, dari zaman nenek dulu. Soalnya, tidak ada tempat pembuangan sampah lagi selain ke sungai,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat, (17/07/2026).
Menurutnya, tumpukan sampah menyebabkan beberapa masalah lingkungan, seperti banyaknya nyamuk, bau yang muncul dari lokasi pembuangan, serta pencemaran sungai. Sehingga, lingkungan menjadi kurang nyaman.
Senada dengan itu, warga lainnya, Anih (49), berharap tersedia layanan pengangkutan sampah agar masyarakat tidak lagi bergantung pada sungai sebagai tempat pembuangan.
“Maunya ada pembersihan, ada yang ngambil gitu gerobak atau mobil untuk angkut sampahnya,” katanya saat diwawancarai, Kamis, (16/07/2026).
Praktik pembakaran sampah yang masih dilakukan sebagian warga juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Menurut dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Benedikta Diah Saraswati, SSi, MBiomed, pembakaran sampah, terutama plastik, dapat menghasilkan zat beracun seperti dioksin dan furan yang bersifat karsinogenik (pemicu kanker). Asap hasil pembakaran juga mengandung partikel halus yang dapat terhirup dan meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan (ipb.ac.id).
Temuan tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Kesehatan Tambusai, Nethania Adine Subagio (2026), Berdasarkan kajian terhadap 15 penelitian, pembakaran sampah terbuka secara konsisten meningkatkan konsentrasi polutan seperti PM2.5, PM10, karbon monoksida (CO), karbon hitam, senyawa organik volatil (VOC), logam berat, dioksin, dan furan. Paparan polutan tersebut dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan pernapasan, penyakit kardiovaskular, serta dampak kesehatan lainnya.
Puluhan tahun berlalu, namun persoalan ini belum juga terselesaikan. Warga berharap hadirnya sistem pengelolaan sampah yang memadai agar Sungai Cikemang tak lagi menjadi tempat pembuangan sampah.
Penulis: Suci Sutiani
Proofreader: Rijwa Nida Hubaiba